Universitas Airlangga Official Website

Perkembangan Hipertensi Arteri Paru

Ilustrasi Paru-Paru (Sumber: Bisnis style)
Ilustrasi Paru-Paru (Sumber: Bisnis style)

Hipertensi pulmonal (HP) merupakan keadaan di mana terjadi peningkatan rerata tekanan arteri pulmonal (TAP)≥20 mmHg pada saat istirahat yang diukur melalui kateterisasi jantung kanan. Definisi HP pada anak sama dengan dewasa, ada 5 jenis kalsifikasi Hipertensi Pulmonal, yakni Hipertensi arteri pulmonal (HAP), HP karena penyakit jantung kiri, HP karena penyakit paru dan atau hipoksia, HP tromboemboli kronik, dan HP dengan mekanisme multifaktor yang tidak jelas.

Prevalensi HAP pada dewasa 15 hingga 50 kasus/sejuta dewasa, sedangkan pada anak 2 hingga 16 kasus/sejuta anak. Meskipun jarang, penyakit jantung bawaan dan didapat masih banyak yang belum diobati dengan adekuat karena keterbatasan sarana. Apabila tidak diterapi, HAP idiopatik akan berakhir pada kematian dalam 2 hingga 3 tahun pada dewasa dan dalam 1 tahun pada anak bila tidak diterapi. Patofisiologi hipertensi arteri paru (PAH) bersifat kompleks. Peningkatan endothelin-1 (ET-1) yang merupakan vasokonstriktor paling kuat, didapatkan pada pasien dengan HAP. Produksi ET-1 tersebut akan berkontribusi pada abnormalitas pembuluh darah yang berhubungan dengan hipertensi pulmonal. Pada pasien HAP juga ditandai dengan infiltrasi sel inflamasi dan peningkatan sitokin proinflamasi seperti vascular endothelial growth factor (VEGF), IL-6, IL-1α, IL-1β, TNF-α dan platelet derived growth factor-BB (PDGF-BB). Patologi dan tanda-tanda biologi molekuler selama perkembangannya menarik untuk dipelajari, karena itu kami melakukan penelitian yang bertujuan mengetahui perkembangan PAH dari minggu pertama hingga minggu keempat pada hewan coba model hipertensi arteri pulmonal.

Penelitian ini berfokus pada endothelin-1 (ET-1), tumor necrosis factor α (TNF-α), extracellular signal-regulated kinase 1/2 (ERK1/2), intima media thickness (IMT), dan proliferasi sel otot polos arteri paru (PASMCs) dan fibroblast. Enam ekor tikus Wistar jantan berusia 4 bulan dengan kisaran berat badan (BB) 180–230 g digunakan dalam percobaan ini. Tikus disuntik dengan Monocrotaline (MCT) 60 mg/kg BB secara subkutan untuk menginduksi PAH. Tikus dibius dengan Ketamin 50 mg/kg BB dan Xylazin 5 mg/kg BB secara intramuskular sebelum kateterisasi. Kateterisasi jantung kanan dilakukan pada hari ke-1, ke-2, ke-4, ke-9, ke-16, dan ke-23 setelah injeksi MCT. Setelah kateterisasi selesai, eksanguinasi intrakardiak dilakukan dan serum darah dianalisis dengan ELISA untuk ET-1, TNF-α, dan ERK1/2. Paru-paru dipanen dan diblokir dengan parafin sebelum dianalisis untuk IMT dan proliferasi PASMC dan fibroblas. Hasil: Pada minggu pertama hingga minggu kedua setelah injeksi MCT, tekanan arteri paru rata-rata berfluktuasi. Namun, setelah minggu ke-3 hingga ke-4 setelah injeksi MCT, nilainya menjadi lebih dari 40 mmHg. Hal ini juga diikuti oleh kadar ET-1 lebih dari 78 pg/ml, kadar TNF-α lebih dari 223 ng/l, kadar ERK1/2 lebih dari 47 ng/ml, IMT lebih dari 42 µm, rasio PASMC lebih dari 65%, dan rasio fibroblast 30%–35%. Kesimpulan: Hipertensi paru terjadi pada minggu ke-3 hingga ke-4 setelah injeksi MCT pada model.

Disarikan dari artikel dengan judul: “Progression of pulmonary arterial hypertension: A study in model” yang diterbitkan bulan Desember 2024 di Open Veterinary Journal, (2024), Vol. 14 No 12), Halaman: 3498-3504. Link: https://www.openveterinaryjournal.com/index.php?mno=225411&html=1

Penulis:

Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)

Scopus ID 56705347700

Departemen Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga