UNAIR NEWS – Kepemimpinan adaptif menjadi salah satu kunci perusahaan untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri. Direktur PT Garudafood, Ruli Setiawan S L Tobing, membagikan perjalanan Garudafood dalam membangun bisnis hingga dapat menjangkau pasar global pada kegiatan TRANS7 Mengajar. Acara tersebut berlangsung pada Kamis (24/9/2026) di Auditorium Candradimuka, GKB Kampus C – MERR UNAIR.
Beradaptasi untuk Bertahan
Ruli mengungkapkan bahwa Garudafood telah beroperasi selama 36 tahun. Bermula dari UMKM penjual kacang di Pati pada tahun 1990, perusahaan kini memproduksi beragam makanan dan minuman dengan omzet mencapai Rp. 50 miliar per hari.
“Garudafood harus terus menyiasati persaingan pasar domestik. Kami selalu terbuka dengan hal-hal baru dan terus mengkaji apakah yang kami lakukan masih relevan untuk kedepannya,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar di industri fast-moving consumer goods (FMCG) adalah pemerataan distribusi. Untuk menjangkau jutaan toko di seluruh Indonesia, Garudafood memadukan armada dan inovasi digital.
“Setiap sales dilengkapi aplikasi Sales Force Automation (SAM) yang memberikan panduan serta rekomendasi promo untuk efektivitas penjualan di toko. Selain itu, ada juga aplikasi Barangkulakan agar pemilik toko dapat memesan produk secara mandiri,” ujarnya.
Mentalitas Dasar dan Visi Berkelanjutan
Lebih lanjut, Ruli juga memaparkan bahwa keberhasilan Garudafood ditopang oleh Holistic Model dan mentalitas dasar perusahaan. Di Akhir, ia menyampaikan pesan bahwa keberlangsungan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh strategi bisnis, namun juga manajemen sumber daya manusia.
“Kunci kami bisa bertahan selama 36 tahun adalah fundamental dan spirit untuk mencapai visi ke depan. Kami sadar kami selalu berproses untuk tumbuh. Sukses itu lahir dari keuletan dan ketekunan, dan pastinya harus diiringi dengan doa,” pungkasnya.
Penulis : Maulya Afifah Zahra
Editor : Khefti Al Mawalia





