Salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi di Indonesia saat ini adalah kehilangan gigi. Kehilangan gigi (edentulous) adalah suatu keadaan dimana gigi hilang atau terlepas dari soketnya atau menyebabkan gigi lawannya kehilangan perlekatan. Kehilangan gigi akan menyebabkan penurunan tulang alveolar, migrasi gigi samping dan dapat mempengaruhi jaringan pendukung dalam menerima restorasi prostetik yang adekuat. Kehilangan gigi juga menjadi penyebab utama seseorang enggan tersenyum dan tertawa. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi kehilangan gigi di Indonesia sebesar 19%, dengan persentase tertinggi pada usia di atas 65 tahun (30,6%), diikuti oleh usia 55–64 tahun (29%).
Gigi hilang yang tidak tergantikan dapat menyebabkan berbagai masalah rongga mulut. Kehilangan gigi dapat memiliki efek substansial pada emosi serta fungsi kesehatan dan mulut. Kurangnya gigi dapat memengaruhi penampilan, interaksi sosial, dan keamanan seseorang. Kehilangan gigi juga menjadi penyebab utama seseorang enggan tersenyum dan tertawa.
Ada beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk mengganti elemen gigi yang hilang, seperti pemakaian gigi tiruan lepasan, gigi tiruan cekat (jembatan), dan implan gigi. Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menyebutkan prevalensi penggunaan gigi tiruan di Indonesia adalah 1,4% dan di Jawa Timur adalah 1,8%, sedangkan penggunaan implan gigi di Indonesia adalah 0,2% dan di Jawa Timur adalah 0,2%. Berbagai jenis perawatan dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kehilangan gigi terutama untuk mengembalikan fungsi gigi yang hilang yaitu pengunyahan, fungsi bicara, dan meningkatkan estetika wajah secara keseluruhan. Penggunaan gigi tiruan menyebabkan terjadinya peningkatan kualitas hidup dalam aktivitas sehari-hari. Intervensi terapi implan gigi dapat menghilangkan gangguan pada saat bertemu dan berbicara dengan orang lain, serta gangguan emosional.
Penulis: Dr. Titiek Berniyanti, drg., M.Kes.





