Universitas Airlangga Official Website

Peran Program Sosialisasi dan Deteksi Dini dalam Menurunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular di Komunitas Pedesaan

Peran Program Sosialisasi dan Deteksi Dini dalam Menurunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular di Komunitas Pedesaan
Sumber: Disway

Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia, dengan lebih dari 17,9 juta nyawa yang hilang setiap tahunnya, termasuk di Indonesia. Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, transisi epidemiologis yang cepat membuat beban penyakit tidak menular (PTM) termasuk PKV menjadi perhatian utama dalam sistem kesehatan masyarakat. Di Indonesia sendiri, PKV menyumbang hampir sepertiga dari seluruh kematian, dengan stroke dan penyakit jantung koroner menjadi penyebab utama. Meningkatnya angka kejadian penyakit ini tidak hanya mempengaruhi angka kematian, tetapi juga kualitas hidup penderitanya, terutama di daerah pedesaan yang akses terhadap layanan kesehatan masih terbatas.

Tantangan di Daerah Pedesaan

Komunitas pedesaan menghadapi tantangan unik dalam menangani PKV. Beberapa faktor seperti akses terbatas ke layanan kesehatan, tingkat pendidikan yang rendah, serta kondisi ekonomi yang kurang mendukung, dapat memperburuk situasi yang ada. Di banyak daerah pedesaan, seperti Kabupaten Magetan yang terletak di lereng Gunung Lawu, terdapat angka kejadian yang tinggi dari faktor risiko PKV, di antaranya hipertensi, diabetes, dan obesitas. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya dalam waktu empat bulan, tercatat sebanyak 211.762 warga mengalami kasus hipertensi, namun pelayanan kesehatan hanya mencapai sekitar 56%, jauh di bawah target nasional. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dan keterbatasan sumber daya kesehatan di daerah tersebut.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa faktor-faktor gaya hidup seperti merokok, pola makan tinggi lemak, obesitas, serta kurangnya aktivitas fisik, berkontribusi secara signifikan terhadap meningkatnya risiko PKV, terutama di daerah pedesaan. Komunitas pedesaan sering kali memiliki lebih banyak komposisi penduduk dengan usia lebih tua, prevalensi diabetes dan obesitas yang lebih tinggi, serta cenderung memiliki akses yang lebih terbatas terhadap layanan kesehatan dibandingkan dengan komunitas perkotaan. Di Amerika Serikat, misalnya, perbedaan angka kejadian PKV antara daerah pedesaan dan perkotaan mencapai 40%. Hal serupa juga terjadi di Indonesia, di mana kesenjangan akses kesehatan antara komunitas perkotaan dan pedesaan memperburuk risiko dan angka kematian akibat PKV.

Program Sosialisasi dan Deteksi Dini PKV di Magetan

Sebuah studi awal yang kami lakukan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas program sosialisasi PKV yang diselenggarakan oleh para ahli kesehatan. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat terkait faktor risiko PKV melalui intervensi edukasi dan deteksi dini berupa pemeriksaan kesehatan. Program ini melibatkan 90 peserta dewasa dari Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan yang merupakan bagian dari komunitas prolanis di Puskesmas Plaosan.

Sosialisasi dilakukan oleh para ahli yang memberikan edukasi tentang PKV, termasuk oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dan dosen fakultas kedokteran. Materi sosialisasi yang diberikan meliputi faktor risiko, komplikasi, bahaya, deteksi dini, dan penanganan PKV serta cara menjaga pola hidup sehat. Setelah mengikuti sosialisasi, para peserta menjalani deteksi dini yang meliputi pengukuran tekanan darah, lingkar perut, berat badan, serta pemeriksaan laboratorium seperti kadar glukosa darah puasa, kolesterol LDL, trigliserida, dan kreatinin serum. Pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) juga digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan irama jantung.

Studi yang kami lakukan menemukan bahwa prevalensi faktor risiko PKV di kalangan peserta sangat tinggi. Sekitar 61,1% peserta mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, dan 80% memiliki obesitas abdominal yang merupakan faktor risiko utama yang berhubungan dengan peningkatan risiko PKV. Selain itu, 65,56% peserta didiagnosis dengan hipertensi, dan 55,56% mengalami hipertrigliseridemia (kadar trigliserida yang tinggi). Diabetes mellitus juga ditemukan pada 33,33% peserta, sementara 18,9% sudah memiliki riwayat diabetes sebelumnya.

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah adanya peningkatan signifikan dalam skor pengetahuan peserta setelah mengikuti program sosialisasi. Skor pengetahuan sebelum sosialisasi (pre-test) adalah 59,61 ± 23,8, sementara skor setelah sosialisasi (post-test) meningkat menjadi 66,32 ± 18,75. Peningkatan ini menunjukkan bahwa program sosialisasi yang dilakukan oleh para ahli kesehatan efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko dan pencegahan PKV.

Selain itu, analisis juga menunjukkan beberapa hubungan signifikan antara beberapa faktor risiko PKV. Misalnya, terdapat hubungan positif antara indeks massa tubuh/body mass index (BMI) dengan tekanan darah sistolik dan diastolik, serta antara kadar LDL dengan lingkar perut. Analisis ini menunjukkan bahwa peningkatan berat badan dan obesitas abdominal dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan tekanan darah, yang merupakan faktor risiko utama untuk PKV. Penelitian ini juga menemukan beberapa perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam hal risiko PKV. Misalnya, obesitas abdominal lebih banyak ditemukan pada perempuan (85,92%) dibandingkan laki-laki (57,90%), sementara laki-laki memiliki risiko diabetes yang lebih tinggi. Selain itu, sekitar 44,44% laki-laki di antara peserta adalah perokok, sedangkan tidak ada peserta perempuan yang merokok. Perbedaan ini sebagian besar dipengaruhi oleh faktor sosial budaya, di mana merokok di kalangan perempuan dianggap tabu di banyak bagian Indonesia, sedangkan merokok sering kali dianggap sebagai simbol maskulinitas di kalangan laki-laki.

Program sosialisasi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan masyarakat, tetapi juga pada deteksi dini dan intervensi terhadap faktor risiko PKV. Deteksi dini melalui pemeriksaan EKG berhasil menemukan 6 peserta dengan hasil abnormal, termasuk dua kasus infark miokard lama. Pendekatan ini memungkinkan intervensi lebih awal, yang dapat mencegah komplikasi lebih lanjut dan meningkatkan prognosis pasien. Melalui kombinasi edukasi dan pemeriksaan kesehatan langsung, keberadaan program sosialisasi dan deteksi dini mampu memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kesadaran dan mengurangi risiko PKV di komunitas pedesaan. Edukasi yang diberikan menggunakan bahasa lokal (bahasa Jawa) juga membantu meningkatkan efektivitas program, karena masyarakat lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Studi ini menegaskan pentingnya program sosialisasi PKV di komunitas pedesaan untuk mengurangi prevalensi faktor risiko PKV dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan melibatkan para ahli dan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi lokal, program ini mampu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya PKV. Ke depan, program serupa diharapkan dapat diperluas ke daerah lain dengan tantangan yang serupa. Melalui pendekatan holistik yang melibatkan edukasi, deteksi dini, dan intervensi, diharapkan beban PKV di Indonesia dapat dikurangi, terutama di komunitas pedesaan dengan akses kesehatan yang terbatas.

Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu

Dosen Fakultas Kedokteran Unair

Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: Risk Factor Profile and Role of Cardiovascular Disease Outreach Program by Experts in Rural Communities: A Pilot Study in Magetan Regency, Indonesia yang dimuat pada jurnal ilmiah Jurnal Keperawatan Soedirman  volume 19 no 2 tahun 2024.

Link artikel asli dapat dilihat pada: https://jos.unsoed.ac.id/index.php/jks/article/view/10947

Baca juga: Hubungan Aktivitas Fisik dengan Risiko Penyakit Kardiovaskular