UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menyelenggarakan serangkaian kegiatan akademik dan pengabdian masyarakat di Malaysia pada awal Desember 2025. Rangkaian kegiatan ini mencakup kunjungan ke Pusat Perubatan Universiti Malaya (PPUM) Kuala Lumpur, riset mengenai kondisi anak pekerja migran Indonesia, serta sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Selangor. Misi ini menjadi bukti nyata komitmen FIKKIA dalam memperluas wawasan akademik mahasiswa sekaligus memberikan dampak sosial langsung kepada komunitas Indonesia di luar negeri.
Belajar Langsung Program Pencegahan Stunting
Pada Senin (1/12/2025) delegasi FIKKIA UNAIR melakukan kunjungan akademik ke Pusat Perubatan Universiti Malaya (PPUM) Kuala Lumpur. Pertemuan dua institusi ini menjadi kesempatan strategis untuk saling berbagi program unggulan dan membuka peluang kolaborasi lintas negara. Mahasiswa memperoleh pemahaman langsung mengenai pengelolaan rumah sakit, penerapan intervensi gizi, serta pendekatan pelayanan berbasis bukti yang diterapkan di PPUM.

Topik menarik dipaparkan oleh Dr Megat Mohamad Amirul Amzar, pakar kedokteran keluarga PPUM. Ia menjelaskan program penanganan stunting melalui intervensi gizi berbasis protein tinggi, yakni pemberian telur rebus dan susu kepada keluarga berpendapatan rendah. Terutama ibu hamil dan anak balita berisiko. Program ini berjalan di bawah bendera HOPE@PPUM, sebuah kegiatan community outreach yang meliputi pemeriksaan kesehatan, edukasi gizi, dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Diskusi yang berlangsung aktif mendorong mahasiswa untuk membandingkan program HOPE@PPUM dengan Program Makanan Bergizi (MBG) di Indonesia. Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr. Megat menegaskan bahwa fokus utama program adalah mendorong pertumbuhan optimal anak dengan memilih pangan tinggi protein. FIKKIA UNAIR pun turut mempresentasikan rencana program pengabdian masyarakat yang akan terlaksana di Sanggar Bimbingan (SB) di bawah naungan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Meliputi edukasi kesehatan dasar dan pemetaan masalah kesehatan komunitas.
Realitas Hak Anak Migran di Malaysia yang Terabaikan
Di balik kontribusi besar Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebagai penyumbang devisa terbesar kedua negara dengan Malaysia sebagai tujuan utama. Menyerap 209,5 ribu atau 46,3% PMI berdasarkan data BPS 2024 terdapat realita yang kerap luput dari perhatian: nasib anak-anak yang menyertai atau ditinggalkan oleh orang tua mereka.
Anak-anak tanpa kewarganegaraan termasuk anak dari pekerja migran yang lahir di Malaysia tanpa dokumen resmi menghadapi hambatan berlapis. Meski Malaysia memiliki kebijakan Zero Reject Policy yang memberi hak pendidikan kepada anak tanpa kewarganegaraan, kenyataan di lapangan menunjukkan mereka masih bergantung pada pendidikan informal tanpa kurikulum standar dan akreditasi. Akses terhadap layanan kesehatan pun menjadi tantangan serius: biaya medis warga asing di fasilitas publik terus naik, asuransi wajib tidak mencakup migran tanpa dokumen, dan hambatan bahasa berpotensi memicu kesalahan tindakan medis.
Kondisi isolasi sosial yang dialami anak-anak ini juga meningkatkan risiko masalah psikologis. Seperti depresi dan kecemasan, yang pada akhirnya menghambat perkembangan sosial dan emosional mereka. Kajian ini menjadi landasan penting bagi FIKKIA UNAIR dalam merancang intervensi yang tepat sasaran bagi komunitas PMI di Malaysia.
Tumbuhkan Kebiasaan Hidup Sehat Sejak Dini
Merespons realita tersebut, mahasiswa FIKKIA UNAIR turun langsung menggelar sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi anak-anak PMI berusia 8 –13 tahun di Selangor, Malaysia, pada Senin (02/12/2025) dan Jumat (05/12/2025). Kegiatan ini diikuti delapan mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat, dua mahasiswa Prodi Kedokteran Umum, dan didampingi Jayanti Dian Eka Sari, S.KM., M.Kes. dan Bagas Abdillah, S.KM., M.Sc.
Materi edukasi mencakup personal hygiene secara menyeluruh: cara mandi yang benar, cuci tangan dengan sabun sesuai anjuran WHO, menggosok gigi secara rutin, menjaga kebersihan tubuh dan pakaian, hingga pengenalan dasar kesehatan reproduksi sesuai usia anak. Mengingat anak-anak PMI kerap tinggal di lingkungan dengan sanitasi terbatas, pemahaman akan kebersihan diri menjadi benteng pertama melawan risiko infeksi dan penyakit.
Antusiasme anak-anak yang aktif bertanya dan mengikuti praktik langsung disambut hangat oleh para mahasiswa. Para guru sanggar pun menyampaikan apresiasi besar, berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan secara berkelanjutan. Program ini selaras dengan tiga tujuan SDGs: Tujuan ke-3 (Good Health and Well-being), Tujuan ke-4 (Quality Education), dan Tujuan ke-17 (Partnerships for the Goals).
Rangkaian kegiatan FIKKIA UNAIR di Malaysia ini membuktikan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti di ruang kuliah. Melalui kombinasi kunjungan akademik, kajian sosial, dan pengabdian masyarakat langsung, mahasiswa mendapat pengalaman lintas budaya yang berharga sekaligus memperkuat jejaring antara UNAIR dan komunitas Indonesia di mancanegara. Ke depannya, kolaborasi dengan PPUM dan komunitas PMI harapannya terus berlanjut demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, di dalam maupun di luar negeri.
Penulis: Davina Bilqis, Mahasiswa FIKKIA





