Perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen telah membawa industri hiburan memasuki fase yang berbeda. Di mana bioskop sebagai media konvensional harus bersaing dengan layanan Over-The-Top (OTT) atau paid streaming seperti Netflix, Disney+, dan Amazon Prime. Pandemi COVID-19 mempercepat pergeseran ini, ketika banyak orang mengalihkan konsumsi hiburan mereka dari bioskop ke rumah. Meski bioskop telah kembali dibuka, layanan streaming tetap menjadi pesaing kuat dengan berbagai keunggulan dan tantangan tersendiri.
Bioskop telah lama menjadi tempat utama untuk menikmati film. Pengalaman menonton dengan layar lebar dan sistem audio yang canggih membuat bioskop sulit untuk ditandingi dalam hal kualitas. Sebelum pandemi, industri bioskop di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, dengan jumlah penonton bioskop mencapai 51,2 juta pada tahun 2019. Namun, pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan tajam pada jumlah penonton, dengan sebagian besar bioskop ditutup selama berbulan-bulan. Pada tahun 2020, jumlah penonton anjlok menjadi 19 juta penonton, pada tahun 2021 hanya 4,5 juta penonton dan pada tahun 2022 kembali meningkat sampai 24 juta penonton.

Peningkatan Pelanggan
Menurut laporan We Are Social (2024), jumlah pelanggan layanan streaming sebanyak 30,1 persen secara global pada tahun 2024. Di Indonesia, pelanggan layanan OTT seperti Netflix dan Disney+ Hotstar mencapai 30,8 persen. Alasan utama peningkatan ini adalah kenyamanan, fleksibilitas, dan variasi konten yang ditawarkan oleh layanan streaming. Selain itu, didukung oleh We Are Social (2024) secara global, alasan pengguna menggunakan internet pada tiga teratas yaitu menonton film.
Keunggulan utama bioskop adalah kualitas gambar dan suara yang superior serta pengalaman sosial yang tidak dapat digantikan oleh layanan streaming. Menonton film di layar lebar memberikan efek imersif yang sulit dihadirkan di rumah. Namun, banyak layanan streaming telah meningkatkan kualitas kontennya, bahkan menawarkan resolusi 4K dan format HDR, yang memungkinkan pengalaman menonton mendekati kualitas bioskop. Adapun kelemahannya yaitu menonton di bioskop membutuhkan waktu dan biaya tambahan untuk transportasi dan tiket. Selain itu, film-film tertentu hanya tersedia di bioskop untuk waktu yang terbatas, sehingga membatasi akses bagi sebagian orang.
Keunggulan
Layanan OTT memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas dan kenyamanan. Penonton dapat menonton konten kapan saja dan di mana saja tanpa harus terikat pada jadwal penayangan seperti di bioskop. Hal ini sangat menguntungkan bagi konsumen dengan mobilitas tinggi atau yang lebih memilih menonton di rumah. Meskipun demikian, banyak orang merindukan pengalaman sosial yang bioskop hadirkan, seperti menonton bersama teman atau keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa kedua platform memiliki nilai yang unik dan tidak sepenuhnya dapat saling menggantikan.
Dari segi biaya, layanan OTT menawarkan pilihan yang lebih terjangkau. Dengan satu langganan bulanan, pengguna dapat menikmati berbagai konten tanpa batas. Sebaliknya, harga tiket bioskop untuk satu kali penayangan bisa lebih mahal daripada biaya langganan bulanan layanan streaming. Menurut Statista Said Nur Umar, dkk (2023) rata-rata harga tiket bioskop di Indonesia adalah sekitar Rp25.000 – Rp50.000 per film, sementara biaya langganan layanan streaming seperti Netflix mulai dari Rp30.000 – Rp100.000 per bulan. Perbedaan ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak konsumen beralih ke layanan streaming.

Dalam persaingan dengan layanan OTT, bioskop harus meningkatkan kualitas dan menawarkan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di rumah. Teknologi seperti layar IMAX, Dolby Atmos, dan 4D dapat memberikan pengalaman yang lebih imersif. Selain itu, bioskop bisa mempertimbangkan format penyajian yang lebih kreatif, seperti penayangan film interaktif atau live events yang menggabungkan film dengan pertunjukan.
Solusi Jangka Panjang
Beberapa studio film besar, seperti Warner Bros., telah mencoba merilis film secara bersamaan di bioskop dan platform streaming. Strategi ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi perbedaan preferensi konsumen. Namun, agar efektif, perlu ada keseimbangan antara menjaga eksklusivitas film di bioskop dan memberikan akses lebih cepat kepada pelanggan streaming. Daripada bersaing, bioskop bisa mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan layanan OTT. Misalnya, penawaran tiket bundling dengan langganan streaming atau iscreening eksklusif untuk pelanggan OTT dapat menjadi daya tarik bagi penononton untuk kembali ke bioskop.
Layanan OTT memiliki keunggulan dalam hal data dan personalisasi. Dengan menggunakan algoritma, mereka dapat merekomendasikan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna. Industri bioskop bisa memanfaatkan teknologi serupa untuk mempersonalisasi pengalaman pelanggan, misalnya melalui penawaran tiket berbasis preferensi atau rekomendasi film yang sedang tayang.
Perkembangan industri hiburan menunjukkan bahwa baik bioskop maupun OTT memiliki tempat dan nilai yang unik dalam kehidupan konsumen. Ke depannya, industri bioskop perlu berinovasi dan menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar menonton, sementara layanan streaming harus terus meningkatkan kualitas konten dan layanan. Keduanya dapat saling melengkapi dengan strategi hybrid dan kolaborasi, yang memungkinkan konsumen mendapat pengalaman hiburan terbaik. Persaingan ini bukan tentang siapa yang lebih baik, tetapi bagimana masing-masing dapat berkembang dan memenuhi kebutuhan audiens yang beragam.
Penulis: Alya Farras Azzahra, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UNAIR





