Dokumentasi HIMA MKSB dengan pusat Penataran Ilmu dan Bahasa Universiti Malaysia Sabah (Sumber: Tim dokumentasi HIMA MKSB)
FIB NEWS – Magister Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (MKSB FIB UNAIR) dan Pusat Penataran Ilmu dan Bahasa Universiti Malaysia Sabah (UMS), mengadakan kolaborasi mengkaji Lokalitas Gunung Bromo pada Rabu (2/10/2024). Acara itu dihadiri Dosen Magister Kajian Sastra dan Budaya Dr. Nadya Afdholy, S.Hum., M.Pd., M.Hum., Dr. Johny Alfian Khusyairi, S.Sos, M.Si., M.Hum., Dosen UMS Dr. Daron Benjamin Law, Dr. Anna Lynn Binti Abu Bakar, ketua HIMA MKSB Lady Khairunnisa Adiyani S.Hum. Serta mahasiswa S2 maupun Fastrack yang menghadiri.Â
Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana sekaligus Ketua HIMA MKSB, Lady Khairunnisa Adiyani, S. Hum., yang menjelaskan bahwa International Guest Lecture Magister Kajian Sastra dan Budaya merupakan bagian dari acara Joint Class Studies. Acara ini adalah bentuk kuliah kolaborasi antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga dan Universiti Malaysia Sabah. Program ini bertujuan membantu mahasiswa lintas negara untuk belajar bersama, terutama dalam aspek budaya.
“Kegiatan International Guest Lecture Magister Kajian Sastra dan Budaya ini merupakan bagian dari Joint Class Studies on Localities of Culture and Literature and Collaborative Online International Learning. Kegiatan ini merupakan kuliah kolaborasi antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga dengan Universiti Malaysia Sabah yang memberikan kesempatan bagi para mahasiswa dari lintas negara untuk belajar bersama,” ujar Lady Khairunnisa Adiyani S. Hum. selaku Ketua Panitia.
Dr. Nadya Afdholy memaparkan materi kajian mengenai lokalitas Bromo. Ia menjelaskan bahwa Gunung Bromo terletak di Provinsi Jawa Timur dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 mdpl dengan diameter 10 km, dan terkenal dengan lautan pasir yang luas. Dalam penjelasannya, Dr. Nadya menyebutkan bahwa kawasan Tengger mencakup beberapa gunung, salah satunya Gunung Batok, namun program ini difokuskan pada Bromo dengan tujuan untuk riset dan pengabdian.
Ia juga menjelaskan asal-usul Gunung Bromo, terutama dalam konteks kepercayaan Hindu dan tradisi lokal. Nama Bromo berasal dari kata “Brahma”, yang merupakan salah satu dewa dalam agama Hindu. Untuk menghormati Dewa Brahma, masyarakat Tengger rutin mengadakan upacara Yadnya Kasada setiap tahun. Upacara ini mencerminkan kuatnya pengaruh agama Hindu di kalangan masyarakat Tengger.
Filosofi Masyarakat Tengger dan Upacara Yadnya Kasada
Nama Tengger berasal dari gabungan kata “Teng” yang mewakili Roro Anteng dan “Ger” yang mewakili Joko Seger. Tengger memiliki makna filosofi keteguhan hati dan keluhuran jiwa yang dianut oleh masyarakat Tengger. Dalam buku The Story of Roro Anteng & Joko Tengger yang ditulis oleh Slamet Riyanto, legenda Joko Seger dan Roro Anteng mencerminkan keseimbangan antara manusia dan alam, serta penghormatan kepada leluhur dan dewa-dewa.
Upacara Yadnya Kasada diadakan pada bulan Kasada dalam penanggalan Hindu-Tengger, yaitu pada bulan ke-12 kalender Jawa. Upacara ini biasanya dilakukan dengan membawa sesembahan berupa hasil bumi seperti makanan dan ternak ke kawah Gunung Bromo. Ritual ini dilakukan sebagai simbol rasa syukur masyarakat Tengger kepada dewa-dewa mereka, yang dipercaya menjaga keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat Tengger.
Relevansi Joko Seger dan Roro Anteng dalam kacamata sejarah
Dr. Johny Alfian Khusyairi memaparkan pandangannya mengenai relevansi cerita Joko Seger dan Roro Anteng, yang kemungkinan memiliki kesamaan dengan legenda-legenda di berbagai wilayah. Hal ini disebabkan oleh adanya campuran antara fakta sejarah dan mitos. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh India yang kuat pada masa itu turut membentuk kerajaan-kerajaan di tanah Jawa, sehingga menghasilkan berbagai karya sastra yang serupa, namun dimodifikasi. Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah sosok Gatotkaca, yang dalam versi India merupakan seorang raksasa yang akhirnya meninggal dengan jatuh menimpa pasukan Kurawa. Namun, dalam versi Jawa, Gatotkaca dimodifikasi menjadi keturunan raksasa yang diberi kelebihan untuk bisa terbang.
“Cerita Joko Seger dan Roro Anteng merupakan pencampuran antara Historical fact dan mitos. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh kuat India pada masa itu melahirkan kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa, salah satunya di Jawa Timur, yang juga menghasilkan karya sastra yang indah. Sebagai contoh, nama Kampus Airlangga diambil dari tokoh sejarah. Relevansi cerita tersebut bisa dibandingkan dengan sosok Gatotkaca. Dalam versi India, Gatotkaca adalah seorang raksasa yang di akhir hidupnya jatuh dari langit menimpa pasukan Kurawa. Namun, dalam versi Jawa, cerita itu dimodifikasi karena dianggap kurang menarik. Gatotkaca masih merupakan keturunan raksasa, tetapi dalam wayang kulit, ia diberikan sayap atau kekuatan untuk terbang,” pungkas Dr. Johny.
Penulis: Devan Prawira Wardaya
Editor: Lady Khairunnisa Adiyani




