Universitas Airlangga Official Website

Waspada Ancaman Pedet: Mahasiswa PPDH FKH UNAIR Temukan Telur Cacing Toxocara vitulorum pada Sapi Potong di Gresik

Surabaya, 24 Juli 2026– Kesehatan ternak merupakan fondasi utama dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis protein hewani di Indonesia. Menyadari urgensi tersebut, mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 45 Tandem 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH UNAIR) kembali melakukan aksi nyata melalui kegiatan turun lapang. Berpusat pada pemeriksaan parasitologi veteriner, kegiatan ini menghasilkan temuan krusial terkait ancaman kesehatan yang mengintai produktivitas peternakan sapi di wilayah Jawa Timur.

Rangkaian investigasi ini diawali dengan kegiatan pengambilan sampel secara langsung pada tanggal 24 Juli lalu di Kabupaten Gresik. Sebagai salah satu sentra peternakan dan penyuplai kebutuhan daging yang vital di Jawa Timur, peternakan rakyat di Gresik memerlukan pemantauan kesehatan hewan yang berkesinambungan. Tim mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 3 terjun langsung berinteraksi dengan para peternak lokal, melakukan anamnesa terkait riwayat kesehatan ternak, serta meninjau kondisi sanitasi lingkungan kandang yang sehari-hari menjadi habitat sapi-sapi tersebut.

Dalam proses pengambilan sampel, tim bekerja dengan standar operasional prosedur (SOP) klinis yang ketat. Sampel feses segar diambil langsung dari feses yang baru saja diekskresikan (freshly dropped) untuk menghindari kontaminasi silang dari organisme tanah (pseudoparasit) dan memastikan telur cacing di dalamnya masih dalam kondisi representatif. Sampel-sampel tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah khusus berpendingin (cool box) agar morfologi parasit tetap terjaga hingga proses analisis dilakukan.

Tiba di Laboratorium Parasitologi Veteriner FKH UNAIR di Surabaya, sampel feses asal Gresik ini langsung diproses menggunakan teknik diagnostik gold standard untuk

 

pemeriksaan sampel feses. Tim mahasiswa PPDH mengaplikasikan dua metode utama, yakni metode sedimentasi untuk mendeteksi telur cacing trematoda yang berat, serta metode apung (flotation method) menggunakan larutan gula jenuh atau garam untuk mengapungkan telur nematoda yang massa jenisnya lebih ringan.

Di bawah lensa mikroskop dengan perbesaran 400x, kecurigaan klinis tim akhirnya terbukti. Pada preparat feses sapi tersebut, teridentifikasi keberadaan telur cacing Toxocara vitulorum. Telur ini memiliki morfologi khas yang sangat mudah dikenali oleh ahli parasitologi: berbentuk sub-globular hingga sferis, memiliki dinding cangkang yang tebal, dan permukaan luarnya bertekstur kasar atau berbintik halus (finely pitted), berisi sel ovum yang belum membelah.

Penemuan Toxocara vitulorum, cacing gilig berukuran besar dari famili Ascarididae, merupakan peringatan keras bagi manajemen kesehatan peternakan setempat. Spesies ini dikenal sebagai salah satu nematoda gastrointestinal yang paling merugikan bagi ternak ruminansia, khususnya sapi dan kerbau. Patogenitas parasit ini menargetkan kelompok usia yang paling rentan, yaitu pedet (anak sapi) yang berusia di bawah enam bulan.

Pada pedet yang terinfeksi berat, ukuran cacing dewasa yang bisa mencapai panjang puluhan sentimeter dapat menyumbat saluran usus halus. Gejala klinis yang ditimbulkan sangat merugikan peternak, mulai dari diare dengan bau menusuk (steatorrhea), hilangnya nafsu makan, kekurusan yang ekstrem, perut yang membesar tidak proporsional (pot-belly), rambut yang kusam, hingga risiko kematian mendadak akibat ruptur (pecahnya) usus. Bagi peternak rakyat, kehilangan pedet berarti hilangnya investasi jangka panjang, yang secara langsung memukul kondisi ekonomi mereka.

Hal yang membuat Toxocara vitulorum sangat persisten di peternakan adalah siklus penularannya yang unik dan sangat efisien. Infeksi tidak hanya terjadi secara horizontal ketika pedet menelan telur infektif dari lingkungan kandang yang kotor (fecal-oral). Infeksi yang paling mematikan justru terjadi secara vertikal melalui metode transmammary. Larva cacing yang bersembunyi (dorman) di dalam jaringan tubuh induk sapi yang sedang bunting, akan aktif kembali akibat perubahan hormonal saat proses melahirkan, dan kemudian bermigrasi ke kelenjar ambing. Akibatnya, pedet akan langsung tertular larva cacing saat meminum air susu (kolostrum) pertama dari induknya.

Merespons temuan laboratorium yang valid ini, tim mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 3 tidak berhenti pada diagnosis di atas kertas. Mereka merumuskan strategi

 

penanganan kuratif dan preventif untuk diedukasikan kembali kepada peternak di Gresik. Edukasi tersebut mencakup perbaikan tata laksana sanitasi kandang untuk memutus rantai hidup parasit di lingkungan, serta penerapan program deworming (pemberian obat cacing) yang strategis. Tim PPDH merekomendasikan pemberian anthelmintik yang aman, baik bagi sapi indukan menjelang masa partus (melahirkan) untuk mencegah transmisi vertikal, maupun pemberian obat cacing pada pedet di usia kritis (10-14 hari pasca kelahiran).

Langkah proaktif dari mahasiswa PPDH FKH UNAIR ini merupakan manifestasi dari moto Manusya Mriga Satwa Sewaka, yakni menyejahterakan manusia melalui kesehatan hewan. Lebih jauh lagi, integrasi antara investigasi lapangan, diagnosis presisi di laboratorium, dan edukasi masyarakat ini sangat selaras dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang digaungkan oleh PBB.

Secara spesifik, penanganan kasus parasitologi pada ternak potong ini berdampak langsung pada SDG 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger). Dengan menyelamatkan pedet dari kematian akibat cacingan dan meningkatkan Body Condition Score (BCS) ternak, produktivitas daging di Gresik dapat diamankan untuk mendukung ketahanan pangan. Di sisi lain, kegiatan ini juga memperkuat SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui implementasi pendekatan One Health, di mana kesehatan lingkungan kandang dan kesehatan hewan dijaga secara komprehensif. Terakhir, seluruh proses ini adalah cerminan utuh dari SDG 4: Pendidikan Bermutu (Quality Education), karena program PPDH memfasilitasi mahasiswa kedokteran hewan dengan experiential learning tingkat tinggi, memastikan mereka lulus tidak hanya dengan kecakapan teoretis, tetapi juga keterampilan teknis klinis yang siap diaplikasikan demi kemajuan masyarakat luas.

Penulis: Dimas Putro Wahyudanto (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 3)

Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)