Universitas Airlangga Official Website

Peran Protein S100B dalam Memprediksi Keparahan Cedera Otak: Temuan dari Analisis Cairan Serebrospinal

Peran Protein S100B dalam Memprediksi Keparahan Cedera Otak
Sumber: Mitra Keluarga

Cedera otak traumatik (Traumatic Brain Injury/TBI) adalah penyebab utama kematian dan kecacatan pada dewasa muda secara global, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Berdasarkan data WHO, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama cedera otak, dengan angka kematian dan kecacatan yang signifikan. Di Indonesia, insidensi TBI mencapai 189,68 per 100.000 penduduk, dengan angka kematian di RSUD Dr. Soetomo mencapai 6,2%-11,2%.

Penilaian keparahan TBI biasanya dilakukan melalui Skala Koma Glasgow (GCS) dan pencitraan seperti CT scan. Namun, metode ini memiliki keterbatasan, sehingga diperlukan biomarker tambahan untuk memperkirakan keparahan cedera dan hasil pasien. Protein S100B, yang dilepaskan dari astrosit dalam sistem saraf pusat saat terjadi kerusakan, telah menjadi fokus penelitian karena berkaitan dengan tingkat keparahan cedera otak.

Meskipun sebagian besar penelitian berfokus pada kadar S100B dalam serum, hanya sedikit yang meneliti kadar protein ini dalam cairan serebrospinal (CSF). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan kadar S100B dalam CSF dengan GCS dan skor CT Rotterdam, untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang tingkat keparahan TBI dan potensinya dalam prediksi klinis.

Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik prospektif yang dilakukan di UGD RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada Oktober hingga Desember 2023. Sampel terdiri dari 15 pasien cedera otak traumatik (TBI) yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu berusia ≥18 tahun, dipasangi monitor tekanan intrakranial (ICP), memiliki data lengkap, dan memberikan persetujuan. Data yang dikumpulkan meliputi skor Skala Koma Glasgow (GCS) pasca-resusitasi, kadar protein S100B dari cairan serebrospinal (CSF) yang diambil saat pemasangan ICP, serta skor CT Rotterdam dari CT scan terakhir sebelum pemasangan ICP. Pasien dengan riwayat penyakit seperti Alzheimer, diabetes, atau epilepsi dikecualikan. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 26, dengan uji Shapiro-Wilk untuk normalitas. Uji korelasi Pearson digunakan untuk data berdistribusi normal, sedangkan uji Spearman digunakan untuk data tidak normal. Hasil disajikan dalam bentuk deskriptif dan analisis statistik.

Penelitian ini melibatkan 15 pasien TBI, dengan mayoritas berjenis kelamin pria (73,3%) dan rentang usia rata-rata 34,6 tahun. Mekanisme cedera paling umum adalah kecelakaan lalu lintas (80%). Kadar protein S100B dalam cairan serebrospinal (CSF) berkisar antara 790,257 hingga 4,726,078 pg/ml, dengan rata-rata 2,753,689 ± 1,124,290 pg/ml. 

Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara kadar S100B dalam CSF dan Skala Koma Glasgow (GCS) (p = 0,005; r = -0,684), yang berarti semakin tinggi kadar S100B, semakin rendah skor GCS pasien. Selain itu, terdapat hubungan positif yang signifikan antara kadar S100B dalam CSF dan skor CT Rotterdam (p < 0,001; r = 0,827), menunjukkan bahwa kadar S100B yang tinggi berkaitan dengan kerusakan otak yang lebih parah, seperti yang terlihat pada CT scan. 

Temuan ini mendukung peran S100B sebagai biomarker potensial dalam menilai keparahan TBI. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti ukuran sampel yang kecil dan tidak adanya pemantauan kadar S100B dalam jangka panjang. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hasil ini dan mengeksplorasi penggunaan S100B dalam pengelolaan klinis TBI.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kadar protein S100B dalam cairan serebrospinal (CSF) memiliki hubungan yang signifikan dengan keparahan cedera otak traumatik (TBI). Kadar S100B yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan skor Glasgow Coma Scale (GCS) dan peningkatan skor CT Rotterdam, yang menunjukkan kerusakan otak yang lebih parah. Temuan ini menegaskan potensi S100B sebagai biomarker untuk menilai tingkat keparahan TBI dan memprediksi prognosis pasien. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti jumlah sampel yang kecil dan kurangnya pemantauan kadar S100B secara berkala. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat temuan ini dan mengkaji aplikasi klinis S100B dalam pengelolaan pasien TBI, termasuk untuk prediksi jangka panjang dan pemantauan pasca cedera.

Penulis: Dr. Kohar Hari Santoso, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://phcogj.com/article/2329

Baca juga: Mengungkap Rahasia Relaksasi Otak