Universitas Airlangga Official Website

Penuaan Kulit sebagai Faktor Risiko Infeksi Bakteri Kulit

Dalam beberapa dekade terakhir, usia harapan hidup telah meningkat secara signifikan, seperti yang terlihat dari meningkatnya populasi lansia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, antara tahun 2015-2050 akan ada 900 juta hingga 2 miliar orang yang berusia di atas 60 tahun. Pada tahun 2050, diperkirakan seperlima dari populasi global (sekitar 2,1 miliar) akan berusia lebih dari 65 tahun dan 434 juta lansia akan berusia lebih dari 80 tahun.

Infeksi kulit akibat bakteri menyebabkan spektrum klinis infeksi yang luas, yang berkisar dari infeksi ringan hingga infeksi berat yang lebih invasif. Angka kejadian infeksi bakteri kulit pada lansia meningkat dua kali lipat hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan dewasa muda. Angka kejadiannya meningkat seiring dengan bertambahnya populasi lansia, yang sering kali berada dalam kondisi kritis atau pada kondisi penurunan sistem kekebalan tubuhnya. Selain itu, penggunaan obat imunosupresi, terapi keganasan, transplantasi organ, intervensi medis, atau infeksi luka operasi juga merupakan faktor predisposisi untuk infeksi kulit bakterial, terutama pada lansia. Mekanisme infeksi kulit akibat bakteri didasarkan pada fungsi sawar kulit, sistem kekebalan tubuh individu, dan jenis bakteri. Pada kulit lansia yang mengalami penurunan fungsi sawar kulit dan sering memiliki kulit kering, akan lebih mudah bagi bakteri untuk melewati sawar kulit dan menyebabkan infeksi kulit.

Perubahan struktur dan fisiologis pada kulit menyebabkan kerentanan yang nyata terhadap kejadian penyakit kulit, termasuk infeksi kulit akibat bakteri pada lansia. Lapisan kulit epidermis yang merupakan lapisan terluar menjadi lebih tipis pada lansia, yang menyebabkan peningkatan kehilangan air transepidermal (Transepidermal waterloss/ TEWL), yang pada manifestasi klinis tampak sebagai kulit kering pada lansia. Akibat proses penuaan, struktur penyangga kulit, seperti kolagen, akan mengalami penurunan jumlah, akibat penurunan kemampuan produksi kolagen serta peningkatan pemecahan kolagen. Hal ini akan mempengaruhi kekuatan dan kelenturan kulit. Selain itu, pada lapisan dibawah kulit akan juga terjadi penipisan lapisan lemak yang dapat mengurangi perlindungan antimikroba terhadap infeksi bakteri pada kulit.

Angka kejadian infeksi bakteri pada kulit meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi usia lanjut, yang sering kali berada dalam kondisi kritis atau penurunan sistem kekebalan tubuh. Di Amerika Serikat, dilaporkan adanya peningkatan 20% pada kasus infeksi kulit akibat bakteri di unit rawat jalan dan peningkatan 40% pada kasus infeksi kulit akibat bakteri di unit gawat darurat selama periode 13 tahun. Angka kejadian infeki kulit akibat bakteri ini  pada lansia meningkat dua kali lipat pada orang berusia lebih dari 65 tahun. Infeksi kulit akibat bakteri dapat terlihat sebagai manifestasi klinis tidak khas, ringan atau bahkan tidak spesifik. Manifestasi klinis pada lansia yang cukup umum dimulai dengan demam ringan atau tanpa demam, tetapi berkembang dengan cepat menjadi sepsis.

Infeksi bakteri kulit pada lansia memiliki beberapa keunikan. Terdapat pertumbuhan yang signifikan pada populasi lansia, dan peningkatan kematian akibat resistensi (kekebalan) antimikroba dengan lansia sebagai populasi yang memiliki risiko tinggi menderita infeksi bakteri kulit. Hal ini menyebabkan hasil dan respons yang buruk terhadap terapi infeksi bakteri kulit. Berbagai faktor predisposisi dan adanya polifarmasi yang sering dijumpai pada lansia, juga membuat penatalaksanaannya menjadi sangat menantang.

Penulis : Dr. Damayanti, dr., Sp.KK(K), FINSDV, FAADV

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:

https://doi.org/10.47119/IJRP10013411020235557