Universitas Airlangga Official Website

Pentingnya Pengalaman Internasional

(INESC TEC)

Baru-baru ini Gubernur DKI Anies Baswedan berceramah di Oxford University, salah satu perguruan tinggi terkemuka di Inggris. Pak Anies memberi nasihat kepada audiens mahasiswa Indonesia yang mengambil program master dan doktoral untuk tidak kembali ke Indonesia setelah lulus mendapatkan gelar, tapi tinggal di negara dimana mereka study untuk bekerja menimba pengalaman di luar negeri dan membangun jejaring. Kata Pak Anies, kalau sekolah di luar negeri tujuannya hanya mencari ijazah, maka hal itu bisa dilakukan di Tanah Air mengingat saat ini tawaran studu online dari luar negeri banyak, akan tetapi tidak mempunyai pengalaman luar negeri dan tidak maksimal membangun jejaring.

Sahabat saya Prof Zaidun ketika menjadi Dekan Fakultas Hukum UNAIR juga pernah mendorong kader-kader dosen muda FH UNAIR kalau bisa mengambil S2 dan S3 di luar negeri agar memiliki international exposure atau pengalaman internasional dan nantinya akan berrkontribusi mengembangkan UNAIR. Hal ini tentu bukan berarti program S2 dan S3 di dalam negeri tidak baik. Tapi, pengalaman luar negeri terutama di negara-negara yang sudah maju sangat diperlukan.

Dulu pernah ada silang pendapat bahwa orang Indonesia yang studi dan bekerja di luar negeri dianggap tidak memiliki nasionalisme. Namun dalam perkembangan zaman banyak yang berpendapat nasionalisme tidak diukur dari suatu tempat atau lokus. Mereka masyarakat diaspora Indonesia yang bertebaran di mancanegara masih memiliki nasionalisme dan komitmen yang tinggi untuk membangun Indonesia.

Karena itu ketika sahabat saya Dr Taufikurahman Saleh MSi alumni FH UNAIR dan mantan anggota DPR menginfokan bahwa keponakannya diterima bekerja di Portugal, saya langsung memberi semangat pada keluarga agar melepas dengan bangga keponakannya itu mencari pengalaman di luar negeri. Keponakan Cak Opik, begitu panggilannya, bernama Herlambang Setiadi ST MSc PhD seorang peneliti muda UNAIR kelahiran tahun 1990 lulusan S1 elektro ITS; S2 di Liverpool John Moores University, Inggris; S3 di University of Queensland Australia; dan menjadi dosen di UNAIR. Minggu lalu berangkat ke Portugal untuk bekerja sebagai peneliti di Institute for Systems and Computer Engineering Technology and Science (INESCTEC) di kota Porto, Portugal. Sekembalinya dari Portugal dia akan terus mengabdi di UNAIR.

Dik Herlambang yang putranya sahabat saya juga, alumni FH UNAIR Prof Dr Prasetijo Rijadi SH MHum (Guru Besar Universitas Bhayangkara Surabaya) termasuk 500 peniliti terbaik UNAIR bersama peneliti UNAIR yang terkemuka antara lain Prof Dr Nursalam, Prof Dr Fedik, dr Muhammad Mftahussurur MKes SpPd PhD, dll.

Keponakan Cak Opik itu hanyalah satu dari banyak alumni UNAIR yang studi dan bekerja di mancanegara dan ini sangat membanggakan. Sebab di pundak merekalah bangsa Indonesia dan UNAIR akan menjadi lebih maju berkat penelitian dan inovasinya yang kreatif.

Saya ingat ketika saya mengikuti pertukaran pemuda ASEAN-Jepang tahun 1982 dan bersama delegasi saya diterima Aimee Marcos putri mantan presiden Philipina almarhum Ferdinand Marcos di Malacanang Palace (istana kepresidenan Philipina) dan dibagikan buku kecil berisi pikiran-pikiran Marcos dimana almarhum mengutip kata-kata bijak dari George Santayana (ahli filsafat dan novelis dari Spanyol): “A man’s feet should be planted in his countrybut his eyes should survey the world” yang berkmakna, kaki seseorang itu harus menancap di ibu pertiwi negaranya, tapi pandangannya harus melanglang dunia.

Saya yakin akan banyak lagi para Ksatria Airlangga memiliki pengalaman internasional dan membangun jejaring yang nantinya akan disumbangkan kepada almamater UNAIR dan bangsa.