Universitas Airlangga Official Website

Peran Vitamin D pada Siklus Menstruasi Wanita Usia Subur

Artikel ini menganalisis efek kadar vitamin D yang cukup pada siklus menstruasi wanita usia subur. Data diperoleh dengan melakukan pencarian sistematis di PubMed dan ScienceDirect untuk artikel Bahasa Inggris, artikel lengkap, yang diterbitkan antara Agustus 2013 – Agustus 2022 yang mengevaluasi efek kadar vitamin D pada siklus menstruasi wanita usia subur. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif. Delapan studi dari 653 artikel memenuhi syarat untuk ditinjau. Penurunan kadar vitamin D dapat menyebabkan ketidakteraturan siklus menstruasi yang mempengaruhi penurunan hormone estradiol. Selain itu, kadar vitamin D yang lebih rendah menyebabkan siklus menstruasi yang lebih lama.

Siklus menstruasi adalah salah satu tanda optimal kesehatan wanita. Terjadi sebagai proses umpan balik dari aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium (HPO). Rata-rata siklus menstruasi berkisar antara 18–35 hari, dan intervalnya mungkin berbeda untuk setiap wanita. Sekitar 64% wanita memiliki setidaknya satu masalah menstruasi. Masalah-masalah ini termasuk siklus menstruasi yang tidak teratur, oligomenore, dan menorrhagia. Mekanisme metabolisme berperan dalam mengganggu keteraturan menstruasi. Banyak proses fisiologis bergantung pada peran vitamin D. Vitamin D sangat penting untuk keseimbangan ion kalsium dan metabolisme mineral. Reseptor vitamin D juga terdapat pada organ reproduksi seperti ovarium, plasenta, endometrium, miometrium, dan uterus. Dengan demikian, berbagai konsekuensi reproduksi klinis berhubungan dengan kadar vitamin D.

Mekanisme bagaimana vitamin D memengaruhi siklus menstruasi masih belum jelas. Beberapa penelitian berhipotesis bahwa ada hubungan antara vitamin D dan hormon anti-mullerian (AMH), insulin, dan hormon androgen. Peran vitamin D terutama berkorelasi dengan bentuk aktif 25-hidroksivitamin D (25(OH)D). Kadar 25(OH)D yang rendah dapat menyebabkan berbagai masalah siklus menstruasi, seperti ketidakteraturan siklus menstruasi, endometriosis, pemanjangan siklus menstruasi, dan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Kadar 25(OH)D yang kurang akan meningkatkan gejala sindrom pramenstruasi. Fluktuasi kadar vitamin D dapat memengaruhi estradiol. Kadar estradiol akan menurun ketika 25(OH)D tidak memadai. Temuan ini sejalan dengan studi kohort yang dilakukan Lagowska dan kawan-kawan. Kadar 25(OH)D serum yang rendah berkorelasi dengan periode menstruasi yang lebih lama dan menyebabkan oligomenore atau amenore. Penelitian Jukic dan kawan-kawan menyatakan bahwa 25(OH)D yang kurang berkontribusi pada fase folikuler yang lebih lama. Studi cross-sectional oleh Singh dan kawan-kawan menyimpulkan penurunan kadar 25(OH)D berkorelasi dengan risiko siklus menstruasi tidak teratur. Penelitian lain memberikan suplementasi vitamin D 50.000 IU selama sembilan minggu membantu menormalkan kadar serum 25(OH)D dan memengaruhi durasi menstruasi normal. Pustaka memberikan data, terjadi fluktuasi vitamin D selama siklus menstruasi, serta perbedaan kadar hormon gonad selama fase luteal. Terbukti adanya aksi vitamin D pada AMH, hormon glikoprotein yang dihasilkan oleh sel granulosa selama proses folikulogenesis, yang berperan dalam ovulasi dan pematangan oosit. Studi Jafari-Sfidvajani dan kawan-kawan menunjukkan bahwa normalisasi kadar serum vitamin D menjaga keteraturan menstruasi, menurunkan amenore dan oligomenore. Penelitian ini bahkan mengintegrasikan suplementasi vitamin D mingguan 50.000 IU dengan diet rendah kalori.

Vitamin D larut dalam lemak serta mempunyai dua bentuk, vitamin D2, dan vitamin D3, berdasarkan perbedaan rantai samping. Bentuk aktif vitamin D, 25-hidroksivitamin D3 (25(OH)D3), yang beredar dalam tubuh manusia diubah menjadi 1,25-dihidroksivitamin D3 (1,25(OH)2D3) dalam proses hidroksilasi hati. Vitamin D memiliki beberapa reseptor di sel organ tubuh, salah satunya di sistem hipotalamus-hipofisis-ovarium, sehingga berdampak pada siklus menstruasi. Adanya reseptor vitamin D pada ovarium juga menegaskan bahwa vitamin D diperlukan untuk steroidogenesis dan perkembangan folikel. Vitamin D mempengaruhi proses pembentukan hormon steroid seks dan pengaturan sistem kekebalan tubuh manusia dengan berinteraksi dengan progesteron melalui induksi sel T dan reseptor vitamin D67. Melalui pengaturan langsung gen aromatase dan homeostasis kalsium ekstraseluler, vitamin D mengatur produksi estrogen. Vitamin D memengaruhi folikulogenesis dan produksi hormon progesteron dengan memengaruhi sensitivitas hormon perangsang folikel (FSH). Juga menurunkan perekrutan folikel primordial, yang menyebabkan penurunan perkembangan folikel yang signifikan. dan selanjutnya menunda atresia. Di wilayah promotor gen AMH, ada domain jalur sinyal vitamin D.

Penulis: Ahila Meliana, Hana Salsabila, Bendix Samarta Witarto, Manik Retno Wahyunitisari

Link artikel: https://doi.org/10.20473/mog.V30I32022.154-160