Dislipidemia merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh adanya profil lipid darah yang abnormal, yaitu peningkatan kadar kolesterol total, Low Density Lipoprotein (LDL), trigliserida dan penurunan High Density Lipoprotein (HDL). Prevalensi dislipidemia di beberapa benua pada rentang usia 22 – 65 tahun, menurut data WHO tahun 2019, yaitu : Eropa sebesar 53,7 %, Amerika 47,7 % , Asia Tenggara 30,3 % dan Afrika 23,1 %. Sedangkan prevalensi dislipidemia di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar ( RISKESDAS) tahun 2018, yaitu sebesar 35,7 %.
Dislipidemia telah teridentifikasi sebagai faktor risiko utama pada penyakit kardiovaskular, Selain itu dislipidemia juga dikaitkan dengan insiden penyakit stroke iskemik. Atorvastatin merupakan salah satu obat golongan statin yang digunakan pada tata laksana kasus dislipidemia. Obat ini bekerja dengan menghambat HMG-CoA reductase, sehingga konversi HMG-CoA menjadi mevalonate dihambat. Namun laporan terbaru menyebutkan bahwa banyak pengguna statin telah mengalami resistensi , karena tidak didapatkan penuruinan kolesterol yang adekuat dan mengalami intoleransi
Saffron (Crocus sativus Linnaeus) , merupakan salah satu tanaman herbal yang tergolong famili Iridaceae yang berasal dari Iran. Saffron memiliki berbagai manfaat dan peran, dua diantaranya , yaitu sebagai antioksidan dan anti dislipidemia. Saffron mengandung senyawa aktif : Crocin, crocetin, Picocrocin dan Safranal. Safranal dan crocin memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan anti dislipidemia. Aktivitas antioksidan Saffron melalui bahan aktifnya Safranal dan Crocin dapat menangkap radikal bebas dan menghambat peroksidasi lipid.
Selanjutnya Saffron mengakibatkan penurunan peroksidasi lipid yang ditandai dengan terjadinya penurunan pembentukan malondialdehida (MDA). Sedang aktivitas anti dislipidemia Saffron terjadi melalui mekanisme penghambatan aktivitas enzim Lipase pankreas yang berperan untuk memecah lipid menjadi asam lemak dan gliserol sehingga tidak ada lipid yang diserap oleh usus. Mekanisme lainnya yaitu, glikoprotein yang menghambat aktivitas Cholesterol Esther Transport Protein (CETP) glikoprotein plasma yang berperan menurunkan konsentrasi HDL dengan mentransfer ester kolesterol ke lipoprotein yang mengandung Apo-B untuk pembentukan trigliserida.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan “Postest only control group design” yang bertujuan membandingkan antara Saffron dan atorvastatin terhadap profil lipid yang meliputi kolesterol total , LDL , HDl dan trigliserida dalam serum dan kadar MDA dalam serum. Penelitian ini dilakukan selama 50 hari dengan subyek penelitian menggunakan Rattus norvegicus strain Wistar jantan (n=30) berusia 3 bulan dengan berat badan 150-200 gram. Subyek penelitian terbagi dalam 4 kelompok (K-=diet standar; K+=diet tinggi lemak; P1= diet tinggi lemak + ekstrak saffron 16mg/200gBB/hari; P2=diet tinggi lemak + ekstrak Saffron 32mg/200gBB; dan P3=diet tinggi lemak + Atorvastatin 0,2mg/200gBB/hari).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setelah pemberian ekstrak Saffron dosis 16mg/200gBB dan 32mg/200gBB serta atorvastatin didapatkan bahwa kadar profil lipid (kolesterol total, LDL, trigliserida) dan MDA secara signifikan (p <0,05) lebih rendah, sedangkan HDL secara signifikan (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan kelompok diet tinggi lemak (K+).
Kesimpulan dari penelitian ini bahwa kemampuan atorvastatin dalam menurunkan kadar kolesterol total, LDL, trigliserida dan meningkatkan HDL lebih baik bila dibandingkan ekstrak Saffron, sedangkan kemampuan ekstrak Saffron dalam menurunkan MDA dalam serum darah Rattus norvegicus lebih baik bila dibandingkan atorvastatin. Dosis ekstrak Saffron terbaik adalah 32mg/200gBB/hari
Penulis: Dr. Gwenny Ichsan Prabowo., dr.,M.Kes
Informasi lengkap artikel: https://tjnpr.org/index.php/home/article/view/7371





