Sebuah penelitian kolaborasi antara peneliti di Universitas Airlangga (UNAIR) dan peneliti Universitas Harvard dengan menggunakan data dari Global Burden of Disease Study mengungkapkan gambaran mengejutkan tentang beban penyakit kardiovaskular (CVD) di Indonesia selama tiga dekade terakhir. Temuan ini menggali lebih dalam ke dalam data yang menunjukkan peningkatan dramatis dalam kasus dan kematian terkait CVD, serta faktor risiko yang berkontribusi terhadap tren ini. Dengan memahami temuan ini, kita dapat mengidentifikasi solusi yang berpotensi mengurangi beban penyakit ini di masa depan.
Temuan Utama Penelitian
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa temuan kunci mengenai beban CVD di Indonesia. Dari tahun 1990 hingga 2019, terjadi peningkatan dua kali lipat dalam jumlah kematian akibat penyakit kardiovaskular. Hal ini menandakan bahwa, meskipun ada kemajuan dalam pengobatan dan teknologi kesehatan, beban penyakit ini tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.
Stroke dan penyakit jantung iskemik ditemukan sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas, menegaskan perlunya fokus pada pencegahan dan pengelolaan kondisi-kondisi ini.
Meskipun ada peningkatan angka harapan hidup, DALYs untuk CVD menunjukkan bahwa banyak tahun hidup yang hilang atau dikurangi kualitasnya akibat penyakit ini. Ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah hidup tidak selalu berarti peningkatan kualitas hidup.
Transisi epidemiologis dari penyakit menular ke penyakit tidak menular, bersama dengan perubahan gaya hidup seperti diet tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan merokok, menjadi faktor utama peningkatan CVD. Faktor risiko lain yang berkontribusi termasuk hipertensi, diabetes, dan obesitas.
Studi ini juga mengungkapkan adanya variasi signifikan dalam beban CVD di antara berbagai wilayah dan kelompok sosial ekonomi di Indonesia, yang menuntut pendekatan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.
DALYs untuk CVD menunjukkan variasi yang signifikan di antara provinsi, dengan beberapa provinsi mencatat tingkat DALYs yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lain. Provinsi dengan tingkat DALYs tertinggi termasuk Bangka Belitung, Maluku Utara, dan Kalimantan Selatan, masing-masing dengan angka lebih dari 10.000 per 100.000 penduduk. Di sisi lain, Kalimantan Utara memiliki tingkat DALYs terendah di Indonesia, dengan 4.084 per 100.000 penduduk pada tahun 2019.
Stroke dan penyakit jantung iskemik (IHD) terus menjadi penyumbang utama terhadap beban DALYs di Indonesia, dominasi ini juga terlihat di semua provinsi. Penyakit ini secara signifikan mempengaruhi kualitas dan panjang umur penduduk di seluruh negeri.
Bali, Kepulauan Riau, dan Jambi adalah tiga provinsi yang mengalami penurunan DALYs paling signifikan untuk CVD, dengan penyakit jantung rematik dan anomali jantung bawaan sebagai kontributor utama terhadap penurunan ini. Sementara itu, penyakit arteri perifer menjadi kondisi CVD utama yang mengalami peningkatan DALYs di setiap provinsi di Indonesia, dengan peningkatan tertinggi tercatat di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur.
Berdasarkan temuan ini, beberapa solusi yang diusulkan meliputi peningkatan akses ke layanan kesehatan. Meningkatkan akses ke layanan kesehatan primer dan spesialis, khususnya di daerah terpencil dan kurang mampu, bisa membantu deteksi dini dan pengelolaan CVD.
Penelitian ini juga meliputi kampanye pendidikan publik tentang pentingnya diet sehat, aktivitas fisik teratur, dan penghindaran rokok bisa berkontribusi pada penurunan faktor risiko CVD. Pengembangan dan implementasi kebijakan publik, seperti peraturan tentang makanan sehat di sekolah dan tempat kerja, serta kenaikan pajak dan pembatasan iklan produk tembakau, dapat mendukung upaya pencegahan CVD.
Serta program yang melibatkan komunitas dalam aktivitas fisik dan edukasi kesehatan dapat membantu meningkatkan kesadaran dan mendorong perubahan perilaku positif di tingkat grassroot. Investasi dalam penelitian untuk memahami lebih lanjut tentang CVD dan faktor risikonya di Indonesia, serta sistem pemantauan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi, akan penting untuk upaya pencegahan jangka panjang.
Dengan mengimplementasikan solusi-solusi ini, Indonesia dapat membuat langkah besar menuju pengurangan beban penyakit kardiovaskular dan meningkatkan kualitas hidup.
Penulis: Prof. Dr. Santi Martini, dr., M.Kes





