Universitas Airlangga Official Website

Perkembangan Ilmu Akuntansi Mendukung Good Corporate Governance

ilustrasi: Rio F. Rachman / UNAIR News

UNAIR NEWS – Ilmu akuntansi terus berkembang. Posisinya dalam masyarakat pun terus bergeser dan meluas. Para akuntan dituntut untuk melek dengan kemajuan zaman. Mereka bukan hanya bookkeeper atau penjaga buku keuangan di sebuah perusahaan atau organisasi. Lebih dari itu, mereka bisa menjadi ujung tombak pengelolaan keuangan. Tepatnya, sebagai konsultan yang menjadi jembatan antara pelaksana perusahaan/organisasi dan pemilik uang.

Dalam perkembangannya, akuntan tidak hanya dikenal sebagai auditor dan penyedia informasi. Sekarang, profesi akuntan sudah masuk ke lintas sektoral hingga bisa berada di puncak pemimpin tertinggi, pengambil keputusan. Itu adalah dampak dari betapa fundamentalnya keahlian itu.

“Para akuntan harus memiliki mindset revolusioner untuk turut bisa mengawal pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan akuntabel. Mereka mesti memiliki hasrat untuk mewujudkan Good Corporate Governance,” papar Prof. Dr. I Made Narsa, S.E., M.Si., CA. saat ditemui di ruang kerjanya, Perpustakaan UNAIR.

Secara alamiah, ilmu akuntansi akan berevolusi. Tatkala tuntutan perlunya harmonisasi akuntansi, ilmu ini bergeser dari rule-based ke principle-based. Ketika proses bisnis semakin rumit, dalam akuntansi telah muncul konsep activity based costing.

Lelaki yang merupakan Kepala Perpustakaan UNAIR itu mengatakan, akuntan harus sanggup dan mau berperan pada posisi strategis sebagai pengurai masalah. Akuntan dituntut untuk mampu berpikir kritis dan kreatif. Penggabungan pemikiran kritis dan kreatif, kata Prof. Narsa, akan memunculkan pandangan-pandangan baru dalam memecahkan persoalan bangsa.

Mereka harus lihai mengomunikasikan gagasan, menegosiasikan kemenangan, mengelola human capital, lincah dalam membangun jaringan, dan mampu berhadapan dengan berbagai masalah sosial budaya.

Terlebih, penelitian yang berbasis di bidang ini pun makin memiliki ragam fokus maupun tema. Antara lain, dalam lingkup topic Green Accounting, Forensic Accounting, dan Behavioral Accounting. Green Acoounting umumnya membahas tentang cost lingkungan dari suatu usaha/perusahaan.

Biaya yang timbul di luar akibat beroperasinya suatu usaha/perusahaan, perlu dihitung secara rinci. Salah satu gunanya, menjadi parameter dalam memutuskan besaran Corporate Social Responsibility (CSR). CSR ini diberikan pada lingkungan dan azasnya, untuk memberi timbal balik pada masyarakat sekitar atas efek yang ditimbulkan oleh usaha/perusahaan.

Sementara itu, Forensic Accounting menyoroti tentang alur penghitungan keuangan dan aspek-aspek yang mengitarinya. Umumnya, dipakai saat ingin mengetahui jumlah kesalahan tata kelola atau penghitungan dalam ranah ini. Pada suatu titik, riset menyeluruh soal tema ini dapat membantu pengembangan ilmu pengetahuan yang bersinggungan dengan kriminalitas.

Sedangkan Behavioral Accounting, mengkaji soal suatu sistem akuntansi yang berpengaruh terhadap tingkah laku masyarakat sekitar. Selain itu, tema ini bisa pula difokuskan pada pengaruh individu di sebuah organisasi atau struktur yang menggunakan sistem tersebut.

“Tentu, masih ada banyak tema lain dalam riset penelitian yang hubungannya erat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai imbas kemajuan teknologi, informasi, serta perubahan kebutuhan masyarakat,” kata lelaki yang pada Januari 2016 menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar berjudul Pergeseran-pergeseran dalam Akuntansi dan Peran Strategis Akuntan untuk Mengawal Tata Kelola yang Baik dan Bersih.

Dia menambahkan, penelitian aplikatif di bidang akuntansi bertujuan mewujudkan Good Corporate Governance. Sehingga, tata kelola sebuah struktur mesti dibuat efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan berlandaskan falsafah “TARIF”, yakni transparan, akuntabel, responsibel (bertanggungjawab), independen, dan fair (adil dan tidak merugikan pihak manapun).

Ada satu hal penting lain. Yakni, moralitas. Seorang akuntan, sebagai cerdik-cendikia, mesti memiliki landasan moral yang baik. Perspektif agama dalam dirinya mesti dikedepankan. Dengan demikian, selain berjalan dengan baik, aplikasi ilmu akuntansi yang dilakukannya juga bersih dan tidak bertujuan materi semata. (*)

Editor: Nuri Hermawan