Universitas Airlangga Official Website

Pengmas FKM Gaungkan Semangat Peduli Lingkungan Lewat Program Pemilahan Sampah

Pengabdian masyarakat dosen FKM bersama mahasiswa dan alumni (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pekerjaan memilah sampah membawa manfaat besar bagi lingkungan. Namun, bagi para pemilah sampah sendiri, aktivitas ini tidak lepas dari berbagai risiko kesehatan dan keselamatan. Setiap hari mereka bersentuhan langsung dengan sampah anorganik. Seperti plastik, logam, dan kaca yang sering kali tercampur dengan debu, kotoran, bahkan limbah berbahaya. Debu dan partikel halus yang beterbangan dapat terhirup dan menyebabkan gangguan pernapasan. Sementara paparan bahan kimia dari limbah rumah tangga atau industri dapat menimbulkan iritasi kulit maupun penyakit jangka panjang. Kondisi lingkungan kerja yang terbuka dan tidak steril semakin meningkatkan potensi risiko tersebut.

Lokasi pengabdian masyarakat pada Sabtu (6/9/2025) dengan mengusung tema “Alat Peraga Safety Alat Pelindung Diri (APD) Pemilah Sampah di Lingkungan Indoor Pollution” yaitu di tempat pengepul CV Arista Langgeng, Sidoarjo. Dalam pengmas tersebut, hadir sebanyak 33 pekerja pemilah sampah,  29 orang (87,9%) berasal dari wilayah Kabupaten Sidoarjo. Sementara itu, 4 orang (12,1%) berasal dari luar Kabupaten Sidoarjo. Sebagian besar pekerja pemilah sampah merupakan masyarakat lokal Sidoarjo yang terlibat aktif dalam kegiatan, dengan sebagian kecil berasal dari luar daerah. Acara pengabdian masyarakat diketuai oleh Assoc. Prof Dr R Azizah dan melibatkan para alumni, mahasiswa S1 dan S2 Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) sekitar 12 orang.

Para pemilah sampah anorganik seperti plastik, kaleng, kaca, dan logam adalah pahlawan lingkungan yang sering luput dari sorotan. Dengan ketekunan dan kerja keras, mereka memisahkan limbah-limbah yang sulit terurai agar dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali. Aktivitas ini bukan hanya sekadar mencari penghasilan. Tetapi juga menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap bumi yang kian tercemar oleh sampah anorganik. Setiap botol plastik yang terkumpul dan setiap kaleng yang terpisah adalah langkah kecil namun berarti dalam mengurangi beban tempat pembuangan akhir serta menekan polusi lingkungan.

Di balik pekerjaan yang tampak sederhana, tersimpan semangat besar untuk menjaga kelestarian alam. Para pemilah ini memahami bahwa plastik dan logam yang terbuang sembarangan dapat mencemari tanah, air, bahkan rantai makanan manusia. Mereka adalah contoh nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Dari tumpukan sampah yang mereka pilah, lahir harapan untuk bumi yang lebih bersih, sehat, dan lestari. Dengan tangan mereka, limbah yang dianggap tak berguna disulap menjadi sumber daya baru yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Pemilah sampah juga kerap menghadapi bahaya fisik seperti tertusuk pecahan kaca, kaleng tajam, atau benda logam berkarat yang dapat menyebabkan luka serius dan infeksi. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri (APD). Seperti sarung tangan tebal, masker, sepatu bot, dan pakaian kerja tertutup menjadi keharusan bagi mereka. APD tidak hanya berfungsi melindungi tubuh dari cedera dan penyakit, tetapi juga menjadi simbol profesionalisme dan kesadaran akan keselamatan kerja. Dengan perlindungan yang memadai, para pemilah sampah dapat bekerja lebih aman, sehat, dan terus berkontribusi sebagai pejuang lingkungan yang berperan penting dalam menjaga kebersihan dan keberlanjutan bumi.

Tim civitas academica FKM UNAIR melakukan analisis dari hasil kuesioner yang ditanyakan ke para pemilah sampah, bahwa ketersediaan dan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) memiliki peran penting dalam menurunkan risiko penyakit pada pekerja pemilah sampah di sektor informal.

“Pentingnya integrasi antara penyediaan sarana prasarana, keselamatan dan pembentukan perilaku kerja yang benar, APD bukan sekadar alat pelindung. Tapi juga simbol kepedulian terhadap keselamatan dan kesehatan diri sendiri. Sayangi lingkungan, sayangi diri sendiri,” ujarnya.

Kegiatan memilah sampah berkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 12, yaitu “Responsible Consumption and Production” atau “Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.” Tujuan SDGs nomor 12 menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara efisien, pengurangan limbah, serta penerapan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Memilah sampah, merupakan salah satu bentuk nyata penerapan prinsip ini. Dengan memilah sampah sejak dari sumbernya, masyarakat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, meningkatkan daur ulang, dan meminimalkan pencemaran lingkungan; SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), karena lingkungan yang bersih mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan masyarakat; SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), karena pengelolaan sampah yang baik menciptakan kota yang lebih bersih dan layak huni; SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), karena pengurangan timbunan sampah membantu menurunkan emisi gas rumah kaca dari proses pembusukan dan pembakaran limbah.

Dengan demikian, memilah sampah bukan hanya tindakan sederhana, tetapi juga bagian penting dari upaya global untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan menjaga kelestarian bumi bagi generasi mendatang.

Penulis: Assoc. Prof Dr R Azizah

Editor: Yulia Rohmawati