UNAIR NEW– Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menyelenggarakan puncak acara Dies Natalis pada Kamis (12/6/2025). Perayaan puncak dies natalis tersebut ditandai dengan seminar nasional yang bertempat di Auditorium Ternate Lantai 1, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. Dalam seminar bertajuk Vokasi Menggerakkan Hilirisasi, Menciptakan Dampak untuk Negeri itu sekaligus menjadi inti refleksi bahwa selama 11 tahun berdiri, Fakultas Vokasi berupaya ambil peran dalam hilirisasi berdampak bagi Indonesia.
Vokasi sebagai Garda Terdepan
Pendidikan vokasi memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa, terutama dalam menggerakkan hilirisasi berdampak bagi masyarakat. Dekan Fakultas Vokasi UNAIR, Prof Dr Anwar Ma’ruf drh M Kes menyatakan bahwa vokasi merupakan garda terdepan. Khususnya dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang siap menggerakkan proses hilirisasi.
Lebih lanjut, Prof Anwar menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix (masyarakat, pemerintah, industri, dan media) dalam mewujudkan hilirisasi yang efektif. “Kolaborasi erat dengan berbagai pihak sangat penting. Dengan bersinergi, kita dapat memastikan bahwa lulusan vokasi tidak hanya kompeten. Tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang menggerakkan roda perekonomian dan memberikan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Acara Dies Natalis Vokasi UNAIR ke-11 tersebut turut menghadirkan Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Dr Beny Bandanadjaja ST MT. Beny juga turut menyoroti peran pendidikan vokasi dalam industrialisasi dan hilirisasi di Indonesia.
Industrialisasi dan Hilirisasi Berdampak
Istilah hilirisasi bukanlah hal baru di Indonesia. Konsep ini telah ramai di kalangan para menteri dan pemangku kebijakan. Terutama mengingat posisi Indonesia yang masih dalam kategori middle income trap. Indonesia yang kaya sumber daya alam, selama ini cenderung menjual komoditas mentah yang sebenarnya memiliki potensi ekonomi begitu besar.

“Industrialisasi pengolahan bahan baku menjadi kunci. Dengan itu, kita bisa menciptakan produk bernilai tambah tinggi,” jelas Beny. Dengan adanya industri pengolahan, bahan mentah dari sektor hulu bisa menjadi produk jadi atau setengah jadi yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi.
Sejalan dengan visi pembangunan nasional, Kemendiktisaintek senantiasa menyelaraskan program-programnya dengan Asta Cita atau delapan agenda utama pembangunan. Dalam konteks hilirisasi, filosofi dari hulu ke hilir perlu diperhatikan. Hal ini berarti bahwa hilir yang baik tidak akan tercapai tanpa dukungan hulu yang kuat.
“Namun, keberhasilan hilirisasi tidak dapat dicapai secara parsial. Perlu adanya kolaborasi yang erat antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat,” terang Beny.
Penulis: Arifatun Nazilah
Editor: Yulia Rohmawati





