Setelah kejadian henti jantung, resusitasi sering kali berhasil mengembalikan sirkulasi, namun banyak pasien yang tetap mengalami gangguan neurologis. Kerusakan otak pasca henti jantung ini terjadi akibat iskemia serebral yang parah, yang dapat merusak neuron di area yang rentan, seperti klaustrum dan hippocampus. Salah satu intervensi yang dikenal dapat melindungi otak adalah hipotermia terapeutik, yang telah terbukti mengurangi kerusakan jaringan dan meminimalkan cedera seluler pasca iskemia. Namun, metode yang digunakan untuk mencapai hipotermia masih beragam. Hipotermia paksa, yang umumnya menggunakan es atau selimut dingin, dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh dengan cepat, tetapi tidak efektif dalam mempertahankan suhu tubuh yang stabil. Sebagai alternatif, HBN-1, yang merupakan obat farmakologis yang menginduksi hipotermia, dikembangkan untuk memberikan kontrol lebih terhadap penurunan suhu tubuh tanpa efek samping seperti menggigil atau vasokonstriksi yang dapat mengganggu proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efek hipotermia terapeutik menggunakan HBN-1 dengan hipotermia paksa terhadap perbaikan fungsi neurobehavioral setelah henti jantung pada model hewan eksperimen.
Penelitian ini merupakan studi eksperimen dengan desain kontrol post-test. Hewan percobaan yang digunakan adalah tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi empat kelompok: kelompok kontrol, kelompok normotermia, kelompok hipotermia paksa (menggunakan es), dan kelompok hipotermia terkontrol (menggunakan HBN-1). Setelah induksi henti jantung dengan fibrilasi ventrikel, setiap kelompok diberikan perlakuan hipotermia selama 3 jam. Kelompok normotermia dibiarkan pada suhu tubuh normal, sedangkan kelompok hipotermia paksa diberikan es untuk menurunkan suhu tubuh, dan kelompok HBN-1 diberikan infus HBN-1 untuk mencapai suhu yang diinginkan. Setelah perlakuan, hewan dipelihara selama 7 hari untuk observasi fungsi neurobehavioral yang diukur menggunakan Skor ND Tikus (Rat ND Score).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok hipotermia paksa mencapai suhu tubuh yang lebih cepat dibandingkan dengan kelompok HBN-1 (p=0,01). Semua kelompok hipotermia (baik paksa maupun HBN-1) menunjukkan hasil yang lebih baik pada Skor ND Tikus dibandingkan dengan kelompok normotermia (p=0,012). Kelompok HBN-1 cenderung menunjukkan perbaikan fungsi neurobehavioral yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok hipotermia paksa, meskipun perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (p=0,083). Selain itu, ada korelasi signifikan antara Skor ND Tikus dengan tingkat apoptosis sel neuron di klaustrum (p=0,000), dengan koefisien korelasi 0,843. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan skor neurobehavioral berhubungan langsung dengan kerusakan neuron di area otak yang rentan terhadap iskemia.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun hipotermia paksa lebih cepat dalam menurunkan suhu tubuh, terapi menggunakan HBN-1, sebagai pendekatan farmakologis, memberikan manfaat lebih dalam jangka panjang dalam pemulihan fungsi neurobehavioral. Hal ini menunjukkan bahwa HBN-1 mampu menjaga kestabilan suhu tubuh tanpa efek samping seperti menggigil atau vasokonstriksi yang biasa terjadi pada metode hipotermia paksa, yang bisa memperburuk kondisi pasien. Mekanisme kerja HBN-1, yang melibatkan etanol, vasopresin, dan lidokain, tidak hanya menurunkan suhu tubuh tetapi juga berfungsi untuk mengurangi kerusakan seluler dan meningkatkan perlindungan neuron. Berdasarkan penelitian ini, HBN-1 tampak lebih efektif dalam mengurangi kerusakan otak pasca resusitasi dan meningkatkan perbaikan fungsi neurobehavioral. Meskipun begitu, perbedaan hasil yang tidak signifikan antara kelompok HBN-1 dan hipotermia paksa menandakan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar dan periode observasi yang lebih lama untuk mengevaluasi potensi HBN-1 sebagai terapi standar dalam penanganan pasien dengan kerusakan otak pasca henti jantung.
Hipotermia terapeutik menggunakan HBN-1 menunjukkan penurunan signifikan dalam Skor ND Tikus, yang menunjukkan peningkatan fungsi neurobehavioral pasca henti jantung. Meskipun hipotermia paksa mencapai suhu tubuh lebih cepat, HBN-1 memberikan hasil yang lebih stabil dan berpotensi lebih efektif dalam meningkatkan hasil neurobehavioral. Penelitian ini menyarankan perlunya studi lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas HBN-1, serta potensi penggunaannya sebagai terapi hipotermia terkontrol untuk perlindungan otak setelah henti jantung.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-TI, Subsp. TI (K) dan Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., Sp.An-TI, Subsp. N.An.(K), Subsp. M.N.(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://www.rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2024-17-11-66
Airlangga PS, Zharfan RS, Rehatta NM, Soetjipto, Rahardjo E, Widjiati. Effectiveness of Therapeutic Hypothermia Using HBN-1 Compared to Forced Hypotermia in Neurobehaviour Improvement after Cardiac Arrest: An Experimental Animal Model Study. Vol. 17, Research Journal of Pharmacy and Technology. Research Journal of Pharmacy and Technology; 2024. p. 5632–41.





