Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kulit inflamasi kronis multifaktorial yang dimulai pada masa kanak-kanak dan ditandai dengan peradangan kulit dan gatal-gatal. Terapi utama DA seringkali melibatkan penggunaan antiinflamasi, seperti steroid, dan terapi imunosupresif. Meskipun efektif, terapi-terapi ini mungkin memiliki efek samping dan toksisitas yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, alternatif non-imunosupresif dapat ditawarkan sebagai solusi, seperti contohnya penggunaan probiotik.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa jumlah sel non-viable dan komponennya mendominasi terapi probiotik, menunjukkan bahwa efek imunomodulator probiotik dapat berasal dari bakteri non-viable bersama dengan produk metaboliknya (misalnya asam lemak rantai pendek) dan fraksi mikroba terisolasi atau komponen bakteri. The International Scientific Association of Probiotics and Prebiotics (ISAPP) mendefinisikan komponen dari probiotik tersebut sebagai postbiotic. Sehingga, manfaat yang diperoleh dari probiotik untuk DA diduga berasal dari komponen postbiotik. Penggunaan postbiotik, yang didefinisikan sebagai mikroorganisme mati dan/atau komponennya yang memberikan manfaat kesehatan bagi host target, mengurangi keparahan dermatitis atopik (AD) dalam beberapa penelitian.
Kami melakukan pencarian literatur secara sistematis di Pubmed, Cochrane Library, Science Direct, Clinicaltrials.gov, dan Google Scholar dari Januari 2012 hingga Juli 2022 sesuai dengan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic review and Meta-Analyses (PRISMA). Fokus penelitian adalah pasien DA semua umur yang mendapatkan postbiotik oral atau plasebo sebagai pengobatan. Hasil studi utama adalah penilaian dermatitis atopik (SCORAD) dan tindakan lain, seperti perluasan area, intensitas penyakit, dan efek samping. Data akhir dikumpulkan menggunakan model efek tetap.
Sebuah meta-analisis dari ketiga studi menemukan bahwa, dibandingkan dengan plasebo, SCORAD lebih rendah pada subjek yang diberi postbiotik oral dari Lactobacillus sp. (perbedaan rata-rata: -2.90, 95% CI [-4.21, -1.59], p<0.00001). Dari perbandingan dua penelitian, perbedaan perluasan penyakit (perbedaan rata-rata: -2,40, 95% CI [-7,67, 2,81], nilai p = 0,37) dan intensitas (perbedaan rata-rata: -0,27, 95% CI [-0,84, 0,30], nilai p=0,36) tidak signifikan. Sehingga, bisa disimpulakn bahwa pengobatan dengan Postbiotik oral dari Lactobacillus sp. dapat mengurangi keparahan DA yang diwakili oleh penurunan SCORAD.
Penulis : dr.Sawitri,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37365891/
Oral postbiotics derived from Lactobacillus sp. in treatment of atopic dermatitis: a meta-analysis
Natalia Tanojo, Irmadita Citrashanty, Budi Utomo, Yulianto Listiawan, Evy Ervianti, Damayanti, Sawitri





