Universitas Airlangga Official Website

Peran Keluarga dalam Merawat Pasien Skizofrenia

Peran Keluarga dalam Merawat Pasien Skizofrenia
Sumber: Siloam Hospitals

Keberadaan pasien skizofrenia menuntut keluarga untuk mendapatkan informasi dari pelayanan kesehatan tentang bagaimana merawat pasien. Keterbatasan informasi dan pemahaman tanggung  jawab dalam merawat masih menjadi hambatan untuk menjadi keluarga yang berdaya dalam merawat pasien gangguan jiwa. Keluarga harus memiliki pengetahuan tentang gangguan jiwa, keterampilan merawat dengan benar dan menunjukkan sikap yang tepat selama mendampingi pasien (Izibeloko & Amegheme, 2016; Tehangga, Sunarsih, & Supodo, 2021). Namun demikian fluktuasi kondisi pasien, stigma negatif yang masih tinggi dari lingkungan, kemampuan mengelola beban dan stress dalam menghadapi permasalahan menyebabkan ketidakberdayaan keluarga dan berdampak pada kemampuan merawat pasien gangguan jiwa setiap hari maupun saat kekambuhan terjadi. Tenaga kesehatan khususnya perawat di instalasi rawat jalan atau poliklinik layanan jiwa telah memberikan dukungan dalam bentuk pendidikan kesehatan kepada keluarga pasien gangguan jiwa. Namun demikian tingkat kekambuhan pasien masih tinggi dan keluarga perlu dibantu untuk lebih berdaya dalam merawat pasien.

Hasil penelitian telah dilakukan secara kualitatif pada 20 keluarga di dua unit rawat jalan Rumah Sakit di Surabaya. Hasil eksplorasi kebutuhan keluarga terkait informasi dari layanan kesehatan dan tanggung jawab keluarga selama merawat pasien gangguan jiwa menunjukkan bahwa keluarga membutuhkan informasi tentang kondisi pasien, pengobatan yang dijalan, jadwal kontrol rutin dan konseling untuk keluarga. Keluarga selama merawat pasien dengan gangguan jiwa membutuhkan informasi dari layanan kesehatan terkait jenis atau gejala serta penyebab terjadinya gangguan jiwa yang terjadi pada anggota keluarga. Jenis gangguan jiwa berdasarkan gejala yang muncul pada pasien sering membuat keluarga bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.Keluarga mengalami kebingungan mengapa pasien menunjukkan gejala yang berubah-ubah. Pasien bisa menjadi marah tanpa sebab, berbicara sendiri, menolak melakukan perawatan diri bahkan diam di kamar berhari-hari. Keluarga membutuhkan penjelasan secara berkesinambungan bahwa gejala yang ditampilkan pasien adalah merupakan proses dari ganguan jiwa yang dialami oleh pasien. Pengetahuan keluarga tentang kondisi pasien terutama jenis dan gejala serta penyebab gangguan jiwa sangat penting karena menjadi dasar bagi keluarga untuk memahami bahwa perilaku yang ditampilkan pasien adalah karena proses penyakitnya. Penerimaan keluarga tentang kondisi pasien menjadi tuntutan dalam pemberian perawatan dirumah akan menjadi aspek positif yang mendukung proses pemberdayaan keluarga. Informasi yang cukup dari tenaga kesehatan terkait kondisi pasien gangguan jiwa kronis bisa meningkatkan toleransi keluarga dalam menghadapi gejala pasien, menurunkan stress keluarga dan ekspresi emosi yang negative, meningkatkan harapan bahwa pasien akan bisa sembuh dan menumbukan kekuatan keluarga menjadi lebih berdaya dalam merawat pasien di rumah (Lohrasbi, 2023; Suryani 2019)

Keluarga menyebutkan tanggung jawab yang harus dilakukan untuk pasien adalah memberikan dukungan selama pasien menjalani pengobatan, memenuhi kebutuhan sehari -hari pasien, membantu melakukan kemampuan sosial dan menjaka melakukan kegiatan di waktu luang. Salah satu tanggung jawab keluarga dalam merawat adalah menerikan dukungan dengan cara mengantar pasien untuk kontrol secara rutin ke pelayanan kesehatan jiwa dan memonitor pasien untuk selalu minum obat teratur. Pasien gangguan jiwa membutuhkan dukungan keluarga untuk bisa menjadi patuh terhadap pengobatan, seperti membantu pasien dalam melaksanakan pengobatan, kontrol teratur dan patuh untuk penggunaan obat yang benar. Keluarga harus selalu memastikan tanggal kontrol ulang pasien ke rumah sakit, mengatur jadwal bekerja sehingga dapat menemani dan mendampingi pasien. Keluarga memandang kontrol secara rutin merupakan hal yang sangat penting dan harus dibantu oleh keluarga.

Tanggung jawab keluarga juga meliputi pemenuhan kebutuhan dasar, perawatan diri dan kebutuhan pribadi pasien.  Pasien gangguan jiwa memiliki keterbatasan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sehingga keluarga harus membantu seluruh kebutuhan pasien. Keluarga setiap hari menyediakan makan, minum dan snack sebagai kebutuhan dasar pasien. Keluarga juga tiada lelah memotivasi bahkan membantu pasien untuk mandi secara teratur, menggosok gigi dan mengganti pakaian setelah mandi. Keluarga menyadari itu bukan hal yang mudah karena motivasi pasien yang sangat menurun untuk menjaga kebersihan diri. Keluarga mengungkapkan, pasien mampu mandi dan berganti baju, namun memastikan mandi dengan bersih dan berganti pakaian dengan yang bersih setelah mandi, tetap membutuhkan bantuan keluarga. Keluarga harus bisa memberikan dukungan dan bantuan untuk pasien dalam melakukan perawatan diri (Lucock, 2011). Rasa tanggung jawab keluarga untuk menjaga kesehatan pasien gangguan jiwa menumbuhkan motivasi tersendiri dalam diri keluarga untuk selalu mengingatkan dan membantu kebersihan diri pasien setiap hari. Keluarga juga memenuhi kebutuhan pribadi pasien seperti membelikan pakaian baru dan memberikan uang saku setiap hari. Meskipun situasi keluarga penuh dengan ketegangan, beban dan kesibukan,  keluarga selalu berupaya untuk fokus kepada pemenuhan kebutuhan dasar. Beberapa keluarga menyatakan sudah merasa lega karena telah berupaya dapat memenuhi kebutuhan makan, pakaian dan kebersihan diri pasien.

Keluarga juga berusaha mencarikan kegiatan untuk mengisi waktu luang pasien, seperti mengikutsertakan pada kegiatan seni, kegiatan spiritual, mengerjakan tugas rumah tangga, mengajak beraktivitas di luar rumah dan mencarikan pekerjaan. Upaya pencegahan kekambuhan yang dapat dilakukan keluarga, selain melalui pengobatan yang rutin dan teratur juga perlu diupayakan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dengan melibatkan dalam kegiatan keluarga dan membantu pasien dalam menghadapi masalah hidup yang berat (Viora, 2010). Beberapa keluarga yang menyadari bahwa pasien memiliki minat dan bakat dengan seni, maka mengikutsertakan pasien dalam kegiatan seni dan membelikan perlengkapan alat musik. Keluarga juga mengajak pasien untuk melakukan kegiatan rumah tangga rutin seperti menyiapkan makanan keluarga setiap hari bagi pasien yang senang memasak. Keterlibatan pasien dalam aktivitas keluarga membuat pasien merasa senang, merasa dihargai dan berdampak baik untuk ketenangan emosinya. Sementara beberapa keluarga masih mempertimbangkan kondisi psikologis pasien bila diberikan tanggung jawab yang berat justru dapat menyebabkan kekambuhan. Sehingga keluarga cenderung membatasi dan memilihkan jenis kegiatan yang sekiranya dapat dilakukan oleh pasien.

Ketercukupan informasi dari layanan kesehatan baik untuk kondisi pasien dapat membantu untuk memenuhi tuntutan perawatan yang menstimulasi keluarga dalam menjalankan tanggung jawab perawatan dengan lebih berdaya dan berdampak pada kemampuan merawat yang lebih baik.

Penulis: Dr. Rizki Fitryasari Patra Koesoemo, S.Kep., Ns., M.Kep.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/navigating-care-family-information-needs-and-responsibilities-in-

Baca juga: Adaptasi Lintas Budaya Instrumen Rawan Skizofrenia