Universitas Airlangga Official Website

Penilaian Ultrasonografi Telemedicine untuk Spektrum Plasenta Akreta

Ilustrasi USG

Penanganan pasien dengan spektrum plasenta akreta (PAS) di pusat dengan tim multidisiplin yang berpengalaman (MDT) dapat mengoptimalkan hasil. Namun, hingga setengah dari pasien baru didiagnosis PAS saat persalinan dan kemungkinan ditangani di luar pusat-pusat khusus tersebut. Meskipun tanda-tanda ultrasonografi yang berkaitan dengan kemungkinan tinggi PAS telah dikenal luas, serta deteksi sonografi di pusat-pusat khusus sangat akurat, kasus PAS cukup jarang sehingga pelatihan langsung bagi sonografer garis depan terbatas, dan kesalahan positif maupun negatif dalam diagnosis tetap umum terjadi di seluruh dunia. Dampak salah diagnosis terhadap hasil maternal dan neonatal serta penggunaan sumber daya lebih terasa di negara dengan sumber daya terbatas, terutama di negara berpendapatan menengah (MIC) di mana tingkat persalinan sesar dan fertilitas tinggi. Banyak penyedia layanan tidak memiliki akses ke ahli lokal untuk pendapat kedua, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah (LMIC). Bahkan di negara berpendapatan tinggi (HIC), keahlian sering hanya tersedia di rumah sakit metropolitan besar dan pusat akademik. Di HIC seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Australia, hambatan geografis menciptakan “gurun perawatan maternitas”. Selain itu, sonografer dan dokter yang tidak melakukan operasi PAS mungkin tidak menerima umpan balik dari tim bedah, sehingga membatasi peningkatan berkelanjutan dalam kinerja prognostik.

Ultrasonografi antenatal memiliki potensi untuk mengidentifikasi lokasi (topografi) perubahan pada uteroplasenta yang terkait dengan PAS, sehingga memungkinkan tim menyesuaikan penanganan dan meminimalkan komplikasi intraoperatif. Lebih dari 95% pasien PAS memiliki plasenta yang letaknya rendah atau previa, yang membutuhkan sonografi transvaginal (TVS) untuk mengevaluasi lokasi plasenta yang tepat dan jaraknya dengan serviks uterus untuk perencanaan bedah. Telemedicine telah banyak digunakan untuk memperluas akses ke perawatan selama pandemi COVID-19 dan berpotensi lebih luas untuk perawatan dan konsultasi pasien jarak jauh. Telekonsultasi secara efektif menghilangkan hambatan geografis dan berpotensi memberikan dukungan tepat waktu kepada penyedia layanan obstetri yang bekerja di sistem kesehatan dengan sumber daya terbatas. Tujuan dari studi ini adalah mengevaluasi aspek praktis penggunaan telemedicine untuk evaluasi praoperasi pasien dengan kemungkinan tinggi PAS saat persalinan. Telekonsultasi gambar jarak jauh menyediakan penentuan tahapan prenatal yang akurat pada sebagian besar pasien yang berisiko PAS. Telekonsultasi merupakan strategi yang layak untuk meningkatkan pencitraan prenatal, perencanaan penanganan, dan panduan untuk tim lokal di tempat dengan sumber daya kesehatan yang terbatas.

Penulis: Rozi Aditya Aryananda, dr., SpOG