Kasus spektrum plasenta akreta dalam beberapa tahun terakhir meningkat seiring bertambahnya angka operasi caesar, sehingga pemahaman tentang kondisi ini terus berkembang. Di sisi lain, luka rahim yang terbuka kembali (uterine scar dehiscence) sering ditemukan dan diduga berkaitan, namun memiliki gambaran yang mirip sehingga kerap membingungkan. Perbedaan yang belum jelas ini dapat memengaruhi keputusan tindakan medis dan keselamatan ibu, sehingga diperlukan penegasan definisi dan standar diagnosis yang seragam.
Perdebatan antara spektrum plasenta akreta dan luka rahim yang terbuka kembali muncul karena keduanya dapat tampak mirip, terutama saat plasenta menempel di bekas luka operasi caesar. Pada beberapa kasus, dinding rahim tampak sangat tipis hingga isi rahim terlihat, kondisi ini sering disebut sebagai “jendela rahim”. Namun, pada luka rahim biasa, plasenta sebenarnya tidak melekat kuat dan masih bisa terlepas, sedangkan pada spektrum plasenta akreta, plasenta tetap menempel erat bahkan saat jaringan rahim sudah dibuka.

Kesamaan tampilan ini sering menyebabkan salah diagnosis, baik sebelum maupun saat operasi. Padahal, perbedaan keduanya sangat penting karena akan menentukan tindakan yang diambil. Pada kasus plasenta akreta, risiko perdarahan sangat tinggi dan sering membutuhkan operasi besar seperti pengangkatan rahim, sedangkan pada luka rahim tanpa perlengketan, tindakan bisa lebih sederhana. Kesalahan penilaian dapat menyebabkan tindakan yang terlalu agresif atau justru kurang aman bagi ibu.
Selain itu, ketidakjelasan diagnosis juga berdampak pada persiapan sebelum operasi, keputusan saat operasi, hingga komunikasi risiko kepada pasien. Bahkan, tindakan yang tidak perlu seperti operasi besar atau persalinan prematur bisa terjadi jika kedua kondisi ini tidak dibedakan dengan tepat. Oleh karena itu, penting bagi tenaga medis untuk memahami perbedaan mendasar keduanya dan menggunakan pemeriksaan yang tepat agar penanganan lebih aman dan sesuai kebutuhan.
Secara keseluruhan, spektrum plasenta akreta dan luka rahim yang terbuka kembali merupakan dua kondisi yang berbeda, meskipun sering tampak serupa dalam pemeriksaan. Pemahaman yang tepat sangat penting karena berpengaruh langsung pada keputusan medis, risiko perdarahan, dan keselamatan ibu. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan standar definisi dan diagnosis yang jelas serta penggunaan berbagai metode pemeriksaan secara menyeluruh agar kesalahan penilaian dapat diminimalkan. Dengan pendekatan yang lebih terarah, penanganan dapat menjadi lebih tepat, aman, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien.
Penulis: Rozi Aditya Aryananda, dr., Sp.OG Subsp K.FM., PhD
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/aogs.70165





