Pandemi COVID-19 menempatkan kehamilan sebagai salah satu kondisi klinis yang menantang. Sejak awal pandemi, ibu hamil diketahui memiliki risiko lebih tinggi terhadap luaran maternal dan neonatal yang buruk, termasuk peningkatan risiko perawatan intensif dan komplikasi pernapasan. Namun, di sisi lain bukti ilmiah mengenai keamanan dan efektivitas terapi COVID-19 pada kehamilan berkembang jauh lebih lambat dibandingkan populasi umum. Kesenjangan inilah yang tercermin dalam pola penggunaan obat selama pandemi.
Sebuah meta-analisis internasional berbasis individual participant data yang melibatkan hampir 25.000 ibu hamil dengan COVID-19 dari 27 negara memberikan gambaran komprehensif mengenai praktik penggunaan obat selama periode 2020–2022. Studi ini tidak hanya mendeskripsikan jenis obat yang digunakan, tetapi juga menyoroti bagaimana keputusan klinis sangat dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit, status rawat inap, usia kehamilan, serta variasi sistem layanan kesehatan antarnegara.
Hasil utama menunjukkan bahwa hanya sekitar sepertiga ibu hamil dengan COVID-19 yang menerima terapi farmakologis spesifik. Heparin merupakan obat yang paling sering digunakan, dengan prevalensi sekitar 35%, diikuti antibiotik (hampir 10%) dan kortikosteroid (sekitar 5%). Sementara itu, penggunaan antivirus, antimalaria, plasma konvalesen, imunomodulator, dan antibodi monoklonal relatif sangat rendah. Pola ini mencerminkan kehati-hatian klinisi dalam meresepkan obat pada kehamilan, terutama pada fase awal pandemi ketika bukti keamanan masih terbatas.
Perbedaan paling mencolok terlihat antara pasien rawat inap dan non-rawat inap. Ibu hamil yang dirawat karena COVID-19 secara konsisten memiliki prevalensi penggunaan obat yang jauh lebih tinggi. Sebagai contoh, lebih dari setengah pasien rawat inap menerima heparin, sementara pada kelompok non-rawat inap angkanya kurang dari 20%. Pola serupa juga terlihat pada antibiotik, kortikosteroid, dan antivirus. Temuan ini menegaskan bahwa intensitas terapi lebih mencerminkan tingkat keparahan klinis dan kebutuhan layanan rumah sakit dibandingkan sekadar status infeksi SARS-CoV-2.
Aspek penting lainnya adalah variasi penggunaan obat berdasarkan trimester kehamilan. Kortikosteroid, misalnya, sangat jarang digunakan pada trimester pertama, tetapi meningkat signifikan pada trimester kedua dan ketiga. Fenomena ini dapat dipahami sebagai refleksi dari pertimbangan teratogenisitas dan prinsip kehati-hatian pada organogenesis awal, sekaligus meningkatnya penerimaan risiko serta manfaat pada kehamilan lanjut ketika ancaman terhadap ibu dan janin dinilai lebih besar.
Menariknya, studi ini juga mengungkapkan variasi yang sangat luas antarnegara. Negara dengan sistem kesehatan yang lebih mapan dan akses terhadap pedoman internasional cenderung menunjukkan penggunaan obat yang lebih konsisten, sedangkan negara lain memperlihatkan variasi ekstrem, baik penggunaan yang sangat minimal maupun relatif agresif. Variasi ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perbedaan ketersediaan obat, kebijakan nasional, kapasitas rumah sakit, serta pengalaman klinis lokal selama pandemi.
Dari sudut pandang farmakoepidemiologi, temuan ini memberikan pelajaran penting. Rendahnya penggunaan terapi spesifik pada ibu hamil tidak selalu mencerminkan rendahnya kebutuhan klinis, tetapi sering kali merupakan konsekuensi dari keterbatasan bukti dan eksklusi sistematis ibu hamil dari uji klinis. Akibatnya, keputusan terapeutik lebih banyak didasarkan pada ekstrapolasi data populasi umum, pengalaman klinis, dan pertimbangan risiko individual.
Bagi tenaga kesehatan, khususnya di bidang obstetri, penyakit dalam, dan kesehatan ibu-anak, hasil studi ini menegaskan urgensi integrasi ibu hamil dalam penelitian klinis sejak awal munculnya penyakit infeksi baru. Selain itu, diperlukan sistem surveilans penggunaan obat pada kehamilan yang terstruktur dan berkelanjutan, agar praktik klinis dapat dipantau dan disesuaikan secara cepat berbasis data nyata.
Pandemi COVID-19 telah menjadi cermin besar bagi sistem layanan kesehatan global. Pola penggunaan obat pada kehamilan yang terungkap dalam studi ini tidak hanya mencerminkan respons klinis terhadap penyakit baru, tetapi juga menyoroti kesenjangan bukti, akses, dan kebijakan. Pembelajaran ini menjadi modal penting dalam mempersiapkan respons yang lebih adil, aman, dan berbasis bukti bagi ibu hamil pada pandemi berikutnya.
Korespondensi:
Dr. dr. Manggala Pasca Wardhana, Sp.OG, Subs.K.Fm
manggala.pasca@fk.unair.ac.id
Penulis:
Emeline Maisonneuve, Odette De Bruin, Guillaume Favre, Erin Oakley, Jenny Yeon Hee Kim, Fouzia Farooq, Nouf Al-Fadel, Abdulaali Almutairi, Maria del Mar Gil, Irene Fernandez Buhigas, Silvia Visentin, Erich Cosmi, Fernanda Surita, Renato T. Souza, José G. Cecatti, Maria Laura Costa, Jose Sanin-Blair, Jorge E. Tolosa, Eran Hadar, Anna Goncé, Christophe Poncelet, Fabienne Forestier, Thibaud Quibel, Begoña Martinez de Tejada, Béatrice Eggel-Hort, Romina Capoccia Brugger, Daniel Surbek, Luigi Raio, Anda-Petronela Radan, Monya Todesco-Bernasconi, Cécile Monod, Leonard Schäffer, Anett Harnadi, Sayed Hamid Mousavi, Diogo Ayres-de-Campos, Léo Pomar, Joanna Sichitiu, Laurent J. Salomon, Yves Ville, Andrea Papadia, Marie-Claude Rossier, Lavinia Schuler-Faccini, Natalya Goncalves Pereira, Adolfo Etchegaray, Albaro Jose Nieto-Calvache, Michael Geary, Javiera Fuenzalida, Claudia Grawe, Albert I. Ko, Silke Johann, Marco De Santis, Cora Alexandra Voekt, Najeh Hcini, Karin Nielsen-Saines, Charles Garabedian, Loïc Sentilhes, Otto H. May Feuerschuette, Grit Vetter, Manggala Pasca Wardhana, Irida Dajti, Kitty W. M. Bloemenkamp, Satu J. Siiskonen, Emily R. Smith, David Baud, Alice Panchaud, Miriam C. J. M. Sturkenboom
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:





