Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit tropis yang paling umum dijumpai, khususnya di negara-negara seperti Indonesia. Penularannya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti menjadikannya sulit dikendalikan. Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 140 ribu kasus DBD di tahun 2023 dengan ribuan kematian. Sayangnya, hingga pertengahan 2024, angka ini terus meningkat.
Meskipun sebagian besar kasus hanya menyebabkan demam ringan, sebagian lainnya dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti demam berdarah dengue (DHF) atau dengue shock syndrome (DSS) yang mengancam jiwa.
Salah satu faktor penting dalam menentukan keparahan DBD adalah respons sistem imun. Ketika tubuh melawan virus dengue, sel-sel imun seperti makrofag dan limfosit T melepaskan senyawa-senyawa inflamasi yang disebut sitokin. Dua di antaranya adalah interleukin-1 beta (IL-1β) dan interleukin-18 (IL-18). Keduanya berperan dalam menciptakan peradangan, yang pada kasus tertentu bisa menjadi terlalu berlebihan dan merusak tubuh sendiri—dikenal sebagai cytokine storm.
Penelitian terbaru oleh tim dari Universitas Airlangga mencoba memahami hubungan antara kadar IL-1β dan IL-18 dengan tingkat keparahan DBD.
Penelitian ini melibatkan 59 pasien dengan hasil PCR positif dengue, baik anak-anak maupun dewasa, yang dirawat di beberapa rumah sakit di Jawa Timur. Para peneliti mengukur kadar IL-1β dan IL-18 dalam darah pasien, lalu menghubungkannya dengan usia, tipe virus dengue, status infeksi (primer atau sekunder), serta tingkat keparahan penyakit berdasarkan kriteria WHO.
Beberapa hasil yang didapatkan diantaranya: kadar IL-1β dan IL-18 lebih tinggi pada anak-anak dibanding dewasa. Namun, hal ini tidak berkorelasi signifikan dengan usia pasien; serotipe DENV-1 menghasilkan kadar IL-1β dan IL-18 tertinggi, sedangkan DENV-2 terendah; tidak ditemukan hubungan signifikan antara kadar IL-18 dengan tingkat keparahan penyakit; terdapat hubungan negatif yang lemah antara kadar IL-1β dan keparahan DBD. Artinya, semakin parah penyakitnya, kadar IL-1β cenderung menurun—berbeda dari hasil beberapa studi sebelumnya.
Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun IL-1β dan IL-18 memang meningkat selama infeksi dengue, peningkatannya tidak selalu menandakan kondisi yang lebih parah. Justru, kadar IL-1β bisa menurun pada kasus yang lebih berat, kemungkinan karena perubahan dinamika sistem imun atau proses inflamasi yang kompleks.
Sementara itu, IL-18 memiliki peran yang lebih luas, tidak hanya diproduksi oleh sel imun tapi juga oleh sel lain seperti sel kulit dan sel hati. Ini membuat kadar IL-18 tidak mudah dijadikan penanda khusus untuk keparahan DBD.
Dengan memahami bagaimana sitokin berperan dalam perjalanan penyakit dengue, para ilmuwan dapat mencari cara deteksi dini untuk pasien berisiko tinggi. Jika kita bisa memprediksi siapa yang berpotensi mengalami DBD parah sejak awal, maka penanganan medis bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Namun, karena hasil masih beragam, diperlukan lebih banyak penelitian lanjutan yang mempertimbangkan waktu pengambilan sampel, metode pengukuran, dan faktor lain seperti beban virus (viral load).
Penulis : Prof. Dr. Aryati, dr., M.S., Sp.PK(K).
Detil penelitian bisa dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/correlation-between-il-1%CE%B2-and-il-18-levels-with-the-severity-of-d





