Universitas Airlangga Official Website

Perpanjang Masa Simpan Embrio, FKH Gelar Workshop Vitrifikasi Embrio

Penyampaian materi vitrifikasi embrio oleh Dr drh Rini Widyastuti Msi. (Foto: Istimewa).
Penyampaian materi vitrifikasi embrio oleh Dr drh Rini Widyastuti Msi. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Inseminasi buatan merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk mendapatkan keturunan khususnya pada hewan ternak. Namun, terkadang dalam inseminasi embrio yang digunakan tidak memiliki kualitas yang baik. Karena itu Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan pelatihan vitrifikasi pada Senin, (9/2/2026) di gedung FKH UNAIR.

Dalam workshop tersebut menggandeng narasumber yaitu Dr drh Rini Widyastuti Msi dan Prof Dr Widjiati drh MSi PAVet (K). Mengawali penyampaian materi, Rini menjelaskan bahwa vitrifikasi merupakan metode membekukan sel reproduksi maupun embrio yang berguna untuk mempertahankan viabilitas, kualitas DNA, dan agar dapat digunakan kembali kedepannya.

“Vitrifikasi menggunakan metode pembekuan sel reproduksi seperti sperma, sel telur dan embrio secara cepat. Pembekuan dengan cepat ini diperlukan agar tidak muncul kristal es pada sampel sehingga kualitasnya terjaga. Sampel yang cenderung aman untuk divitrifikasi adalah sperma, namun karena keadaanya cukup lemah sehingga perlu penanganan khusus,” ungkapnya.

Dalam vitrifikasi, drh Rini menyebut perlu penambahan krioprotektan untuk mencegah kerusakan. Krioprotektan merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk melindungi sampel yang akan divitrifikasi dari kerusakan akibat proses pendinginan ekstrem. Penambahan krioprotektan penting untuk menjaga kualitas sampel agar dapat digunakan di masa mendatang.

“Meskipun demikian, pemilihan krioprotektan harus dilakukan dengan cermat. Beberapa jenis krioprotektan dapat beracun apabila digunakan melampaui ambang batas tertentu. Selain itu ketelitian dalam melakukan vitrifikasi juga menjadi faktor penting keberhasilannya. Setelahnya sampel dapat di thawing untuk digunakan kembali dalam inseminasi,” ungkapnya.

Melanjutkan pemaparan sebelumnya, Prof  Widjiati menekankan pentingnya kualitas embrio yang akan divitrifikasi. Kualitas embrio yang baik akan membentuk individu yang sehat dan sempurna. Karena itu sebelum divitrifikasi, embrio harus dilakukan pengawasan ketat untuk melihat perkembangan dan juga laju pembelahan selnya.

“Terdapat 5 hari asesmen untuk melihat laju pembelahan sel dan perkembangan dari embrio. Apabila embrio mengalami pembelahan sel yang lambat, maka embrio dipastikan tidak akan digunakan untuk vitrifikasi. Namun jika embrio membelah begitu cepat, maka ukuran sel nya bisa jadi tidak seimbang sehingga kurang baik juga untuk divitrifikasi,” jelasnya.

Prof Widjiati menyebut bahwa embrio yang baik apabila setelah dilakukan thawing akan menunjukkan penurunan kualitas yang minim. Thawing merupakan metode pencairan kembali sampel yang telah dibekukan untuk digunakan dalam proses inseminasi. Thawing dilakukan untuk membangunkan sel yang non aktif setelah proses vitrifikasi dengan suhu yang rendah.

“Faktor suhu sangat berpengaruh pada hasil thawing, dengan kombinasi suhu yang baik agar bisa meminimalisir kerusakan embrio selama proses ini. Proses ini dilakukan dengan mengambil embrio yang disimpan dan dilakukan rehidrasi dengan pembilasan kurang lebih 7 menit lalu dikultur kembali dalam inkubator. Setelahnya sampel dapat digunakan untuk inseminasi,” pungkasnya. 

Penulis: Rifki Sunarsis Ari Adi

Editor: Khefti Al Mawalia