Sains dan Lupa Nama
Ilmu pengetahuan seharusnya tentang eksplorasi, penemuan, dan pengakuan terhadap siapa saja yang berkontribusi. Namun, sejarah sains sering kali bekerja seperti algoritma yang hanya mengenali pola tertentu—pola yang terlalu sering berbentuk nama-nama lelaki. Kita semua tahu Newton dan hukum gravitasinya, Einstein dengan teori relativitas, Hawking dengan fisika kuantum. Tetapi berapa banyak yang mengenal Lise Meitner, perempuan di balik penemuan fisi nuklir yang justru diabaikan oleh Komite Nobel? Atau Jocelyn Bell Burnell, yang menemukan pulsar tetapi diabaikan dalam penghargaan yang justru diberikan kepada supervisornya? Bahkan Rosalind Franklin, yang foto DNA-nya menjadi kunci dalam penemuan struktur heliks ganda, hanya disebut sekilas dalam sejarah, sementara nama Watson dan Crick yang dielu-elukan.
Apakah ini sekadar kecelakaan sejarah? Atau sebenarnya ada pola sistematis yang membuat kontribusi perempuan dalam sains menghilang seperti eksperimen gagal yang tak pernah dipublikasikan? Setiap tahun, Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains diperingati sebagai upaya untuk mengubah narasi ini, tetapi pertanyaannya: apakah sekadar perayaan dan simbolisme cukup untuk menghapus bias yang sudah tertanam begitu dalam?
Data dari UNESCO menyebutkan bahwa hanya 29% dari total peneliti di dunia adalah perempuan. Sebuah angka yang di satu sisi dianggap sebagai kemajuan, tetapi di sisi lain, justru membuktikan bahwa masih ada ketimpangan besar yang harus diperbaiki. Angka ini pun tidak menceritakan segalanya. Berapa banyak dari 29% itu yang benar-benar mendapatkan pengakuan? Berapa banyak yang mendapat dana riset yang layak? Berapa banyak yang menempati posisi kepemimpinan di laboratorium, universitas, dan lembaga penelitian? Berapa banyak yang bisa bertahan di dunia akademik tanpa harus menghadapi bias yang terus-menerus menghalangi langkah mereka?
Ilusi Akses, Realita Hambatan
Sains sering dipandang sebagai ranah objektif, di mana hanya logika dan bukti yang berbicara. Tetapi jika kita melihat bagaimana sistemnya bekerja, sains ternyata lebih bias daripada yang kita kira. Perempuan memang semakin banyak memasuki dunia STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), tetapi apakah akses mereka sama dengan laki-laki? Masuk ke dalam dunia sains adalah satu hal. Tetapi bertahan dan mendapatkan pengakuan di dalamnya adalah tantangan lain yang jauh lebih berat.
Sistem akademik, meskipun sering mengklaim inklusivitas, tetap mempertahankan mekanisme tak kasat mata yang membuat perempuan harus bekerja dua kali lebih keras untuk diakui. Di laboratorium, mereka lebih sering ditempatkan dalam tugas teknis atau administratif, sementara bagian konseptual dan kepemimpinan diambil oleh kolega laki-laki. Dalam publikasi ilmiah, banyak perempuan yang ditempatkan sebagai penulis kedua atau ketiga, meskipun kontribusinya lebih dari sekadar ‘asisten penelitian’. Dan jika mereka vokal dalam memperjuangkan hak mereka? Bersiaplah dengan label ‘terlalu agresif’, ‘tidak cukup kolaboratif’, atau ‘terlalu emosional untuk sains’.
Lebih buruk lagi, bias ini seringkali bersifat struktural dan dimulai sejak dini. Anak perempuan yang tertarik pada matematika dan fisika seringkali mendapatkan perlakuan berbeda daripada anak laki-laki. Mereka didorong untuk memilih jalur yang lebih ‘aman’, seperti biologi atau farmasi, daripada fisika atau teknik yang masih didominasi laki-laki. Dan ketika mereka berhasil menembus batas itu pun, mereka masih harus menghadapi tantangan dalam dunia kerja yang lebih memilih mempromosikan kolega laki-laki dengan alasan yang, jika dirunut, sering kali tidak lebih dari bias lama yang terus diulang.
Eksodus Tak Terlihat: Kenapa Mereka Pergi?
Salah satu ironi terbesar dalam dunia sains adalah bagaimana perempuan didorong untuk masuk ke STEM. Tetapi kemudian tidak mendapatkan alasan yang cukup untuk bertahan. Laporan World Economic Forum 2023menunjukkan bahwa perempuan lebih mungkin meninggalkan karier di STEM dibandingkan laki-laki. Ini bukan karena mereka kurang berbakat atau kurang berkomitmen, tetapi karena sistemnya tidak mendukung mereka untuk bertahan.
Kurangnya dukungan di lingkungan kerja, bias gender dalam pendanaan riset, minimnya fleksibilitas bagi mereka yang juga menjalankan peran domestik, serta tidak adanya representasi yang cukup dalam posisi kepemimpinan menjadi alasan utama kenapa banyak perempuan akhirnya memilih jalur lain. Mereka bukan keluar karena gagal, tetapi karena mereka dipaksa untuk memilih antara bertahan dalam sistem yang tak adil atau membangun karier di tempat lain yang lebih menghargai mereka.
Ironisnya, dunia sains justru kehilangan begitu banyak potensi hanya karena ia terlalu lambat untuk berubah. Jika lebih banyak perempuan dalam sains diberikan akses yang sama dan lingkungan yang mendukung, siapa yang tahu berapa banyak penemuan besar yang bisa terjadi?
Revolusi yang Tak Bisa Ditunda
Tentu saja, sudah ada berbagai inisiatif untuk memperbaiki keadaan. Beasiswa khusus, program mentoring, dan kebijakan inklusif semakin banyak diterapkan di berbagai negara. Tapi pertanyaannya, apakah ini cukup? Ataukah ini hanya sekadar solusi permukaan yang tidak menyentuh akar masalah?
Kita perlu lebih dari sekadar insentif. Kita perlu perubahan struktural yang benar-benar bisa membuka jalan bagi perempuan dalam sains. Mulai dari pendidikan dasar yang harus lebih inklusif dan tidak lagi secara halus mengarahkan anak perempuan ke bidang-bidang yang lebih “cocok” bagi mereka, hingga perubahan dalam sistem akademik dan industri riset yang harus lebih transparan dan adil dalam memberikan kesempatan.
Dunia sains tidak kekurangan perempuan berbakat. Yang kurang adalah sistem yang mau mengakui dan memberi mereka ruang untuk berkembang. Sejarah telah melupakan banyak nama perempuan dalam sains, tetapi masa depan tidak harus mengulang kesalahan yang sama. Jika kita benar-benar percaya bahwa sains adalah pencarian kebenaran, maka sudah saatnya kita juga jujur dalam melihat bagaimana sistem ini bekerja. Apakah ia benar-benar objektif, ataukah ia masih berpegang pada bias yang sudah terlalu lama dipertahankan?
Sains seharusnya tidak hanya menjadi tempat bagi mereka yang paling keras bersuara atau paling banyak mendapat dukungan. Ia harus menjadi tempat bagi siapa saja yang mampu berpikir kritis, mengeksplorasi, dan menemukan. Dan perempuan telah melakukan itu semua sejak lama—hanya saja, kini saatnya dunia benar-benar melihatnya.
Penulis: Alia Dewi Kartika, Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga





