Disfungsi endotel (endothelial dysfunction, ED) merupakan salah satu mekanisme utama dalam berbagai penyakit kardiovaskular. ED sering dikaitkan dengan obesitas dan hipertensi, yang pada orang dewasa atau lanjut usia ditandai dengan rendahnya nilai flow-mediated dilatation (FMD) dan tingginya kadar endothelin-1 (ET-1). Namun, hubungan ini pada remaja belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan FMD dan ET-1 pada remaja obesitas dengan hipertensi, obesitas tanpa hipertensi, dan remaja normal. Orang yang mengalami obesitas, terutama dengan kondisi komorbid seperti hipertensi dan resistensi insulin, memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular dini akibat disfungsi endotel. Endotel vaskular merupakan pengatur utama dalam menjaga keseimbangan tubuh, mengontrol berbagai proses seperti vasokonstriksi, vasodilatasi, trombogenesis, fibrinolisis, proliferasi sel otot polos, dan adhesi sel. Kalsifikasi, stenosis, dan aterosklerosis dapat mengganggu fungsi-fungsi ini, sehingga disfungsi endotel menjadi tanda awal perkembangan aterosklerosis dan prediktor risiko penyakit kardiovaskular di masa depan.
Penilaian FMD memberikan nilai prognostik independen dalam memprediksi kejadian kardiovaskular di masa depan, bahkan melebihi metode tradisional. Hal ini dikarenakan FMD mencerminkan fungsi nitric oxide (NO) yang dihasilkan oleh endotel. Dalam eksplorasi dinamika sistem kardiovaskular, hubungan antara FMD dan endothelin-1 menjadi fokus penelitian yang menarik. ET-1, yang diproduksi oleh sel endotel, memiliki peran penting dalam mengatur tonus vaskular dan kesehatan pembuluh darah secara keseluruhan. Oleh karena itu, FMD dapat dianggap sebagai salah satu indikator klinis dari disfungsi endotel, sementara ET-1 merupakan salah satu mediator vasoaktif dari disfungsi endotel.
Pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara FMD dan ET-1 dapat memberikan wawasan yang lebih kaya tentang mekanisme regulasi vaskular dan implikasi klinisnya dalam konteks penyakit kardiovaskular. Meskipun beberapa penelitian terkait ET-1 dan FMD pada orang dewasa atau lanjut usia telah diterbitkan, laporan yang berfokus pada populasi remaja masih sangat terbatas. Remaja memiliki pola fisiologis yang berbeda dibandingkan dengan orang dewasa atau lansia, yang memberikan perlindungan terhadap disfungsi endotel yang berlebihan. Selain itu, mengidentifikasi disfungsi endotel pada remaja secara efektif dapat mencegah penyakit kardiovaskular sejak tahap yang sangat awal. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara FMD dan ET-1 pada remaja obesitas dengan hipertensi, remaja obesitas tanpa hipertensi, dan remaja normal.
Penelitian ini melibatkan 72 remaja Indonesia dengan usia rata-rata 195 bulan (14–18 tahun) dan didominasi oleh laki-laki (61%). Partisipan dibagi menjadi tiga kelompok: remaja obesitas dengan hipertensi, remaja obesitas tanpa hipertensi, dan remaja normal. FMD diukur pada arteri brakialis dengan menggunakan tekanan supra-sistolik pada lengan selama 5 menit. Kadar ET-1 diukur menggunakan metode Sandwich ELISA. Kadar ET-1 rata-rata pada seluruh partisipan adalah 42 pg/mL, dengan rentang 2,4–384 pg/mL. Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kadar ET-1 antar kelompok. Nilai FMD secara deskriptif lebih tinggi pada remaja normal, tetapi perbedaan nilai FMD antara kelompok obesitas dengan hipertensi, obesitas tanpa hipertensi, dan normal juga tidak signifikan secara statistik. Analisis lebih lanjut terhadap hubungan antara kadar ET-1 dan FMD menunjukkan tidak ada korelasi yang signifikan. Selain itu, perbandingan kadar ET-1 pada kelompok dengan disfungsi endotel dan tanpa disfungsi endotel juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam kadar ET-1 maupun nilai FMD antara remaja obesitas dengan hipertensi, obesitas tanpa hipertensi, dan remaja normal. Selain itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kadar ET-1 dan FMD pada remaja. Hasil ini memberikan wawasan bahwa meskipun obesitas sering dikaitkan dengan disfungsi endotel pada orang dewasa, hal yang sama belum tentu berlaku pada remaja. Studi lebih lanjut dengan sampel lebih besar dan pendekatan longitudinal diperlukan untuk memahami mekanisme yang mendasari hubungan antara obesitas, hipertensi, dan fungsi endotel pada remaja. Dengan adanya temuan ini, upaya pencegahan obesitas dan pengendalian tekanan darah tetap penting dilakukan sejak usia dini untuk mencegah risiko penyakit kardiovaskular di masa depan.
Penulis Artikel : Meity Ardiana, Nur Aisiyah Widjaja, Achmad Tri Ludfy Avianto, Achmad Faisal Dwi Raharja
Link artikel : https://e-coretvasa.cz/pdfs/cor/2024/06/05.pdf





