Universitas Airlangga Official Website

Seminar Nasional: Pemahaman Semiotika dan Analisis Wacana

Penyampaian materi oleh Dr. Sa’datun Nishfullayli

FIB NEWS – Departemen Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) sukses menggelar seminar nasional bertajuk “Semiotika dan Analisis Wacana Dalam Media Jepang” pada Jumat (18/10/2024). Seminar yang diadakan di Ruang Siti Parwati tersebut menghadirkan tiga pembicara utama, yaitu Himawan Pratama Ph.D, Dr. Sa’idatun Nishfullayli, serta Antonius R. Pujo Purnomo, Ph.D.

Pemaparan Semiotika oleh Himawan Pratama Ph.D

Pada seminar nasional tersebut, Himawan Pratama, sebagai salah satu pembicara utama mempresentasikan hal-hal mendasar semiotika. Beliau menginterpretasikan semiotika melalui mazhab kulturalis dan pragmatis sebagai perangkat untuk mempelajari hubungan tanda dan makna yang bersifat kultural dan subjektif, serta membutuhkan kepekaan terhadap budaya untuk menjawab pertanyaan mendalam mengenai penelitian semiotika.

Tak hanya memaparkan kajian teoritis, beliau juga memberikan bagaimana penerapan semiotika dalam kajian representasi budaya di Studi Jepang, terutama dalam kajian sastra serta linguistik. 

“Jangan anggap remeh objek-objek untuk penelitian semiotika, sebagai mahasiswa harus bisa berpikir bagaimana menyikapi objek tersebut menjadi kajian dalam persepsi semiotika,” pungkasnya.

Contoh penerapan semiotika juga disampaikan oleh Antonius R. Pujo Purnomo sebagai komentator. Beliau menyebutkan contoh penerapan semiotika dengan pemaknaan warna merah bagi negara Jepang, China, dan Korea sebagai warna keberuntungan, tetapi di sisi lain warna merah juga bisa bermakna sebagai warna peringatan dalam tanda-tanda lalu lintas. “Representasi tanda dan makna dalam semiotika ini tergantung pada budaya yang melatarinya,” imbuhnya.

Penyampaian materi oleh Himawan Pratama, Ph.D

Pemaparan Analisis Wacana oleh Dr. Sa’idatun Nishfullayli

Selain Himawan Pratama, Dr. Sa’idatun Nishfullayli juga turut mempresentasikan materinya sebagai pembicara dalam seminar nasional tersebut mengenai analisis wacana melalui teori Systemic Functional Linguistics (SFL). 

Pada presentasinya, beliau menguraikan konsep SFL yang merujuk pada pendekatan linguistik untuk mengartikulasikan kegunaan bahasa dalam interaksi sosial. Tiga metafungsi bahasa yang diusung SFL, yakni ideasional, interpersonal, dan tekstual  juga berguna sebagai dasar teoritis dalam melakukan analisis wacana.

“Konteks situasi mempengaruhi bahasa yang digunakan dalam menyusun makna. Sebagai contoh, orang-orang Jepang seringkali menyampaikan makna sebenarnya dalam balutan kode dari struktur kalimat yang digunakan, tidak mengatakannya secara gamblang tetapi memiliki maksud seperti itu,” jelasnya.

Beliau juga mengingatkan untuk menggunakan data faktual dalam melakukan penelitian analisis wacana. “Sesuai etika penelitian, sebaiknya menggunakan data faktual. Karena dasar penelitian harus merepresentasikan keadaan yang sebenarnya,” tuturnya.

Seminar nasional ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

Penulis: Tarisha Faradis