Telemedisin adalah suatu platform layanan kesehatan yang memanfaatkan teknologi untuk berbagai tujuan diantaranya pemeriksaan awal pasien secara tidak langsung, penegakan diagnosis, pemberian edukasi kepada pasien terkait pengobatan dan/ atau terapi suatu penyakit serta monitoring kesehatan. Menurut World Health Organization (WHO)., telemedisin merupakan suatu metode layanan kesehatan yang diselenggarakan oleh tenaga ahli kesehatan profesional menggunakan ilmu dan teknologi informasi dan komunikasi guna menegakkan diagnosis, terapi, prevensi, evaluasi dan edukasi kesehatan terhadap individu atau suatu komunitas, tanpa menghiraukan jarak dan waktu. Di era pandemi saat COVID-19 sedang memuncak, penggunaan telemedisin dapat menjadi suatu alternatif bagi pasien agar tetap mendapatkan layanan kesehatan, meskipun secara tidak langsung.
Berbagai metode dikembangkan di pusat-pusat layanan kesehatan di berbagai dunia, termasuk penggunaan alat komunikasi satu ataupun multidimensi yang dapat menyampaikan suara, gambar maupun keduanya, baik secara sinkronus maupun asinkronus.
Tim peneliti kami menganalisis dan menyusun suatu tinjauan pustaka sistematik mengenai variasi penggunaan telemedisin selama masa pandemi dan mendapatkan bahwa telemedisin tidak hanya dimanfaatkan dalam manajemen penyakit-penyakit terkait COVID-19, namun juga non-COVID-19. Efiesiensi dan efektifitas layanan kesehatan melalui telemedisin dapat dibandingkan dengan layanan kesehatan secara langsung, di mana pasien dan tenaga kesehatan dapat berinteraksi di luar jaringan internet, meskipun beberapa kasus tidak dapat dilakukan manajemen secara telemedisin, namun secara umum pasien merasakan efek positif telemedisin semasa pandemi. Ketentuan menjaga jarak dan menghindari kerumunan dapat ditegakkan melalui layanan telemedisin, meskipun beberapa aspek dapat memghambat kelancaran telemedisin termasuk ketersediaan sarana, prasarana, literasi digital dan akses telepon serta internet, dan biaya pengadaannya. Berdasarkan metodenya, maka telemedisin tersebut dapat dilakukan secara tatap muka tidak langsung melalui telepon seluler, panggilan video/ suara, baik real-time ataupun delayed.
Dari studi kami berdasarkan 11 sumber data ilmiah termasuk SCOPUS, Web of Science (ESCI), and PubMed (PMC and Medline), menggunakaan alur sesuai dengan diagram PRISMA dari periode 1 Januari 2020 hingg 31 Desember 2021 menunujukkan adanya penggunaan telemedisin di hampir seluruh belahan dunia termasuk Asia, Australia, Eropa, Amerika dan Afrika dengan total studi sebanyak 2.031.242, dan setelah difilter sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, 17 studi didapatkan. Dari 17 studi tersebut 3 studi melaporkan penggunaan telemedisin pada kasus terkait COVID-19 sedangkan sisanya pada kasus-kasus penyakit non-COVID-19 termasuk penyakit saluran pernapasan, pencernaan dan sistim saraf. Pada studi tersebut, telemedisin digunakan sebagai sarana untuk admisi pasien, mengambil anamnesis, penegakan diagnosis, layanan terapi farmaseutikal dna non-farmaseutikal, monitoring, edukasi kesehatan serta evaluasi. Metode yang digunakan dapat meliputi pengembangan piranti lunak dan keras yang spesifik untuk suatu pusat kesehatan, maupun penggunaan alat komunikasi umum termasuk telepin seluler dan alat komunikasi digital lainnya. Sebagian besar pasien berpendapat positif terhadap penggunaan telemedisin di era pandemi, meskipun kurangnya kontak langsung dan interaksi tatap muka dengan dokter dan tenaga kesehatan lain sangat dirasakan. Penelitian lanjutan diperlukan guna mempelajari lebih lanjut mengenai penerapan dan pengembangan telemedisin, utamamya di masa setelah pandemi guna memberikan manfaat berkelanjutan bagi semua pihak terkait.
Penulis: Prof. Viskasari P. Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K)., Ph.D.
Hasil penelitian dapat dibaca lebih lanjut di:
Aditya, D.M.N., Kalanjati, V.P., Pamungkas, D.B.B., Syamhadi, M.R., Wibowo, J.A.S., Soetanto, K.M. 2022. The use of telemedicine in COVID-19 pandemic era: a systematic review. Bali Medical Journal 11(3): 1987-1995. DOI: 10.15562/bmj.v11i3.3594
https://balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/3594





