Universitas Airlangga Official Website

Perbandingan Terapi Turp dan Tuvp pada Penderita Benign Prostatic Hyperplasia

Foto by Ever Clinic

Hiperplasia Prostat Benigna atau BPH merupakan salah satu proses paling umum yang mempengaruhi pria lanjut usia. Pria berusia 80 tahun atau lebih, sesuai bukti histologis 81% memiliki gejala yang terkait dengan BPH, dan 10% lainnya menderita retensi urin. BPH jarang terjadi sebelum usia 40 tahun, rata- rata 50% pria menunjukkan gejala BPH pada usia 50 tahun. Angka insidensi BPH meningkat 10% setiap dekade dan mencapai 80% pada usia 80 tahun.

BPH merupakan kondisi progresif yang ditandai dengan Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) atau pembesaran prostat disertai gejala saluran kemih bawah yang tidak diklasifikasikan sebagai sebuah penyakit, tetapi memiliki gejala kompleks yang ditandai dengan buang air kecil yang terganggu. Gejala LUTS meliputi gejala obstruksi dan gejala iritasi. Sekitar 25% pria memilki gejala LUTS sedang hingga berat, yang sangat mempengaruhi kualitas hidup mereka.

Pembedahan adalah penyelesaian masalah yang paling tepat pada pasien BPH gejala berat. Transurethral Resection of The Prostate (TURP) tetap menjadi prosedur standar emas, namun terdapat terapi alternatif, salah satunya adalah transurethral Vaporization of the prostate (TUVP), yang  merupakan terapi alternatif yang paling menjanjikan. Terdapat beberapa studi yang membandingkan kedua terapi ini dengan hasil bervariasi. Beberapa studi membuktikan TUVP menghasilkan outcome yang lebih baik jika dibandingkan TURP terutama pada angka terjadinya perdarahan dan prevalensi retensi urin pasca operasi, meskipun di sejumlah negara di dunia TURP masih menjadi standar emas.

International Prostate Symptom Score (IPSS) merupakan alat ukur berupa kuesioner yang biasa digunakan untuk menilai derajat keparahan gejala pada penderita BPH. Variabel pembanding pada penelitian ini adalah hasil IPSS dan Uroflowmetri post-operasi TURP dan TUVP. IPSS terdiri dari 7 pertanyaan gejala LUTS (pengosongan tidak sempurna, frekuensi, intermitensi, urgensi, dll.) Uroflowmetri merupakan alat ukur urodinamik non-invasif yang banyak digunakan untuk sebagian besar pasien dengan dugaan disfungsi saluran kemih bagian bawah (LUTS).

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut perbedaan outcome terutama IPSS dan Qmax pasca terapi TURP dan TUVP pada penderita BPH dengan membandingkan hasil skor IPSS dan uroflowmetri pasca operasi. Penelitian ini merupakan penelitian sekunder dalam bentuk Systematical Review, yakni suatu metode penelitian yang menyusun seluruh bukti empiris yang sesuai dengan kriteria kelayakan untuk menjawab pertanyaan penelitian tertentu.

Pencarian literatur dalam penelitian ini dilakukan melalui pangkalan data elektronik Medline, Cochrane Journals, dan Google Scholar untuk mengidetifikasi penelitian yang relevan. Kualitas Evidence dievaluasi dengan melakukan kuesioner Joanna Briggs Institute (JBI) yang berisi beberapa pertanyaan untuk menilai kualitas bias pada suatu artikel. Proses ekstrak data dilakukan dengan tujuan memindahkan dan mengambil informasi yang terkait dengan penelitian yang dilakukan dari litelatur yang digunakan menggunakan form pengumpul data yang dimodifikasi dari Cochrane (The Cochrane Library). Didapatkan 8 studi yang sesuai dan berpotensi dikaji, setelah melalui proses screening.

Penelitian ini mendapatkan hasil, bahwa pada pasien dengan gejala LUTS berat pada hasil IPSS (skor 20-35) dapat dibandingkan pada follow-up bulan ketiga pada terapi TURP mengalami peningkatan sebesar 55.67% (skor 22.56-10.0), terapi Bipolar Plasma Vaporization (BPV) mengalami peningkatan sebesar 60.8% (skor 22.0-8.61), terapi Transurethral Electrovaporization of The Prostate (TUEVP) mengalami peningkatan sebesar 83% (skor 24.8-4.2), terapi Photoseleective Vaporization of The Prostate (PVP) mengalami peningkatan sebesar 78.2% (skor 24.4-5.3), terapi Biolitec mengalami peningkatan sebesar 52.1% (skor 20.5-9.8), dan terapi Thulium Vaporesection of The Prostate (ThuVARP) mengalami peningkatan sebesar 57.6% (skor 21,74-9.2). Hasil data didapatkan sebagai berikut : TURP < BPV, TURP < TUEVP, TURP < PVP, TURP > Biolitec, dan TURP < ThuVARP.

Pasien dengan hasil uroflowmetri <15 mL/s hasil Qmax dapat dibandingkan pada follow-up bulan ketiga hasil Qmax pada terapi TURP mengalami peningkatan sebesar 65.5% (8-23,2 mL/s), terapi BPV mengalami peningkatan sebesar 49.7% (9-17,9 mL/s), terapi TUEVP mengalami peningkatan sebesar 54.5% (8.16-17.76 mL/s), terapi PVP mengalami peningkatan sebesar 73.9 % (5.5-21.1 mL/s), dan terapi ThuVARP mengalami peningkatan sebesar 55.8% (8.9-20.1 mL/s). Hasil data didapatkan sebagai berikut : TURP > BPV, TURP > TUEVP, TURP < PVP, dan TURP > ThuVA.

Penulis: Rafael Otniel Kestito, Anny Setijo Rahaju, Tarmono, Abdul Khairul Rizki Purba

Judul dan link artikel jurnal yang dituliskan menjadi opini. 

Judul artikel: OUTCOMES ANALYSIS OF TRANSURETHRAL RESECTION OF THE PROSTATE (TURP) AND TRANSURETHRAL VAPORIZATION OF THE PROSTATE (TUVP) IN PATIENT WITH BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA: SYSTEMATIC REVIEW

Link artikel: https://juri.urologi.or.id/juri/article/view/845