Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang kritis dengan prevalensinya yang meningkat secara global. Penyakit ini membebani sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia dalam hal biaya dan sumber daya. Tanpa intervensi terapeutik yang tepat waktu, pasien PGK menunjukkan percepatan penurunan fungsi ginjal, yang berdampak buruk pada parameter kualitas hidup dan secara signifikan meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas, terutama akibat kejadian kardiovaskular. Albuminuria merupakan faktor yang menentukan perkembangan PGK. Penyakit yang berkaitan dengan metabolisme mineral dan tulang merupakan faktor risiko untuk progresi PGK dan konsekuensi kardiovaskular.
Retensi fosfat dan penurunan fungsi ekskresi ginjal berjalan beriringan, menyebabkan sintesis hormon fosfat, faktor pertumbuhan fibroblast-23 (FGF-23). ​​Hormon ini disintesis oleh osteosit dengan stimulator utama selain fosfat, termasuk 1,25-dihidroksi vitamin D (1,25(OH)2D3) dan hormon paratiroid (PTH). Di ginjal, fungsi FGF-23 dimediasi oleh pengikatan kompleks reseptor (FGFR) dan koreseptor spesifiknya, klotho. Ketika FGF-23 tidak dapat mempertahankan homeostasis fosfat, terjadi penurunan ekspresi klotho dan resistensi FGF-23. Kadar 1,25(OH)2D3 yang lebih rendah kemungkinan besar disebabkan oleh peningkatan kadar FGF-23, yang pada akhirnya akan menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder. Proses kegagalan kompensasi ini akan menyebabkan hiperfosfatemia. Sebuah studi kohort yang disebut studi Pencegahan Penyakit Ginjal dan Pembuluh Darah Stadium Akhir menemukan bahwa kadar FGF-23 berkorelasi secara terpisah dengan peningkatan rasio albumin terhadap kreatinin urin (albuminuria) dan penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR), yang mencerminkan risiko perkembangan dan mortalitas PGK. Selain itu, penurunan konsentrasi 25-hidroksivitamin D (25(OH)D) berkorelasi kuat dengan peningkatan kadar albuminuria. Proses inflamasi merupakan mediator potensial yang menghubungkan defisiensi vitamin D dengan albuminuria.
Analog asam amino alami L-arginin meliputi dimetilarginin simetris (SDMA) dan enantiomernya, dimetilarginin asimetris (ADMA), yang pertama kali diisolasi dari urin manusia oleh Kakimoto dan Akazawa [9]. Peningkatan kadar ADMA terjadi sejak fase awal PGK dan akan terus meningkat seiring penurunan fungsi ginjal. Penelitian telah menunjukkan bahwa sintesis oksida nitrat (NO) dihambat pada PGK, dan ADMA merupakan penghambat poten produksi NO secara in vivo dan in vitro, sehingga berdampak pada vasokonstriksi, hipertensi, disfungsi imun, dan risiko komplikasi kardiovaskular. Indeks resistif ginjal (RRI), yang diukur dengan ultrasonografi Doppler, mencerminkan resistensi dan komplians vaskular intrarenal. Nilai RRI yang tinggi menunjukkan peningkatan resistensi dalam pembuluh darah ginjal.
Konsentrasi ADMA yang lebih tinggi berkorelasi secara independen dengan peningkatan RRI (p < 0,001). Hal ini menunjukkan bahwa disfungsi endotel yang dimediasi ADMA dan berkurangnya vasodilatasi berkontribusi terhadap resistensi vaskular intrarenal, yang diukur oleh RRI secara non-invasif sebagai indikator cedera mikrovaskular ginjal dan perkembangan penyakit.
Sebuah studi kohort menunjukkan bahwa kadar ADMA dan interaksinya dengan FGF-23 dalam penghambatan sistem NO merupakan prediktor progresi PGK. Hingga saat ini, pengurangan albuminuria terutama melibatkan terapi penghambat sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) sebagai pilihan utama. Kadar FGF-23 yang tinggi mengurangi efektivitas penghambat RAAS dalam pengobatan albuminuria yang berkaitan dengan gangguan respons antiproteinuria. Penghambat RAAS membantu mengurangi albuminuria yang berkaitan dengan kerusakan vaskular yang dimediasi ADMA melalui peningkatan ekskresi metabolit NO urin secara signifikan dan penurunan stres oksidatif.
Vitamin D terutama berperan sebagai penghambat aktivasi RAAS intrarenal. Selain itu, kadar vitamin D yang rendah diduga terkait dengan peningkatan kadar ADMA dan dapat mengganggu regulasi RAAS serta memperburuk albuminuria pada pasien PGK [17]. Namun, penurunan fungsi ginjal tetap ada bahkan dengan terapi penghambat RAAS. Oleh karena itu, untuk mengidentifikasi target terapi potensial, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai patofisiologi yang mendasari albuminuria dan perkembangan penyakit ginjal kronik (PGK).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi kadar FGF-23, 25(OH)D, dan ADMA dengan albuminuria pada pasien PGK yang tidak menjalani dialisis. Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa hubungan langsung kadar FGF-23, 25(OH)D, dan ADMA dengan albuminuria, terlepas dari faktor risiko PGK lainnya, masih kontroversial.
Penulis: Satriyo Dwi Suryantoro, dr., Sp.PD.
Informasi detail dapat diakses melalui: https://www.mdpi.com/3488712





