Amorphophallus merupakan genus dari suku Araceae yang terdiri dari kurang lebih 200 spesies. Indonesia merupakan salah satu pusat ditemukannya jenis-jenis dari genus ini dimana sebanyak 25 spesies telah berhasil dilaporkan dan 17 diantaranya endemik Indonesia. Amorphopallus muelleri merupakan tumbuhan asli dari kawasan flora Indian sampai Malesiana (POWO, 2022). Jenis tanaman ini dapat dibedakan dengan jenis Amorphophallus lainnya dengan adanya penanda morfologi adanya bulbil di tengah perlekatan daun (Astuti et al., 2017). Tanaman ini dikenal dengan nama porang/ ponang atau iles-iles kuning dalam bahasa Jawa. Dalam satu dekade terakhir, A. muelleri yang semula banyak dilaporkan tumbuh liar menjadi salah satu tanaman budidaya yang menjanjikan. A. muelleri merupakan sumber penghasil glukomanan tertinggi dibandingkan dengan Amorphophallus lainnya yaitu berjumlah hingga 65,78% dari ekstrak umbi. Selain dikenal sebagai serat makanan yang dapat digunakan untuk tujuan penurunan berat badan, glukomanan memiliki fungsi penting bagi kesehatan yaitu aktivitas antidiabetes, antiobesitas, antiradang, efek laksatif dan aktivitas prebiotik.
Perbanyakan A. muelleri secara konvensional dapat dilakukan melalui perbanyakan biji, umbi dan bulbil. Biji dan bulbil adalah bagian yang paling sering digunakan dalam perbanyakan. Kebutuhan biji sebagai bibit adalah sebanyak 35-72 kg/ha yang dapat diperoleh dalam 3-4 tahun waktu tanam. Sedangkan kebutuhan bulbil adalah sebanyak 260-360 kg/ha yang dapat diperoleh dalam 2-3 tahun waktu tanam. Perbanyakan secara konvensional ini mengalami kendala yaitu waktu penyediaan bibit yang relatif lama. Teknik kultur in vitro dapat menghasilkan tanaman yang seragam, bebas patogen dan bibit berkualitas tinggi dengan cepat tanpa terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Teknik kultur in vitro juga dapat menghasilkan tunas yang lebih banyak dibandingkan dengan metode perbanyakan konvensional. Keberhasilan perbanyakan secara in vitro sangat bergantung pada perkembangan awal eksplan. Tipe kalus merupakan salah satu faktor penting bagi diferensiasi tunas in vitro. Kalus berbentuk granular dengan struktur kompak berwarna merah muda atau kehijauan pada eksplan daun Amorphophallus konjac merupakan bentuk kalus yang tingkat kemampuan diferensiasinya tinggi jika dibandingkan dengan kalus berwarna putih atau transparan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh bentuk media padat dan cair serta pemberian kombinasi sitokinin BAP dan auksin IBA pada pertumbuhan dan perkembangan tunas A. muelleri secara in vitro.
Bulbil A. muelleri digunakan sebagai eksplan dan dikultur pada 3 bentuk media (padat, cair teknik agitasi dan cair teknik diam) dan dengan perlakuan kombinasi BAP dan IBA (1; 2; dan 3 mg/L). Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan menghitung waktu terbentuknya kalus dan menghitung jumlah tunas pada minggu ke-11. Hanya bentuk media padat dan media cair diam menghasilkan perkembangan eksplan membentuk kalus nodular dan tunas kehijauan. Hasil menunjukkan bahwa bentuk media, kombinasi BAP dan IBA serta kombinasinya berpengaruh terhadap jumlah tunas. Waktu terbentuknya kalus terbaik adalah pada media cair teknik diam (3,83±3,12 minggu) dan perlakuan BAP 2 mg/L + IBA 1 mg/L (2,50±0,55 minggu). Nilai rata-rata jumlah tunas terbaik adalah perlakuan bentuk media cair teknik diam dan BAP 3 mg/L+IBA 1 mg/L yaitu berturut-turut 5,13 ± 3,84 dan 5,44  4,90 tunas/ eksplan. Kombinasi terbaik adalah perlakuan bentuk media cair teknik diam dengan kombinasi BAP 3 mg/L+IBA 1 mg/L. Perkembangan tunas A. muelleri pada media padat dan cair teknik diam diawali dengan pembengkakan eksplan lalu pembentukan kalus nodular dan tunas. Media cair teknik agitasi tidak menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan.
Penulis: Yosephine Sri Wulan Manuhara, Gebby Agnesia, Junairiah
Baca juga: Potensi Bakteri Simbiotik sebagai Biofertilizer Alami bagi Tanaman Obat Indonesia





