Humas FH (16/03/2025) | Pusat Studi Center for Legal Pluralism (CLeP) Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UNAIR) yang selama ini mengkaji persoalan keberagaman agama, kepercayaan, dan identitas gender diundang untuk berpartisipasi dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh International Women’s Day Surabaya dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia. Kegiatan ini berlangsung di Lodji, Jalan Makam Peneleh No. 46, Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya pada hari Sabtu (15/03/2025).
Peringatan International Women’s Day Surabaya 2025 menjadi momentum bersama untuk merefleksikan berbagai tantangan dan hambatan yang masih dihadapi oleh perempuan serta individu atau kelompok rentan yang termarginalkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Meskipun terdapat sejumlah instrumen hukum yang telah mengatur perlindungan, pemenuhan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia namun, kenyataannya hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan, dimana praktik-praktik diskriminatif seperti kekerasan berbasis gender, marginalisasi, stigma, dan eksploitasi masih terus berlangsung. sehingga pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) tidak dapat tercapai secara optimal.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ibu Eka Hernawati sebagai anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Dalam sambutannya, Ibu Eka menyampaikan bahwa perempuan perlu memiliki semangat keberanian yang tinggi dalam memperjuangkan hak-hak kerjanya terkait dengan kesetaraan upah, perlindungan dari kekerasan, maupun akses terhadap hak-hak dasar lainnya. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh perempuan untuk lebih memperkuat solidaritasnya dalam bekerja sama memperjuangkan keadilan, demi mewujudkan kesetaraan dan perlindungan yang lebih baik bagi kita semua.
Baca Juga:Â Mempererat Silaturahmi, ANA dan Alumni Doktor Ilmu Hukum FH UNAIR Lakukan Buka Sekaligus Tarawih Bersama
Davina Velinzhia, Staff Intern CLeP angkatan 2024 menyampaikan bahwa pemaparan sesi kedua disampaikan oleh Kak Dian Jenni, anggota Komunitas Sapta Darma. Dalam sesi kedua ini, Kak Dian membahas tentang keberagaman kepercayaan yang merupakan salah satu bagian dari kekayaan budaya di masyarakat sehingga perlu dihargai dan dilestarikan. Kak Dian juga menekankan bahwa perbedaan kepercayaan seharusnya tidak menjadi pemisah, melainkan sebuah peluang untuk mempererat hubungan antar individu dan kelompok. Melalui sesi ini, peserta diajak untuk menciptakan dialog yang lebih terbuka dan saling menghormati agar terbentuk keharmonisan dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi saya karena memberikan wawasan yang lebih luas mengenai perjuangan hak perempuan dan keberagaman lainnya yang terdapat di Indonesia. Saya juga mendapatkan tips and trick untuk lebih berani dalam memperjuangkan hak saya, terutama dalam menyampaikan pendapat di depan umum karena terkadang aspirasi saya jarang didengar. Diskusi publik yang saya ikuti pada hari Sabtu menjadi bekal saya untuk menggelar aksi perempuan bersuara pada hari Rabu, 19 Maret 2025” ujarnya.
Penulis: Angelique Novelyn
Editor: Masitoh Indriani




