Penyakit ginjal kronis (PGK) ditandai dengan kerusakan struktur ginjal atau berkurangnya fungsi ginjal selama lebih dari tiga bulan. Sebanyak sekitar 8-16% populasi dunia menderita PGK dan diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. Penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat terus berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir dan menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk penyakit kardiovaskular. Komplikasi kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada PGK. Pasien dengan PGK mengalami kondisi peradangan kronis yang menyebabkan perubahan struktur jantung dan pembuluh darah. Penyakit kardiovaskular dan PGK saling berkaitan satu sama lain karena kegagalan pada salah satu organ akan menyebabkan kerusakan pada organ lain, sehingga pada akhirnya kedua organ akan sama-sama mengalami gangguan. Proses keradangan dan stres oksidatif pada PGK erat kaitannya dengan aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron. Peningkatan aktivitas angiotensin II dapat memicu peradangan, pelepasan mediator inflamasi, dan penurunan aktivitas nitrit oksida. Hal ini menimbulkan kerusakan endotel pembuluh darah dan meningkatkan risiko aterosklerosis. Peningkatan kadar angiotensin II tidak terlepas dari peranan angiotensin converting enzyme (ACE) yang mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II.
Beberapa penelitian terdahulu telah melaporkan hubungan antara polimorfisme atau variasi gen ACE dengan penyakit kardiovaskular. Hal ini diketahui disebabkan karena peningkatan kadar ACE dalam plasma darah. Terdapat dua variasi pada gen ACE, yaitu jenis insersi (I) dan delesi (D). Kedua variasi ini dapat membentuk tiga jenis genotipe, yaitu II (homozigot mayor), ID (heterozigot), dan DD (homozigot minor). Seseorang dengan polimorfisme gen ACE jenis delesi (DD) memiliki kadar ACE hingga dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang dengan varian jenis insersi (II). Peningkatan kadar ACE plasma ini diduga berkaitan dengan kerapuhan plak koroner dan meningkatkan risiko trombosis pembuluh darah koroner. Penelitian yang dilakukan oleh Hendri dkk. pada pasien suku Jawa dengan PGK nonhemodialisis di Rumah Sakit Universitas Airlangga membuktikan bahwa polimorfisme gen ACE berperan terhadap peningkatan kadar ACE plasma. Hal ini diketahui akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerosis dan kematian kardiovaskular pada pasien PGK. Prediksi risiko penyakit kardiovaskular dan kematian ini diukur dengan aplikasi CKD patch yang dapat memperkirakan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerosis dan kematian kardiovaskular dalam sepuluh tahun ke depan menggunakan beberapa parameter, antara lain laju filtrasi glomerulus, rasio albumin/kreatinin urine, jenis kelamin, ras, tekanan darah, penggunaan obat anti hipertensi, kolesterol HDL, kolesterol total, riwayat diabetes, dan riwayat merokok.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki genotipe II (64,1%), sedangkan sisanya memiliki genotipe ID (34,3%), dan hanya sedikit yang memiliki genotipe DD (4,3%). Walaupun jumlahnya tidak sebanyak varian normal (II), responden yang memiliki polimorfisme (ID atau DD) memiliki kadar ACE yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe II. Hal ini menyebabkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena ACE berfungsi mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II yang akan berikatan dengan reseptornya sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah dan aterosklerosis. Hal unik yang ditemukan pada penelitian ini adalah variasi genetik ACE berbeda antara populasi. Penelitian yang dilakukan pada populasi barat (Prancis, Jerman, Spanyol, Itali, dll) menunjukkan dominasi alel D dibandingkan alel I, sedangkan pada penelitian ini dan beberapa penelitian lain di Asia, alel I merupakan yang dominan.
Dengan memahami peranan ACE terhadap risiko kardiovaskular dan kematian pada pasien PGK, maka upaya intervensi dan pencegahan yang tepat dapat dilakukan lebih awal untuk menurunkan risiko kematian kardiovaskular. Misalnya, pemberian obat golongan inhibitor ACE yang dapat menghambat aktivitas ACE dan memberikan proteksi kardiorenal. Obat-obatan jenis ini dapat menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular dan kematian pada pasien PGK nonhemodialisis. Selain itu, obat-obatan golongan statin (penurun kolesterol) juga dapat diberikan pada pasien PGK sesuai dengan stratifikasi risiko kardiovaskular pada masing-masing pasien. Manfaat lain dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemeriksaan polimorfisme gen ACE dan pengukuran kadar ACE plasma diperlukan untuk memprediksi risiko penyakit kardiovaskular aterosklerosis dan kematian kardiovaskular dalam sepuluh tahun ke depan, khususnya pada populasi PGK.
Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu dan Hendri Susilo
Dosen Fakultas Kedokteran Unair – Rumah Sakit Unair
Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: The Effect of Angiotensin Converting Enzyme (ACE) I/D Polymorphism on Atherosclerotic Cardiovascular Disease and Cardiovascular Mortality Risk in Non-Hemodialyzed Chronic Kidney Disease: The Mediating Role of Plasma ACE Level yang dimuat pada jurnal ilmiah Genes (MDPI) vol 13 nomor 7 tahun 2022
Link artikel asli dapat dilihat pada: https://www.mdpi.com/2073-4425/13/7/1121/pdf





