Penelitian tentang perubahan sosial ekonomi telah banyak dilakukan sebelumnya (Erista, 2014; Indah & Ma’arif, 2014; Nafsiyah, 2017; Rahmayanti & Pinasti, 2018; Hakim, 2019; Yusuf & Agustang, 2020). Namun, studi yang dilakukan sebagian besar melihat perubahan perilaku masyarakat setelah industrialisasi terjadi di wilayah tersebut. Sedangkan penelitian ini mengkaji perubahan sosial ekonomi masyarakat saat berlangsungnya proses industrialisasi, yaitu pada pegawai dari Desa Romokalisari, Genting Kalianak, Karang Kiring, Moro Krembangan, Tambaksarioso, Tenggulunan, dan Tambak Oso Wilangun, Benowo, Kecamatan Kota Surabaya. Banyak perubahan yang mereka alami. Masyarakat memanfaatkan kesempatan untuk membangun tempat tinggal karena di Jalan Tambak Oso Wilangun banyak industri yang berkembang, dan karyawan membutuhkan tempat tinggal. Selain itu, beberapa masyarakat telah membuka toko serba ada yang menyediakan kebutuhan sehari-hari masyarakat karena semakin banyaknya penduduk di daerah tersebut.
Dengan dibangunnya Terminal Teluk Lamong membuka peluang bagi masyarakat sekitar yang memenuhi persyaratan untuk bekerja di Terminal Teluk Lamong. Mereka sebelumnya mungkin telah memiliki profesi atau pekerjaan lain. Namun, ada juga perubahan mata pencaharian masyarakat karena lingkungan sekitar memungkinkan mereka untuk berganti pekerjaan. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan nilai sosial, norma sosial, pola perilaku organisasi, susunan pranata sosial, lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan otoritas, interaksi sosial (Soekanto, (2006:259).
Kajian tentang perubahan dampak sosial akibat pembangunan sangat luas. Secara spesifik, kajian ini dan menyinggung permasalahan perubahan sosial dan ekonomi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat akibat dibangunnya Terminal Teluk Lamong (Besser, 2002). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan sosial ekonomi masyarakat sekitar pasca dibangunnya Terminal Teluk Lamong.
Dengan menggunakan metode deskriptif, penelitian ini berupaya untuk memahami secara menyeluruh perubahan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal yang terkena dampak di sekitar Terminal Teluk Lamong. Penelitian ini mewawancarai 161 karyawan yang bekerja di Terminal Teluk Lamong. Dari wawancara yang dilakukan di lapangan, sebagian besar responden (97,5%) adalah laki-laki dan (2,5%) perempuan. Hal itu dikarenakan jenis pekerjaan di Terminal Teluk Lamong adalah pembangunan infrastruktur dan pelabuhan yang membutuhkan lebih banyak pegawai laki-laki. Sedangkan pegawai perempuan hanya dibutuhkan untuk pekerjaan administrasi pelabuhan.
Masyarakat di sekitar Terminal Teluk Lamong juga telah mengalami beberapa perubahan baik dari segi ekonomi, masyarakat, maupun budaya dalam kehidupannya selama ini. Perubahan pertama terkait dengan keberlangsungan usaha yang ditekuni masyarakat sekitar. Pembangunan Terminal Teluk Lamong membuat kawasan ini semakin ramai. Oleh karena itu, sebagian besar responden (62,7%) mengakui bahwa kelangsungan bisnis mereka telah berubah menjadi lebih baik dan 26,7% responden mengatakan telah berkembang pesat.
Kehadiran Terminal Teluk Lamong memberikan multiplier effect bagi masyarakat lokal untuk membuka usaha baru. Sebagian besar responden (93,8%) mengatakan bahwa peluang membuka usaha baru semakin baik. Usaha baru yang biasanya bisa dilakukan masyarakat sekitar adalah membuka warung makan, toko kelontong, kos-kosan, jasa laundry, dan usaha lainnya.
Adanya kesempatan yang sama bagi masyarakat lokal menjadi modal sosial untuk menciptakan harmoni sosial. Modal sosial ini mengikat orang bersama-sama ketika melakukan perubahan sosial dan ekonomi (Zhu, 2018). Dalam kehidupan bermasyarakat, perubahan yang terjadi berkaitan dengan kerukunan sosial masyarakat setempat yang menurut sebagian besar responden (49,7%), sudah membaik, bahkan 22,4% responden menyatakan sangat baik. Sedangkan 6,2% responden menyatakan biasa saja. Adanya kerukunan sosial yang berkembang ke arah positif menunjukkan bahwa pembangunan Terminal Teluk Lamong tidak kontra produktif dengan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Kondisi ini juga terlihat pada perilaku permisif para pemuda di daerah tersebut. Menurut pengakuan sebagian besar responden (41%) membaik, 26,1% responden menyatakan sangat baik, dan 32,9% responden menyatakan biasa saja. Demikian pula menurut sebagian besar (39,8%) responden, solidaritas masyarakat setempat meningkat, 34,8% responden menyatakan sangat baik, dan 25,5% responden menyatakan biasa saja. Walaupun tidak semua masyarakat lokal bekerja langsung di Terminal Teluk Lamong, namun kesenjangan antar kelas menurut sebagian besar responden (57,8%), mengatakan membaik, dan 39,8% responden mengatakan biasa saja. Sementara itu, hanya 2,5% responden yang menyatakan kesenjangan kelas semakin parah.
Dampak perubahan sosial lainnya yang dirasakan oleh masyarakat lokal adalah terkait dengan kondisi keamanan lingkungan. Meningkatnya peluang ekonomi dan sosial di masyarakat membuat ketahanan lingkungan di kawasan sekitar Terminal Teluk Lamong, menurut 72,7%, dikatakan meningkat pesat. Sementara itu, 27,3% responden lainnya mengatakan bahwa keamanan lingkungan adalah normal. Kehadiran Terminal Teluk Lamong juga membawa perubahan budaya masyarakat setempat. Dengan adanya Terminal Teluk Lamong, keberadaan tradisi budaya masyarakat setempat menurut mayoritas responden (67,1%) meningkat, 32,9% responden menyatakan biasa saja. Artinya keberadaan Terminal Teluk Lamong menjamin eksistensi tradisi budaya masyarakat setempat.
Selain perubahan masyarakat setempat, perubahan fisik desa juga terjadi karena adanya Terminal Teluk Lamong. Perubahan fisik desa dapat dilihat dari perubahan infrastruktur yang ada di desa, yang meliputi berbagai macam perbaikan infrastruktur (Kurnia, 2018). Hal ini terlihat dari sebagian besar responden (47,2%) responden menyatakan ketersediaan infrastruktur desa semakin baik, dan 41,6% responden menyatakan sangat baik.
Perbaikan infrastruktur desa antara lain terkait dengan jalan utama desa dimana hampir semua (98,8%) responden menyatakan memiliki peran, sedangkan 1,2% responden menyatakan tidak berperan. Terminal Teluk Lamong juga memiliki peran dalam masalah lingkungan terkait perbaikan infrastruktur terkait air bersih. Sebagian besar (69,6%) responden menyatakan berperan dalam perbaikan infrastruktur desa terkait air bersih. Namun, 28% responden menyatakan tidak berperan.
Sebagian besar responden (75,8%) mengatakan Terminal Teluk Lamong berperan dalam peningkatan infrastruktur desa terkait fasilitas pendidikan. Dukungan Terminal Teluk Lamong terhadap peningkatan fasilitas pendidikan dapat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan minat masyarakat sekitar terhadap keberlangsungan pendidikan anak (Indah & Ma’arif, 2014). Begitu juga dengan perbaikan sarana ibadah, sebagian besar (82,6%) responden menyatakan berperan.
Melalui program CSR di Desa Tambak Sarioso, PT. Terminal Teluk Lamong juga mengajak masyarakat sekitar untuk mengembangkan ekonomi desa secara mandiri dengan menjadikan desa warna-warni sebagai ikon wisata. Berbagai potensi telah dikembangkan di desa warna-warni ini, seperti membuat olahan hasil laut oleh para pelaku usaha kecil yang membayar listrik dan air dengan menggunakan dana dari budidaya hidroponik dan menjual ikan lele yang dibudidayakan oleh kelompok ketahanan pangan masyarakat (Wooldridge, et al., 1999). Perubahan masyarakat lokal dan peran Terminal Teluk Lamong dalam perbaikan infrastruktur dinilai mayoritas responden (85,1%) lebih memberikan manfaat bagi masyarakat dibandingkan responden (14,9%) yang menjawab manfaat dan dampak negatif berimbang. (Woo, et al., 2018; Chang, 2013).
Penulis: Gugus Wijonarko dan Amaliyah
Link Jurnal: https://ojs.balitbanghub.dephub.go.id/index.php/jurnalmtm/article/view/2141





