Universitas Airlangga Official Website

Plankton, Rahasia Warna Cerah Ikan Koi

Kondisi kolam ikan Koi di Desa Sumberingin, Kabupaten Blitar (dokumentasi pribadi)
Kondisi kolam ikan Koi di Desa Sumberingin, Kabupaten Blitar (dokumentasi pribadi)

Tim peneliti dari Universitas Airlangga menemukan fakta menarik bahwa plankton yang hidup di kolam budidaya ternyata punya peran penting bukan hanya untuk kesehatan air, tapi juga untuk mempercantik warna ikan Koi yang jadi kebanggaan warga Blitar.

Penelitian yang dilakukan di 10 kolam Koi di Desa Sumberingin, Kabupaten Blitar. Tim peneliti menemukan ribuan plankton dari beragam jenis. Plankton dari kelompok Chlorophyceae menjadi yang paling dominan, menyumbang hampir separuh dari total plankton yang ada.

“Plankton itu ibarat cermin kesehatan air. Kalau jenisnya seimbang, Koi bisa tumbuh sehat dengan warna yang lebih cerah,” jelas tim peneliti.

Hasil penelitian mencatat jumlah fitoplankton mencapai lebih dari 35 ribu sel/L, jauh lebih banyak dibandingkan zooplankton. Menariknya, beberapa jenis plankton yang melimpah seperti Chlorella dan Nitzschia mengandung pigmen alami yang bisa memperkuat warna tubuh ikan Koi.

Namun, tim juga mengingatkan mengenai plankton jenis Oscillatoria yang juga ditemukan cukup dominan selama studi. Plankton jenis ini dapat menjadi alarm adanya penurunan kualitas air di kolam pemeliharaan ikan koi. Menurut peneliti, pemantauan plankton bisa menjadi cara untuk menjaga kolam tetap sehat. Dengan kondisi air yang terjaga, pertumbuhan plankton yang bermanfaat bisa mendukung pakan alami ikan, sekaligus mempercantik warna Koi tanpa harus banyak tambahan pakan buatan.

Sebagai salah satu daerah penghasil Koi terbaik di Indonesia, temuan ini menjadi kabar baik bagi petambak dan pecinta Koi. Warna Koi yang lebih cerah dan sehat akan menambah daya tarik ikan Blitar di pasar nasional maupun internasional.

Penulis: Ayu Lana Nafisyah, S.Pi., M.Sc., Ph.D.

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://scholar.unair.ac.id/en/publications/plankton-community-structure-as-a-bioindicator-of-sustainable-wat