Universitas Airlangga Official Website

Perbandingan Agility Antara Flatfoot dan Kaki Normal pada Atlet

Foto oleh sftraining.eu

Flatfoott disebut juga pes planus adalah suatu kondisi deformitas postural yang ditandai jatuhnya lengkung busur kaki, dengan semua atau hampir semua telapak kaki kontak dengan permukaan bidang datar. Beberapa individu (kurang lebih 20-30% dari populasi total) tidak mempunyai lengkung kaki baik unilateral ataupun bilateral. Aktivitas yang melibatkan anggota gerak bawah, akan mengaktivasi close kinetic chain, dimana kaki adalah bagian terminal dari rantai tersebut. Apabila terdapat kerusakan pada salah satu bagian dari rantai tersebut, maka akan berefek ke bagian yang lain. Deformitas berupa tinggi atau rendah lengkung longitudinal kaki akan berpengaruh terhadap kinetic chain tersebut. Berdasarkan hal tersebut, flatfoot berkaitan dengan fungsi kaki bawah, dan meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera olahraga, serta mempengaruhi kemampuan motor dari anggota gerak bawah.

Flatfoot mempunyai efek yang signifikan terhadap agility dan keseimbangan statis, dan berkorelasi dengan performa anggota gerak bawah di 6 kegiatan berbeda (squatting and standing, standing on toe, toe walking, heel walking, one leg standing, dan one leg hopping). Terdapat studi lainnya yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara subjek dengan flatfoot dengan yang normal untuk agility dan kekuatan eksplosif kaki. Tes yang paling banyak digunakan untuk menilai agility adalah T-drill test. Tes ini telah diterima secara global sebagai tes standar untuk agility. T-drill test merupakan tes yang sederhana dan hanya memerlukan peralatan dan persiapan minimal. Di T-drill test terdapat faktor kecepatan dengan empat perubahan arah gerakan, dan mempunyai korelasi terkuat dengan daya ledak tenaga. Berdasarkan hal-hal diatas, studi ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara flatfoot dengan kaki normal terhadap agility pada atlet Puslatda Jawa Timur dengan menggunakan uji T drill test.

Studi ini adalah studi retrospektif observasional yang melibatkan rekam medik atlet yang menjalani uji penyaringan cedera olahraga di Sport Clinic RSUD dr. Sutomo Surabaya. Subjek studi ini adalah rekam medik atlet Puslatda Jawa Timur yang memenuhi kriteria. Subjek kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok flatfoot (FF) dan kelompok kaki normal (NF). Analisis data dilakukan untuk membandingkan agility diantara kedua kelompok.

Kesimpulan yang didapatkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara flatfoot dan kaki normal terhadap agility. Tidak didapatkan korelasi signifikan juga antara flatfoot dan kaki normal terhadap agility pada masing-masing cabang olahraga. Jenis kelamin sebagai faktor intrinsik mempunyai korelasi signifikan terhadap agility dengan kekuatan sedang. Atlet diketahui mempunyai kondisi fisik yang lebih baik, termasuk faktor kekuatan, performa, dan adaptasi neuromuskuler. Proses adaptasi neuromuskuler yang terjadi akan menghasilkan perekrutan otot-otot kaki yang lebih halus tetapi efektif sekaligus mengurangi kebutuhan metabolik sehingga akan meningkatkan performa atlet.

Penulis: Bobby Kennedy, Damayanti Tinduh, Ditaruni Asrina Utami, I Putu Alit Pawana, Soenarnatalina Melaniani.

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di Bali Medical Journal

Berikut judul dan link artikel:

Judul: Comparison of Agility Between Flatfoot and Normal Foot in East Java Puslatda Athletes

Link: https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/3955