Universitas Airlangga Official Website

Pentingnya Dukungan Keluarga untuk Meningkatkan Self-Efficacy Ibu

llustrasi ibu dan anak. (Foto: Hello Sehat)
llustrasi ibu dan anak. (Foto: Hello Sehat)

Rendahnya angka pemberian ASI eksklusif dan pengenalan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sejak dini menjadi salah satu penyebab permasalahan gizi pada anak. Pada tahun 2021, kurang dari separuh bayi di Indonesia (48,6%) disusui dalam satu jam pertama kehidupan, turun dari 58,2% pada tahun 2018. Hanya 52,5% yang disusui secara eksklusif dalam enam bulan pertama, hal ini menurun tajam dari tahun 2018 yakni sebesar  64,5%. Cakupan ASI eksklusif secara nasional pada tahun 2019 sebesar 67,7%, melampaui target Renstra tahun 2019 yaitu sebesar 50%. Namun, masih terdapat beberapa praktik pemberian MPASI dini dan tidak tepat (32,3%) yang dapat menjadi faktor penyebab masalah gizi buruk pada anak. Pemberian MPASI merupakan proses yang dimulai ketika ASI saja tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi, dan oleh karena itu makanan dan cairan lain diperlukan bersama dengan ASI. Makanan pendamping ASI mengandung zat gizi yang diperlukan oleh bayi atau anak usia 6–24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizi selain ASI.

Berdasarkan penelitian Muniroh dkk. (2019), prevalensi stunting di Suku Tengger Desa Wonokitri Kabupaten Pasuruan masih cukup tinggi (41%). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan susu formula cukup luas; rata-rata usia 0 bulan sudah diberikan susu formula. Hal ini dikarenakan para ibu lebih praktis dalam memberikan makanan kepada bayinya karena mayoritas ibu juga membantu suaminya bekerja di ladang. Selain kurangnya pengetahuan, faktor sosial budaya juga sangat mempengaruhi hal tersebut. Penelitian Muniroh dkk. (2019) menunjukkan bahwa terdapat praktik yang menyebabkan rendahnya cakupan ASI eksklusif pada masyarakat Tengger, yaitu pemberian susu formula pada bayi baru lahir (25%) dan pemberian air kelapa muda pada bayi baru lahir (100%). Alasan pemberian makanan pendamping ASI dini antara lain untuk membantu bayi merasa kenyang. Selain itu, terdapat juga praktik membuang kolostrum (28%) karena menganggapnya sebagai ASI kotor. Pemberian makanan pendamping ASI dini dilakukan oleh 31% ibu (Muniroh, dkk., 2019).

Praktik pemberian MPASI dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, tindakan, jenis keluarga, status kesehatan anak, serta psikis dan fisik ibu. Faktor eksternal antara lain faktor budaya, peran petugas kesehatan, dan keluarga yang belum optimal. Budaya, tradisi, dan kebiasaan makan keluarga, termasuk efikasi diri (self-efficacy), mendorong ibu untuk mempersiapkan pemberian MPASI. Semakin tinggi fungsi keluarga dalam mendukung ibu, maka semakin tinggi efikasi diri ibu dalam mengasuh anak. Efikasi diri diperlukan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki karena mempengaruhi individu untuk mewujudkan keinginannya. Efikasi diri yang rendah pada ibu dapat menyebabkan pola asuh yang buruk, penurunan kualitas pemberian makanan pada anak, dan buruknya status gizi pada anak.

Hasil penelitian Muniroh, dkk (2024) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan self-efficacy ibu dalam memberikan MPASI. Dukungan keluarga merupakan proses yang terjadi sepanjang hidup; jenis dan sifat dukungan selalu berbeda pada setiap tahap atau siklus hidup. Dukungan keluarga dapat diperoleh dari suami, orang tua dan saudara kandung. Ibu yang mendapat dukungan informasi memiliki tingkat self-efficacy yang lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak mendapat dukungan informasi. Dukungan emosional dengan memberikan nasehat penguatan, apresiasi dapat memberikan persuasi sosial. Selain itu, dengan dukungan keluarga akan membuat ibu lebih percaya diri dalam memberikan MPASI pada bayi di usia enam bulan dan dapat memberikannya secara tepat. Selain itu, ibu yang mendapat dukungan keluarga akan mempunyai risiko 110 kali lebih tinggi untuk memberikan MPASI pada bayinya di waktu yang tepat dibandingkan dengan ibu yang tidak mendapat dukungan keluarga. Pada penelitian ini ditemukan bahwa dukungan keluarga merupakan prediktor kuat yang berhubungan dengan self-efficacy ibu dalam praktik pemberian MPASI pada balita suku Tengger.

Penulis: Lailatul Muniroh, Departemen Gizi FKM UNAIR

Email: lailamuniroh@fkm.unair.ac.id