Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian/ Hiperaktifitas (GPPH) adalah gangguan neurodevelopmental dengan onset masa kanak yang ditandai oleh kesulitan dalam mempertahankan perhatian, hiperaktifitas motorik dan impulsifitas, dengan kesulitan yang ada terus berlanjut sampai masa dewasa (Thapar & Cooper, 2016). Anak-anak dan remaja dengan ADHD mengalami masa pertumbuhan yang penuh tantangan. Karena adanya perilaku impulsif dan kurangnya perhatian sehingga membuat mereka sering mendapat nilai rendah di bidang akademik dan seringkali mengalami drop out dari sekolah. Rasa percaya diri yang rendah menyebabkan masalah dalam relasi sosial, kecenderungan penyalahgunaan zat dan mengalami permasalahan hukum.
ADHD juga sering disertai komorbiditas seperti oppositional defiant disorder (ODD), major depressive disorder (MDD), dan gangguan kecemasan sehingga menambah tantangan yang dihadapi individu dengan GPPH. Kurang lebih 60% sampai 80% gejala ADHD bertahan sampai usia dewasa (Childress & Berry, 2012). Adanya masalah-masalah yang dihadapi individu dengan ADHD merupakan tantangan perlunya terapi untuk untuk mencegah berbagai masalah yang dihadapi individu ini baik sebagai anak, remaja atau orang dewasa (Sharma & Couture, 2014).
Masa remaja adalah periode kritis yang ditandai dengan perubahan fisiologis, psikologis, dan sosial yang signifikan. Selama waktu ini, individu sering menghadapi tingkat stres yang tinggi dan kesulitan dengan pengaturan diri, yang dapat menyebabkan perkembangan masalah kesehatan mental, seperti gangguan defisit perhatian/hiperaktif. Intervensi berbasis mindfulness telah muncul sebagai pendekatan yang menjanjikan untuk mengatasi tantangan ini, menawarkan potensi untuk meningkatkan regulasi diri dan mempromosikan kesejahteraan secara keseluruhan pada populasi pra-remaja dan remaja. Mindfulness, yang didefinisikan sebagai “memperhatikan dengan cara tertentu: dengan sengaja, pada saat ini, dan tanpa menghakimi”, telah terbukti memiliki dampak positif pada berbagai aspek fungsi psikologis, termasuk pengurangan stres, harga diri, dan pengaturan emosi (Sibinga et al., 2016). Studi terbaru telah mengeksplorasi potensi program berbasis mindfulness untuk berfungsi sebagai terapi pencegahan bagi remaja dengan ADHD. Misalnya, program mindfulness berbasis sekolah ditemukan terkait dengan penurunan yang signifikan dalam stres yang dirasakan di antara peserta remaja, meskipun ukuran efeknya kecil, berpotensi karena keterbatasan pengaturan naturalistik. Selain itu, sebuah studi yang menyelidiki dampak program pendidikan berbasis mindfulness pada kesejahteraan dan regulasi diri pra dan awal remaja menemukan bahwa program tersebut mengarah pada peningkatan harga diri dan pengaturan diri (Schonert-Reichl & Lawlor, 2010).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis mindfulness dapat berdampak positif pada kesejahteraan dan pengaturan diri remaja secara keseluruhan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk secara khusus memeriksa efektivitasnya dalam mencegah perkembangan ADHD.
Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)
Untuk lebih jelas dan detail terkait Impact of Natural Products and Mindfulness Practices on Serum Serotonin Levels, Clinical Symptoms, and Mindfulness in Adolescents with ADHD Symptoms dapat dibaca di DOI:10.5530/pj.2024.16.223





