Universitas Airlangga Official Website

Perluas Relasi, Alumnus UNAIR Ini Berhasil Ciptakan Bisnis yang Mandiri

Sartoyo SPi, alumnus UNAIR yang mendirikan CV Garuda Mas (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Bagi sebagian orang, salah jurusan menjadi momok mengerikan. Bahkan, tidak sedikit yang memutuskan untuk menyerah dan berhenti karena lelah beradaptasi. Namun demikian, hal itu tidak terjadi pada diri sosok Sartoyo, SPi. Alumnus program Studi Budidaya Perairan Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2001 itu pada awalnya menjadi mahasiswa Budidaya Perairan bukanlah pilihan yang sebenarnya. Keterbatasan informasi dan pengetahuan menjadikannya bimbang hingga pernah merasa ‘salah pilih jurusan’.

Kendati sempat merasa ragu dan bimbang, tetapi Sartoyo tidak lantas menyerah. Sembari mencoba beradaptasi dengan iklim akademik yang ia jalani, Sartoyo memanfaatkan waktunya dengan aktif berorganisasi. Tercatat, ia pernah menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) tahun 2003 sekaligus menjadi mahasiswa perintis berdirinya BEM Universitas Airlangga. Untuk diketahui, sebelum secara resmi berdiri pada 2008, Budidaya Perairan sempat berada di bawah naungan FKH UNAIR.

Tempa Diri, Perluas Jejaring

Bagi Sartoyo, berkuliah tidak hanya harus berfokus pada pembelajaran di kelas saja. Namun, menempa diri dan memperluas jejaring juga penting dilakukan sebagai bekal untuk menunjang karier di masa depan. “Pikiran saya dari awal, di UNAIR itu nggak hanya ilmunya yang saya cari, tapi juga koneksi. Jadi, saya dapat banyak sekali koneksi dari UNAIR. Ibaratnya darah saya darah UNAIR,” ucapnya.

Sartoyo SPi, alumnus UNAIR yang mendirikan CV Garuda Mas (Foto: Dok. Narasumber)

Berbekal kompetensi, integritas, dan jejaring yang ia miliki, Sartoyo berhasil mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum ia lulus. Ia mendapatkan pekerjaan pertamanya di PT Sanbe Farma yang saat itu tengah mencari lulusan baru dari FKH UNAIR saat itu. “Saya sebelum wisuda ikut pendampingan nelayan di dinas provinsi. Setelah itu saya balik ke kampus, ada perusahaan yang sedang mencari karyawan, sehingga saya direkomendasikan oleh Prof Ismudiono yang saat itu menjabat sebagai dekan,” terangnya.

Sartoyo bekerja di PT Sanbe Farma selama lima tahun, terhitung sejak 2006 hingga 2010. Kemudian, ia berpindah dan melanjutkan kariernya di PT Ivendo Mas, perusahaan bidang distribusi obat-obatan perairan asal Belgia pada tahun 2010 hingga 2013. Setelah berkecimpung di perusahaan selama lebih dari tujuh tahun, Sartoyo memutuskan untuk mengundurkan diri dan memilih untuk mendirikan bisnis secara mandiri.

Pada tahun 2012, ia merintis bisnisnya yakni CV Garuda Mas, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi obat-obatan serta sarana produksi dan kebutuhan tambak. “CV Garuda Mas ini suplier obat-obatan atau sarana produksi tambak, jadi memang untuk kebutuhan tambak. Misalnya, bagaimana caranya untuk membesarkan udang? Nah, itu kita supply dari vitaminnya, probiotiknya, pupuknya, kita supply di situ,” jelas Sartoyo.

Kecintaannya pada keluarga menjadi alasan Sartoyo dengan tekun merintis bisnisnya itu. Mobilitasnya yang tinggi hingga menyita waktu berkumpul dengan keluarga menjadi latar belakang Sartoyo resign dan memilih untuk mengembangkan bisnis secara mandiri. Selain itu, dengan berbisnis sendiri ia merasa bisa lebih leluasa mengembangkan ide dan mengimplementasikan ilmu yang ia miliki.

Sejak secara resmi beroperasi pada 2013, CV Garuda Mas telah berhasil menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Pada awalnya, distribusi produk CV Garuda Mas masih terbatas untuk kawasan Indonesia Timur saja, seperti Sulawesi, Lombok, dan Nusa Tenggara. Lantaran, jejaring dan koneksinya mayoritas berada di kawasan Indonesia Timur. Akan tetapi, seiring dengan perkembangannya, distribusi CV Garuda Mas telah merambah ke bagian Barat Indonesia, seperti Lampung hingga Medan.

Penulis: Yulia Rohmawati