Universitas Airlangga Official Website

Penyelamatan Genetik Kambing Kacang dengan Teknologi Kriopreservasi/Pembekuan

Foto: flo.health

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, dan salah satu aset genetik penting yang perlu dilestarikan adalah Kambing Kacang. Untuk melindungi dan mengelola sumber daya genetik hewan asli ini, teknologi reproduksi modern memainkan peran yang sangat vital. Salah satu upaya kunci adalah mendirikan bank sel telur (oocyte bank) yang berfungsi untuk menyimpan pasokan sel telur (oosit) dalam jumlah besar. Oosit yang tersimpan ini sangat penting karena dapat termanfaatkan untuk berbagai tujuan. Termasuk menciptakan embrio di laboratorium (in vitro fertilization) untuk program transfer embrio. Inilah yang menjadikan teknik pembekuan, atau vitrifikasi, sebagai metode paling menguntungkan untuk menjaga cadangan oosit ini tetap viable dalam jangka panjang.

Teknik ini dipilih karena lebih cepat dan efisien dibandingkan metode pembekuan lambat. Namun, proses pencairan kembali (warming) oosit dapat memicu stres panas, yang meningkatkan produksi radikal bebas (ROS) dan memicu apoptosis atau kematian sel. Apoptosis ditandai dengan pelepasan Apoptosis Inducing Factor (AIF) dari mitokondria ke inti sel, yang menyebabkan kerusakan DNA. Salah satu upaya untuk mencegah pelepasan AIF adalah dengan menggunakan krioprotektan yang cocok untuk oosit kambing yang akan dibekukan.

Penelitian ini membandingkan kualitas oosit yang tidak dibekukan (Kontrol/K), oosit yang dibekukan dengan krioprotektan komersial (P1), dan oosit yang dibekukan dengan campuran 30% ethylene glycol dan 1M sukrosa (P2). Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan (p<0.05) dalam ekspresi AIF antar kelompok. Kelompok P1 yang menggunakan krioprotektan komersial (mengandung ethylene glycol dan DMSO) menunjukkan ekspresi AIF tertinggi. Hal ini mengindikasikan tingkat kematian sel yang tinggi, kemungkinan karena toksisitas DMSO dan ketidakcocokan komposisi untuk oosit kambing. Sebaliknya, kelompok P2 menghasilkan skor AIF yang jauh lebih rendah daripada P1.

Hal ini membuktikan bahwa kombinasi ethylene glycol sebagai krioprotektan intraseluler (mudah masuk sel) dan sukrosa sebagai krioprotektan ekstraseluler (melindungi bagian luar sel) sangat efektif dalam melindungi oosit Kambing Kacang dari kerusakan selama proses pembekuan dan pencairan. Oleh karena itu, larutan 30% ethylene glycol dan 1M sukrosa direkomendasikan sebagai alternatif yang lebih unggul untuk kriopreservasi oosit Kambing Kacang.

Penulis: Riski Lesta Mega

Detail tulisan: https://doi.org/10.53555/AJBR.v27i4S.4435