Peritonitis generalisata adalah suatu kondisi peradangan pada peritoneum, yaitu selaput tipis yang membatasi dinding dalam perut dan organ-organ perut dimana pada rongga dalam perut terjadi suatu infeksi, paling sering disebabkan kebocoran saluran cerna sehingga meninmbulkan rangsangan pada peritoneum.
Kondisi yang dapat menyebabkan peritonitis dari saluran pencernaan yaitu: ada radang usus buntu, divertikulitis, atau tukak lambung yang robek, kanker di saluran atau organ pencernaan, misalnya hati dan usus besar, peradangan di pankreas (pankreatitis), penyakit radang panggul pada wanita, peradangan di saluran pencernaan, seperti penyakit Crohn, infeksi pada kantung empedu, usus kecil, atau aliran darah, sirosis hati yang disertai penumpukan cairan di rongga perut (asites).
Tanda peritonitis berupa nyeri perut mendadak, perut kembung, perut membesar dan teraba keras, mual dan muntah, demam, sulit buang gas. Pemeriksaan klinis berupa nyeri tekan dinding perut (defans), hilangnya bising usus. Peningkatan nadi, suhu tubuh, peningkatan ritme pernafasan bahkan terjadi penurunan tekanan darah. Pemeriksaan laboratorium dasar menunjukkan lekositosis atau menjadi leukopenia.
Berdasarkan mekanisme etiologinya, peritonitis dapat dikategorisasikan menjadi peritonitis primer, dan sekunder. Peritonitis primer adalah peritonitis yang disebabkan oleh infeksi yang tersebar melalui penyebaran hematogen. Sedangkan peritonitis sekunder adalah peritonitis yang disebabkan oleh adanya perforasi organ berongga di abdomen, atau iritasi steril yang disebabkan oleh benda asing atau cairan steril yang tumpah dari perforasi organ.
Kematian akibat perforasi saluran pencernaan relatif tinggi (20-40%) karena syok septik dan kegagalan multiorgan. Di kalangan pasien lansia, perforasi akut membawa dampak kematian 35% dan angka morbiditas 50%. Data di RSUD Soetomo tahun 2019 – 2022 ada 98 kasus dengan peritonitis generalisata karena perforasi saluran cerna, Dimana 69 kasus dilakukan operasi laparotomi dan 25 kasus hanya dilakukan drainase eksternal saja, di mana angka bertahan hidup pada operasi laparotomi 46,4% dan mortalitas 53,6%. Sedangkan pasien dengan drainase eksternal angka bertahan hidup 52 % dan mortalitas 48%.
Beberapa skor prognostik yang digunakan untuk memprediksi mortalitas pada kasus perforasi kebocoran saluran cerna adalah skor Boey, skor SOFA dan skor CPIRO. Skor Boey digunakan pada perforasi ulkus peptikum dimana untuk menentukan tindakan operasi yang akan dilakukan. SOFA singkatan dari (Sequential Organ Failure Assessment).
CPIRO singkatan dari Calgary Predisposition, Infection, Response and Organ Dysfunction), Skor SOFA dan CPIRO ini digunakan untuk prediksi mortalitas pada peritonitis sekunder yang disebabkan perforasi saluran cerna. Skor CPIRO memberikan nilai prediktif sensitifitas, spesifisitas, nilai prediksipositif dan akurasi lebih baik dibandingkan skor SOFA. CPIRO adalah penilaian yang sangat sederhana dan tepat sistem untuk praktik klinis, memungkinkan ahli bedah untuk menganalisis kondisi pasien dengan cepat.
Penelitian skor CPIRO dapat digunakan untuk menentukan pilihan pengobatan utama laparotomi eksplorasi atau minor pilihan drainase eksternal untuk kasus peritonitis umum karena berongga perforasi organ. Tindakan operasi mayor memberikan resiko dan beban yang berat terutama padan pasien dengan kondisi sepsis sehingga pemilihan tindakan seminimal mungkin untuk mengurangi resiko pada pasien sepsis tetapi dapat mengkontrol menurunkan sumber infeksi yang ada dalam rongga perut.
Tindakan drainase eksternal suatu prosedur tindakan melakukan kontrol sumber infeksi dengan mengalirkan nanah keluar tubuh. Drainase perkutan ini lebih efektif dari pada laparotomi eksplorasi, efisiensi pembiayaan, meningkatkan angka bertahan hidup.
Pada skor CPIRO, predisposisi yang dimaksud adalah faktor pedisposisi berupa usia lanjut di atas 65 tahun, penyakit komorbid berupa diabetes melitus, keganasan, hipertensi, infeksi tbc. Respon pasien terjadi hipotermi, leukopenia. Disfungsi organ berupa disfungsi kardiovaskuler, kegagalan nafas, kegagalan fungsi ginjal dan kegagalan sistem saraf pusat. Skor CPIRO dimulai skor 0 sampai 6. Semakin tinggi skor CPIRO dianjurkan untuk tindakan seminimal mungkin berupa drainase eksternal.
Penulis: DR. dr. Marjono Dwi Wibowo SpB (K)
Link: https://balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4855





