Prosedur ilmiah dalam identifikasi forensik diperlukan untuk mengungkap identitas seseorang baik masih hidup maupun telah meninggal dunia. Hal ini penting dilakukan karena berkaitan erat dengan aspek medicolegal dan hak asasi manusia. Dalam Interpol DVI Guide dijelaskan bahwa proses identifikasi dapat dilakukan melalui analisis DNA, sidik jari, dan gigi. Selain itu, identifikasi individu dapat didukung oleh data-data sekunder seperti kartu identitas, barang-barang yang pernah dipakai, dan keterangan terkait karakteristik khas seseorang. Seorang ahli kedokteran gigi forensik memainkan peran penting dalam proses identifikasi melalui pemeriksaan gigi-geligi. Gigi merupakan jaringan tubuh manusia yang paling kuat dan dapat bertahan pada kondisi ekstrem seperti trauma fisik, mekanik, dan kimia. Berbagai informasi penting, seperti jenis kelamin, usia biologis, dan profil DNA dapat diambil dari gigi.
Seiring dengan adanya peningkatan global dalam gerakan migrasi, bencana massal, kriminalitas, dan terorisme, perhitungan estimasi usia menjadi sangat penting bagi dalam pandangan hukum dan ilmu forensik. Di bidang forensik, estimasi usia individu dibahas dalam dua aspek yaitu usia kronologis dan usia biologis. Usia kronologis juga dikenal sebagai “usia yang terdokumentasi”, sedangkan usia biologis dapat diterjemahkan sebagai usia yang mewakili kondisi biologis pada tubuh seseorang. Estimasi usia merupakan salah satu bidang kajian odontologi forensik yang berfokus pada pengembangan metode yang andal, akurat, dan tepat untuk menentukan usia individu.
Metode estimasi usia melalui gigi dapat dievaluasi menggunakan beberapa pendekatan, antara lain melalui analisis morfologi, radiografi, dan biokimia. Pendekatan secara radiografis lebih sering digunakan oleh ahli odontologi forensik karena efisiensi waktu dan biaya, serta pertimbangan etik. Metode radiografi untuk memperkirakan usia melalui gigi telah dikembangkan dengan mengevaluasi tahap pertubmbuhan dan perkembangan gigi, pembentukan dentin sekunder, dan perubahan post-formation lainnya. Parameter pertumbuhan dan perkembangan gigi memberikan hasil perhitungan usia yang akurat dan dapat diandalkan pada kelompok usia anak-anak dan remaja. Namun, pada kelompok usia dewasa, terdapat berbagai faktor endogen dan eksogen telah mempengaruhi pertumbuhan gigi, sehingga menyebabkan estimasi usia gigi menjadi tantangan tersendiri bagi ahli odontologi forensik.
Pada tahun 2007, Cameriere dkk. memperkenalkan sebuah metode estimasi usia gigi berdasarkan perhitungan rasio pulpa/gigi dari gigi caninus. Gigi caninus dipilih dalam perhitungan estimasi usia ini dengan beberapa alasan, salah satunya adalah kemudahan analisis karena memiliki area pulpa yang besar. Temuan Cameriere ini menunjukkan bahwa gigi caninus merupakan parameter morfologi yang sesuai untuk perhitungan estimasi usia pada kelompok usia dewasa.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang terletak di kawasan ring of fire yang rawan bencana alam. Sehingga untuk melakukan identifikasi korban bencana alam diperlukan berbagai metode identifikasi yang efektif dan efisien, termasuk metode estimasi usia. Untuk itu, Departemen Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga melakukan penelitian tentang estimasi usia dewasa di Surabaya menggunakan metode yang diperkenalkan oleh Cameriere. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk menganalisis tingkat akurasi dan reliabilitas rasio luas pulpa/gigi pada radiografi panoramic untuk memperkirakan usia biologis seseorang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa standar deviasi untuk perhitungan estimasi usia pada sample di Surabaya adalah sebesar 6,37 tahun, dimana pada penelitian asalnya adalah sebesar 4,38 tahun. Berdasarkan pengelompokan jenis kelamin, dapat diketahui bahwa standar deviasi pada perempuan adalah 5,34 tahun dan pada laki-laki sebesar 7,40 tahun. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Singh dkk., 2014, atrisi gigi dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ketepatan perhitungan estimasi usia pada laki-laki. Secara umum, laki-laki memiliki tingkat atrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan karena mereka memiliki fungsi otot masseter yang lebih kuat, massa otot yang lebih besar dan ligament yang lebih kuat sehingga menghasilkan kekuatan gigitan yang lebih besar.
Jika ditilik berdasarkan rentang usia tertentu, maka dapat diketahui bahwa kelompok dewasa menengah menunjukkan tingkat akurasi yang lebih tinggi (dengan SD= 3,90 tahun) dibandingkan dengan kelompok dewasa muda. Temuan ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Kvall dkk. (1995) dan Hidayat dkk. (2018) yang menjelaskan bahwa deposisi dentin sekunder berhubungan erat dengan pertambahan usia seseorang. Total area pulpa menurun secara signifikan seiring bertambahnya usia karena pembentukan dentin sekunder. Deposisi dentin sekunder terjadi secara lebih lambat pada orang berusia 35-40 tahun. Deposisi dentin sekunder merupakan proses fisiologis yang terjadi secara teratur pada gigi manusia. Pulpa gigi dan dentin merespon berbagai kondisi fisiologis dan patologis. Respon kompleks pulpa-dentin menyebabkan penyempitan ukuran ruang pulpa. Oleh karena itu, deposisi dentin sekunder merupakan parameter penting untuk memperkirakan usia gigi pada orang dewasa.
Penulis: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D
Diambil dari artikel ilmiah berjudul: Adults’ dental age estimation by mandibular canines’ pulp/tooth ratio in Surabaya, Indonesia
Artikel dapat diakses pada tautan berikut:
https://hrcak.srce.hr/ojs/index.php/paleodontology/article/view/21335





