Endometriosis adalah kondisi peradangan kronis yang sangat terkait dengan penurunan kesuburan. Mekanisme yang mendasari hubungan ini masih kurang dipahami, terutama pada tingkat seluler dan molekuler. Mitokondria adalah organel penting untuk perkembangan oosit, memainkan peran penting dalam produksi energi, fosforilasi oksidatif, dan homeostasis kalsium, yang semuanya penting untuk keberhasilan pembuahan dan perkembangan embrio.
Kardiolipin, fosfolipid mitokondria yang unik pada membran mitokondria bagian dalam, sangat penting untuk menjaga integritas dan fungsi mitokondria. Kardiolipin mendukung aktivitas kompleks rantai pernapasan dan menstabilkan superkompleks yang terlibat dalam produksi adenosin trifosfat (ATP). Stres oksidatif dan peradangan, ciri khas endometriosis, dapat menyebabkan oksidasi kardiolipin, disfungsi mitokondria, dan gangguan kualitas oosit. Bukti yang muncul menunjukkan bahwa disfungsi mitokondria pada oosit mungkin merupakan faktor utama yang menghubungkan endometriosis dengan infertilitas. Morfologi mitokondria, yang mencerminkan keadaan struktural dan fungsional mitokondria, telah terbukti berubah secara dinamis sebagai respons terhadap kerusakan oksidatif dan sitokin inflamasi. Meskipun penting, hubungan antara perubahan struktural mitokondria, kadar kardiolipin, dan infertilitas yang disebabkan oleh endometriosis belum sepenuhnya dieksplorasi.
Studi ini membahas kesenjangan ini dengan menyelidiki bagaimana endometriosis memengaruhi morfologi mitokondria dan kadar kardiolipin dalam oosit, memberikan wawasan tentang peran disfungsi mitokondria dalam kegagalan reproduksi. Dengan memahami mekanisme ini, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi biomarker potensial dan target terapi untuk meningkatkan hasil kesuburan pada wanita dengan endometriosis. Studi ini merupakan bagian dari pohon penelitian yang bertujuan untuk mengeksplorasi efek endometriosis pada kualitas oosit pada tikus.
Penelitian saat ini berfokus pada dampak endometriosis pada morfologi mitokondria dan kadar kardiolipin dalam oosit, yang selanjutnya menjelaskan mekanisme yang mendasari penurunan kualitas oosit pada infertilitas yang disebabkan oleh endometriosis. Studi ini menyelidiki dampak endometriosis pada morfologi mitokondria oosit dan kadar kardiolipin, indikator utama kesehatan dan fungsi mitokondria.
Tiga puluh dua tikus sehat dialokasikan secara acak ke dalam 2 kelompok: kelompok kontrol (P0, n=16) dan kelompok model endometriosis (P1, n=16). Endometriosis diinduksi melalui injeksi intraperitoneal jaringan endometrium, dan oosit diambil setelah superovulasi. Morfologi mitokondria dianalisis menggunakan mikroskop elektron transmisi, dan kadar kardiolipin diukur melalui ELISA. Analisis statistik meliputi uji Fisher, uji Mann-Whitney U, dan korelasi Spearman.
Morfologi mitokondria pada oosit dari kelompok endometriosis menunjukkan kelainan struktural yang signifikan, dibandingkan dengan kontrol (P<0,001). Mitokondria Kelas III dan IV, yang ditandai dengan membran dan krista yang rusak, sebagian besar diamati pada kelompok endometriosis. Kadar kardiolipin berkurang secara signifikan pada kelompok endometriosis, dibandingkan dengan kontrol (P<0,001). Korelasi positif (r=0,73, P<0,001) diidentifikasi antara perubahan morfologi mitokondria dan kadar kardiolipin, yang menunjukkan bahwa kerusakan struktural mitokondria sangat terkait dengan kadar kardiolipin yang berkurang. Endometriosis menyebabkan kelainan mitokondria yang signifikan dan menurunkan kadar kardiolipin dalam oosit, yang menunjukkan disfungsi mitokondria sebagai faktor penting dalam penurunan kesuburan. Temuan ini menggarisbawahi potensi penargetan kesehatan mitokondria untuk meningkatkan hasil reproduksi pada wanita dengan endometriosis.
Penulis: Widjiati
Publish di jurnal: Medical Science Monitor
Link artikel: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11892530/pdf/medscimonit-31-e947194.pdf
Link laman jurnal: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40040270/
Baca juga: Potensi Lingkungan Industri Peternakan Sebagai Tempat Penyebaran Resistensi Antimikroba





