Universitas Airlangga Official Website

Perbandingan Kasus Difteri Anak Sebelum dan Selama Pandemi di Kota Surabaya

Perbandingan Kasus Difteri Anak Sebelum dan Selama Pandemi di Kota Surabaya
Sumber: AI Care

Difteri adalah salah satu penyakit menular mematikan yang masih banyak dijumpai di Indonesia. Saat ini Indonesia menempati peringkat 2 dunia setelah India. Di Indonesia, penderita difteri terbanyak ditemukan di Provinsi Jawa Timur. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penderita difteri akan menunjukkan adanya selaput keputihan kotor di lokasi yang diserang, terutama di rongga mulut. Pengobatan difteri memerlukan antibiotika, anti racun, dan beberapa pengobatan lainnya.

Pandemi COVID-19 ditandai dengan terbatasnya kontak dan mobilitas antar manusia. Hal ini memberi konsekuensi menurunnya jumlah kasus penyakit menular di luar COVID-19. Fenomena ini dijumpai di seluruh dunia, termasuk di negara kita. Penelitian ini menyajikan perbandingan data jumlah kasus difteri sebelum dan selama pandemi.

Data penelitian bersumber dari data rutin yang ada di Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Sumber data rutin adalah seluruh sarana kesehatan di wilayah kota Surabaya. Fokus utama penelitian ini adalah usia di bawah 18 tahun. Periode pelaporan adalah 2017 hingga 2022 atau selama enam tahun. Jika terdapat kasus difteri, data akan dikumpulkan selengkap mungkin, yang biasanya mencakup data epidemiologi, data keluarga, data imunisasi, data riwayat sakit dan keadaan fisik, data laboratorium, serta pengobatan yang diberikan. Periode pandemi adalah 2020-2022, sesuai dengan situasi di Indonesia.

Selama periode 6 tahun ditemukan 112 kasus difteri dengan 89 di antaranya berasal dari masa sebelum pandemi. Jumlah kasus selama 2020-2022 lebih sedikit jika dibandingkan periode sebelumnya. Kelompok usia dominan selama 2 periode berbeda relatif konstan, pada 5-12 tahun (44,6%). Sejumlah 67,8% kasus mempunyai status imunisasi tidak lengkap, atau bahkan belum pernah diimunisasi sama sekali. Lokasi difteri terbanyak adalah pada tonsil. Selama periode penelitian, didapatkan 1% kematian. Data mikrobiologi menunjukkan biovar terbanyak adalah gravis yang relatif lebih sulit ditangani dibandingkan biovar lainnya.

Penurunan kasus selama pandemi juga terjadi pada kasus campak, pertusis, dan banyak penyakit menular lain. Hal tersebut bukan disebabkan oleh perbaikan cakupan imunisasi namun lebih karena upaya pencegahan kontak antar manusia yang menjadi salah satu prioritas selama pandemi. Jika diperhatikan trend pada 2021 dan 2022 meningkat dibandingkan tahun 2020, yang kemungkinan besar juga terjadi akibat perubahan pencegahan kontak.

Perubahan jumlah kasus penyakit menular yang dipengaruhi berbagai faktor mengharuskan pihak yang berwenang melakukan pemantauan atau surveilans secara teratur. Upaya pencegahan kenaikan kasus yang terlalu tinggi harus dilakukan sedini mungkin dan ini bergantung pada surveilans.

Penulis: Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,Sp.A(K)

Link: https://www.researchgate.net/publication/383150137_Comparison_of_Diphtheria_Cases_in_Children_Before_and_During_the_Pandemic_Era_in_Surabaya_Indonesia_A_Study_of_Six-Year_Data

Baca juga: Peningkatan Universal Health Coverage (UHC) Pasca Pandemi Covid 19