Universitas Airlangga Official Website

Perjalanan Lolos UTBK di UNAIR, Dua Mahasiswa Ungkap Pengalaman dan Tipsnya

Khesya (kanan) saat Mengikuti PKKMB UNAIR 2025 di Airlangga Convention Center dan Tisya (kiri) Mahasiswa FISIP Angkatan 2025 (Foto: Istimewa)
Khesya (kanan) saat Mengikuti PKKMB UNAIR 2025 di Airlangga Convention Center dan Tisya (kiri) Mahasiswa FISIP Angkatan 2025 (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS –  Pelaksanaan UTBK-SNBT adalah puncak perjuangan belajar selama berbulan-bulan bagi sebagian peserta. Ketegangan dan ketakutan menyelimuti pikiran para penempuh jalur tes ini. Akan tetapi, bagaimana rasanya mengikuti ujian tersebut di Universitas Airlangga (UNAIR).  Dua mahasiswa UNAIR angkatan 2025, Khesya Kalpika Akuina dan Tisya Desti Winanda membagikan pengalaman selama mengikuti UTBK di UNAIR serta strategi belajar dalam ujian tersebut. 

Perlayanan dan Fasilitas yang Prima

Kesan pertama mengikuti UTBK di UNAIR adalah rasa nyaman serta terorganisir dengan baik. Keduanya mengaku mendapat jadwal pagi dan belum sarapan. Namun, panitia memberikan jajanan ringan dan minuman teh sehingga membantu peserta untuk pengganjal rasa lapar. “Sebelum UTBK kita dikasih snack kecil sama minuman teh refill. Itu lumayan membantu banget,” ungkap Tisya. Hal serupa juga diungkapkan khesya, Ia mengaku mendapatkan pengarahan panitia dengan jelas. “ Waktu datang, langsung disambut dan diarahkan ke ruang tunggu. Semuanya terkoordinasi dengan baik,” jelas khesya.

Suasana ruangan yang tidak terlalu turut mendukung suasana ujian. khesya mengikuti UTBK di Gedung Pringgodigdo, Fakultas Hukum, Kampus Dharmawangsa-B sedangkan Tisya mengikuti di Gedung Kuliah Bersama, Kampus MERR-C. Meskipun berada di gedung berbeda, mereka tetap merasakan suasana UTBK yang sama dan panitia yang sangat membantu serta sarana yang memadai. Sinyal tidak error dari awal sampai akhir, jadi pengerjaannya bisa lancar dan tetap fokus. Panitianya helpful banget ke peserta. Nyamanlah intinya UTBK di UNAIR,” Jelas Mereka.

Tips dan Mode Belajar

Sebelum mengikuti UTBK, persiapan mereka tidaklah mulus. Tisya baru menekuni belajar sekitar dua minggu sebelum pelaksanaan setelah gagal dalam jalur SNBP. Ia belajar secara otodidak tanpa mengikuti bimbingan formal, hanya melalui Youtube, buku latihan soal, dan platform tryout. Berbeda dengan Tisya, khesya mengaku telah mengikuti bimbingan belajar sejak kelas 12 awal tetapi baru fokus ketika gagal SNBP. Keduanya mengaku belajar dengan tergesa-gesa dan merasakan burnout.

Untuk mengatasi burnout, Tisya memberikan jarak satu hari untuk beristirahat penuh serta melakukan variasi metode belajar. Ia memfokuskan belajar pada subtes sesuai program studi tujuan Ilmu Informasi dan Perpustakaan yaitu Literasi Bahasa Indonesia dan Literasi Bahasa Inggris. Di sisi lain, khesya menginginkan program studi rumpun sains dan teknologi sehingga memfokuskan subtes Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika hingga diterima di Akuakultur UNAIR.

Kepada calon peserta UTBK 2026, Tisya berpesan untuk tetap mengingat batasan diri serta selalu percaya diri meski terdapat subtes yang sulit. Turut menambahkan, khesya berpesan untuk tetap konsisten dan menjaga kesehatan fisik. “Belajar secukupnya, jangan over. Jaga kesehatan, karena kalau sakit di hari ujian semua usaha bisa sia-sia. Dan apapun hasilnya, percayalah itu bukan akhir dari segalanya,” pungkas mereka.

Penulis: Yongki Eka Cahya

Editor: Ragil Kukuh Imanto