ARDS pada anak mencerminkan kegagalan pertukaran gas yang berat akibat kerusakan alveolo-kapiler yang luas. Pada sebagian kecil kasus, terutama pada bayi dan balita, infeksi paru dapat berkembang sangat cepat sehingga menimbulkan respons inflamasi yang tidak terkendali dan mengarah pada ARDS. Peningkatan tekanan vaskular pulmonal yang menyertai kondisi ini memberikan beban berlebih pada ventrikel kanan hingga terjadi acute cor pulmonale. Disfungsi paru dan jantung secara simultan menciptakan keadaan kritis di mana oksigenasi dan perfusi sistemik tidak dapat dipertahankan tanpa dukungan kardiopulmoner tingkat lanjut.
Pada kasus seorang anak laki-laki usia 18 bulan dengan infeksi influenza B yang berkembang menjadi ARDS dan acute cor pulmonale, tim klinis menghadapi kegagalan pernapasan dan sirkulasi yang tidak lagi responsif terhadap penanganan konvensional. Dalam kondisi seperti ini, ECMO jenis VA (veno-arterial) menjadi intervensi yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. ECMO mengalirkan darah keluar tubuh untuk dioksigenasi melalui mesin dan kemudian mengembalikannya ke sirkulasi, sehingga fungsi paru dan jantung dapat digantikan sementara. Tujuan utamanya bukan untuk menyembuhkan penyakit secara langsung, tetapi untuk memberikan waktu bagi proses perbaikan organ dan penanganan infeksi serta peradangan. Dengan dasar tersebut, penggunaan VA-ECMO pada kasus ini sepenuhnya sesuai dengan indikasi klinis.
Namun, perjalanan kasus menunjukkan bahwa ketepatan indikasi saja tidak cukup menentukan keberhasilan ECMO. Salah satu faktor penentu adalah waktu pemasangan ECMO. Pada kasus ini, ECMO baru dimulai enam hari setelah intubasi, ketika kondisi penyakit sudah berada pada fase lanjut. Secara fisiologis, semakin lama tubuh mengalami hipoksia berat dan disfungsi organ multipel sebelum ECMO diberikan, semakin kecil cadangan organ untuk kembali pulih—meskipun oksigenasi melalui mesin dapat diperbaiki. Dengan kata lain, ECMO tetap efektif, tetapi hanya bila dipasang dalam jendela waktu terapeutik yang masih memungkinkan pemulihan organ.
Selain faktor waktu, kesiapan fasilitas kesehatan juga berperan besar terhadap hasil akhir. Pemasangan ECMO idealnya dilakukan melalui kanulasi perifer; namun, karena ukuran kanula untuk bayi tidak tersedia, tim harus melakukan sternotomi untuk kanulasi sentral. Pendekatan ini tetap benar secara klinis, tetapi membawa risiko perdarahan yang jauh lebih tinggi. Setelah ECMO berjalan, pasien mengalami perdarahan masif dari area operasi dan saluran napas. Dilema klasik ECMO kemudian muncul: tanpa obat pengencer darah ada risiko bekuan darah pada sirkuit mesin, tetapi dengan obat pengencer darah perdarahan semakin berat. Penanganan berulang untuk menyeimbangkan hemostasis dan risiko pembekuan menjadi tantangan utama sepanjang perawatan.
Ketidakstabilan koagulasi kemudian menyebabkan rangkaian perburukan sistemik. Perdarahan yang terus berlangsung memerlukan transfusi darah berulang, sementara infeksi sekunder yang muncul selama perawatan dan proses inflamasi yang berkembang lebih berat juga semakin membebani tubuh. Kombinasi ini secara bertahap menurunkan kemampuan fisiologis pasien untuk mempertahankan keseimbangan hemostasis maupun fungsi imun. Pada saat fungsi oksigenator ECMO mulai menurun maka tubuh tidak mampu lagi mempertahankan kecukupan oksigen untuk menjamin kelangsungan fungsi organ.
Dari kasus ini, pelajaran terpenting bukan pada kegagalan ECMO untuk menyelamatkan pasien, namun menekankan bahwa ECMO akan memberi manfaat yangoptimal hanya bila dua faktor terpenuhi secara bersamaan, yaitu:
- ECMO dipasang lebih dini sebelum terjadi kegagalan multiorgan, dan
- Sistem kesehatan nasional maupun institusional mampu mendukung terapi ECMO, termasuk ketersediaan peralatan yang lengkap termasuk untuk semua kelompok usia pediatri, tenaga berpengalaman, sistem kerja yang mendukang serta monitoring koagulasi yang baik.
Kasus ini menegaskan bahwa VA-ECMO merupakan modalitas penting dalam penatalaksanaan ARDS pediatrik dengan acute cor pulmonale, namun efektivitasnya sangat ditentukan oleh waktu inisiasi dan kesiapan sistem layanan. Optimalisasi luaran tidak hanya memerlukan ketepatan indikasi, tetapi juga kemampuan pusat layanan untuk memberikan intervensi secara dini, menyediakan peralatan pediatrik yang memadai, memastikan ketersediaan tenaga klinis terlatih, serta menjalankan pemantauan koagulasi secara konsisten selama terapi berlangsung. Peningkatan kapasitas institusional dan jejaring rujukan antar pusat rawat intensif merupakan langkah strategis untuk memperkuat keberhasilan ECMO di negara berkembang. Dengan demikian, ECMO dapat berperan bukan sekadar sebagai teknologi penyelamatan terakhir, tetapi sebagai bagian integral dari tata laksana komprehensif ARDS pediatrik berbasis bukti.
Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://criticalcareshock.com/2024/12/261697
Reza Wibowo C, Pujo Semedi B. Use of VA-ECMO for acute cor pulmonale in an infant ARDS: Chal-lenging management in low-and middle-income country, a case report. Vol. 27, Crit Care Shock. 2024.





