Universitas Airlangga Official Website

Alumni FIB Jadi Penggerak Komunitas Indonesia di Singapura

Potret Fitri Isenbeck, Alumni Sastra Inggris FIB UNAIR (Kiri) (Foto: Istimewa)

FIB NEWSFakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) kembali menunjukkan kontribusinya dalam mencetak alumni yang aktif di ranah global. Salah satunya adalah Fitri Isenbeck, alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, yang kini menetap dan berkiprah di Singapura sebagai aktivis komunitas sekaligus profesional di bidang public relations.

Pengalaman panjang Fitri di dunia kerja internasional, termasuk saat menjadi Chair of Public Relations di Seoul International Women Association, menjadi bukti bahwa lulusan FIB UNAIR juga mampu bersaing secara global. “Saya satu-satunya orang Indonesia di organisasi tersebut waktu itu, dan mereka mempercayakan posisi public relations kepada saya,” ungkap Fitri.

Fleksibilitas Ilmu Budaya di Dunia Profesional

Sebagai lulusan Sastra Inggris tahun 1994, Fitri telah menapaki berbagai peran profesional. Mulai dari bidang public relations, sales, and marketing, hingga business development. Ia menilai bahwa latar belakang budaya dan sastra memberinya keunggulan dalam beradaptasi di berbagai konteks kerja lintas negara.

“Ketika kamu kembali ke masyarakat, kamu harus berpikir apakah ilmu yang kamu dapat itu cukup untuk menghadapi masa depan. Dan itu kita sendiri yang menentukan,” jelasnya.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis dan analisis yang diasah selama kuliah justru menjadi bekal utama dalam memahami dinamika sosial, budaya, bahkan politik. “Waktu saya belajar sastra, saya juga dapat wawasan dari ilmu politik, antropologi, komunikasi. Jadi, waktu menelaah karya sastra, saya juga punya perspektif yang lebih luas,” kenang Fitri.

Attitude, Wawasan, dan Adaptabilitas sebagai Kunci

Fitri yakin bahwa keunggulan lulusan FIB UNAIR terletak pada kombinasi antara keilmuan dan pembentukan karakter. “Yang penting itu kombinasi dari attitude, EQ, dan IQ. Jangan hanya puas dengan IPK tinggi. Kita harus terus memperkaya diri,” tuturnya.

Baginya, percaya diri bukan berarti sombong, melainkan paham tentang apa yang dibicarakan dan siap menerima kritik dengan kepala dingin. “Kalau nggak tahu, bilang saja dengan elegan. ‘Saya belum mendalami itu, nanti saya pelajari dan kita bahas lagi.’ Itu lebih dihargai daripada asal jawab,” tambahnya.

Berkontribusi di Komunitas Internasional

Tak hanya berkarier, Fitri juga aktif membangun komunitas alumni dan menjadi bagian dari organisasi sosial di luar negeri, seperti PerCa (Pernikahan Campuran) di Singapura. Di sana, ia memberikan edukasi hukum kepada WNI dalam pernikahan campuran agar mereka tidak kehilangan hak kepemilikan karena minimnya pengetahuan hukum. “Kalau kita tidak menyampaikan, mereka bisa kehilangan properti yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun,” tegasnya.

Fitri juga menjadi pembicara dan trainer public speaking bagi pekerja migran Indonesia. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas diri, apapun latar belakang pekerjaan seseorang. “Kualitas diri harus terus dibangun. Kalau sudah biasa tampil di komunitas internasional, nilai kita akan naik di mata orang lain,” katanya.

Kepada mahasiswa FIB, terutama Sastra Inggris, Fitri berpesan agar tidak membatasi diri. “Kalau mau ‘kabur’ ke luar negeri, kabur boleh tapi bawa strategi. Bekali diri dengan ilmu, attitude, dan keterampilan,” ujarnya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif di luar kelas: membaca, mengikuti seminar, dan memperluas jaringan. “Kalau kamu cuma puas dengan pelajaran dari kampus, kamu akan tertinggal. Dunia di luar sangat kompetitif dan dinamis,” katanya.

Komitmen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) dalam melahirkan lulusan yang berdaya saing global turut mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu Quality Education.

Penulis: Tsabita Nuha Zahidah
Editor: Fania Tiara Berliana Marsyanda