Universitas Airlangga Official Website

Peran Resiliensi sebagai Mediator pada Perbankan Syariah di Indonesia

IL by Katadata

Kondisi perubahan yang sangat cepat memaksa organisasi untuk selalu mencari cara agar mampu beradaptasi dan bergerak semakin dinamis. Perubahan ini mengharuskan seluruh organisasi termasuk bank syariah untuk berfikir inovatif. Melalui inovasi, organisasi akan mampu menjawab tantangan dari perkembangan yang semakin cepat, mampu menciptakan peluang baru, dan memiliki keunggulan kompetitif. Sebagai salah satu sektor keuangan yang mendukung ekonomi masyarakat, bank syariah diharapkan untuk lebih inovatif dalam mengembangkan keunikan produk, dan lebih banyak berinteraksi dengan seluruh sektor, baik riil dan sosial, di dalam ekosistem ekonomi syariah.

Salah satu cara terbaik untuk menjadi organisasi yang inovatif adalah dengan memanfaatkan kemampuan inovatif seluruh karyawan. Kemampuan karyawan untuk berinovasi merupakan modal penting agar organisasi menjadi lebih inovatif. Perilaku kerja inovatif merupakan perilaku individu yang sengaja dilakukan untuk menciptakan, mengenalkan, dan menerapkan ide atau gagasan baru yang bermanfaat, dalam perannya sebagai individu, kelompok, atau organisasi.

Karakteristik pekerjaan seperti otonomi kerja dan umpan balik akan sangat terkait dengan aktivitas yang dilakukan. Adanya otonomi kerja akan memberikan pengalaman tanggung jawab pribadi, dan adanya umpan balik akan memberikan pengetahuan konstruktif atas efektifitas pekerjaan yang telah dilakukan. Dalam penelitian ini, desain pekerjaan diukur melalui tiga belas indikator yang diadopsi dari Morgeson & Humphrey (2006) dan Hackman and Oldham (1976).

Selain itu, resiliensi karyawan menjadi faktor individu yang penting bagi karyawan untuk mengatasi, beradaptasi, dan berkembang secara positif dalam menanggapi perubahan keadaan di tempat kerja. Untuk dapat meningkatkan inovasi di dalam organisasi maka kemampuan resiliensi karyawan akan membantu karyawan untuk mengeskploitasi pengetahuan eksternalnya dalam menghadapi kendala dan perubahan di dalam organisasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari otonomi kerja dan umpan balik terhadap perilaku kerja inovatif, Selain itu, penelitian ini juga membuktikan peran dari resiliensi karyawan sebagai mediator. Dapat disampaikan bahwa efek mediasi resiliensi karyawan adalah 1.4 kali lebih besar dari efek langsung dari desain pekerjaan terhadap Perilaku kerja inovatif

Kemampuan resiliensi yang dimiliki oleh first-line manager mampu menguatkan mereka di dalam merespons tuntutan organisasi, menghadapi permasalahan dan tantangan pekerjaan. First-line manager merespons positif tantangan dan/atau kesulitan di tempat kerja yang kemudian berupaya mencari ide-ide solutif dan menerapkan dalam pekerjaannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam mengembangkan perilaku kerja inovatif membutuhkan peran organisasi baik dari sisi pekerjaan maupun konteksnya dan individu secara bersama-sama sebagaimana yang disampaikan di dalam field theory.  

Penulis: Prof. Dr. Fendy Suhariadi, Drs., M.T.

Jurnal: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23311975.2023.2178364