UNAIRNEWS – Aksi kejahatan siber kini tak pandang bulu. Bahkan institusi besar seperti universitas, yang mengintegrasikan sistem kerja melalui teknologi digital, tak luput dari incaran. Menyadari urgensi tersebut, Universitas Airlangga menyelenggarakan Workshop Sosialisasi Cyber Security & Branding Guideline pada Kamis (3/7/2025) di Aula Majapahit, ASEEC Kampus Dharmawangsa-B.
Kegiatan yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai unit kerja ini menghadirkan Tri Febrianto, CEO Jagamaya, sebagai narasumber utama. Tri memaparkan pentingnya kesadaran kolektif menjaga keamanan digital institusi. Ia menyoroti ancaman kejahatan siber yang tengah menjadi tren, khususnya pada media sosial kampus yang menjadi wajah publik universitas.
Ancaman dan Langkah Mitigasi
Tri menjelaskan metode social engineering seperti phishing, impersonation, session hijacking, hingga deepfake kini makin canggih. Salah satu kasus nyata yang dialami pengelola akun Instagram kampus tertipu tautan palsu dari akun ‘Meta Support’. Akun pun dibajak.
Aplikasi palsu seperti apk “undangan digital” menjadi pintu masuk pencurian data. “Jika akun memakai HP pribadi untuk akun institusi, itu ngeri-ngeri sedap,” ungkapnya.
Ia menekankan lima pilar keamanan. Antara lain admin terbatas (2–3 orang), dengan email dan HP resmi institusi; password kuat dan berbeda, gunakan password manager, aktifkan 2FA; hanya login dari perangkat resmi dan aman; jangan simpan password di browser; audit bulanan, periksa aplikasi terhubung; dan pelatihan tahunan untuk semua pengelola akun.
Platform narahubung misalnya, seperti telegram dan email institusi wajib diamankan melalui verifikasi dua langkah, pemantauan perangkat aktif, dan nonaktifkan aktivasi asing. Tools seperti Comment Guard, ModShield, dan Brand24 direkomendasikan untuk menyaring spam dan hoaks.
Manajemen Krisis dan Audit Rutin
Tri juga menyoroti pentingnya simulasi insiden minimal sekali dalam setahun. “Log kejadian harus terdokumentasi. Kalau akun mengalami peretasan, segera logout semua sesi. Laporkan ke pimpinan dan gunakan akun cadangan untuk klarifikasi,” sarannya.
Ia menambahkan, urgensi tim tanggap insiden yang terdiri dari admin utama, personel keamanan TI, dan perwakilan humas. Prosedur darurat, kanal cadangan, dan template klarifikasi publik harus siap dari jauh-jauh hari. “Kalau masih menganggap ini bukan urusan semua orang, jangan harap kampus aman. Di era digital, serangan bisa datang dalam bentuk hoaks atau satu klik link. Dan cukup lima menit untuk meruntuhkan kepercayaan publik,” tutup Tri dengan nada serius.
Penulis: Sintya Alfafa
Editor: Yulia Rohmawati





